Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
36. Masa lalu Sinta (5)


__ADS_3

Bagaikan disambar petir ucapan dari ibunya membuat Sinta menjadi semakin histeris. Tangan ibunya yang membelai rambutnya dengan lembut kini jatuh ke tanah di hadapannya. Sinta memeluk ibunya yang kini sudah terbujur kaku, ibunya menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah tersenyum.


Ayah Sinta yang melihat dari kejauhan mulai meneteskan air mata. Perasaan sedihnya tak bisa dibendung lagi, kehilangan sosok wanita yang ia cintai sungguh membuat hatinya menjadi sakit. Namun sesuai takdir yang berlaku dimana ada pertemuan di situ pula akan ada perpisahan. Suara anaknya terus memanggilnya meminta dirinya untuk secepatnya ke tempat istrinya berada.


Dia kemudian merayap dengan sisa-sisa tenaga yang berusaha dia kumpulkan. Pelan tapi pasti dia terus merayap untuk mendekati istri serta anaknya berada. Rasa sakit di badannya seolah-olah hilang dan digantikan oleh perasaan sedih yang tiada tara. Tidak lama kemudian dia sampai di tempat istrinya berada, dia memegang tangan istrinya yang kini sudah terasa dingin seraya berucap, “Maafkan kanda, ini semua salah kanda” tangisannya pun pecah saat memandangi wajah istrinya.


“Ayah, ibu ayah”, ucapan itu terus diulangi oleh Sinta ketika ayahnya sudah berada di dekatnya. Karena terlalu syok akhirnya Sinta pingsan di samping ibunya dengan tangan masih menggenggam erat tangan ibunya.


“Dinda... Kanda minta maaf, kalau bisa biarkan kanda saja yang menggantikan tempat mu”, ayah Sinta terus menangis dan kemudian memeluk istrinya. Dia masih tidak rela kekasih hatinya pergi meninggalkan dia beserta anaknya. “Kanda berjanji akan menjaga Sinta sebaik mungkin, tenanglah disana dinda”, begitulah ucapan terakhir ayah Sinta kepada istrinya sambil mengecup kening istrinya untuk terakhir kali.


Dia kemudian meraih Sinta untuk memeluknya, dia berharap kepada dewa agar istrinya ditempatkan di tempat sebaik-baiknya. Walaupun hatinya masih tidak terima namun akhirnya dia rela dengan takdir yang telah berlaku. Tiba-tiba pandangannya kembali gelap dan tidak lama kemudian dia ikut pingsan di samping istrinya sambil memeluk Sinta.


Suara pertarungan di kediaman Sinta membuat warga terbangun dari tidur nyenyaknya. Mereka yang terbangun dan mendengar hal itu berpikir malam itu ayah Sinta sedang melatih murid silatnya. Namun suara teriakan dari setan merah akhirnya menyadarkan mereka bahwa sesuatu yang tidak baik telah terjadi di kediaman ayah Sinta. Para warga kemudian melapor pada ketua kampung yang segera disampaikan pada warga yang lain.

__ADS_1


Para warga kemudian berbondong-bondong keluar dari rumahnya dan bergerak menuju kediaman ayah Sinta untuk memastikan apa yang terjadi. Sesampainya di pintu gerbang rumah ayah Sinta bau amis darah mulai tercium, ketika pintu gerbang dibuka bau amis darah itu seperti menyerang indera penciuman warga yang datang untuk melihat. Begitu menyengat, tidak sedikit warga yang kini wajahnya menjadi pucat serta beberapa dari mereka kemudian muntah karena tidak kuat menghirup udara malam itu yang bercampur dengan bau amis darah.


Kemudian warga yang masih mampu bertahan memasuki kediaman itu lebih dalam, kini tidak hanya bau amis darah namun mereka melihat mayat-mayat tergeletak tak bernyawa. Para warga kemudian memeriksa salah satu mayat dan saat menyadari mereka telah dibunuh. Ketua kampung yang mendengar laporan itu memerintahkan agar mencari keberadaan ayah dan ibunya Sinta. Para warga kemudian berpencar dan tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka menemukan keberadaan pemilik dari kediaman itu.


“Paman... Paman... Gawat! Paman Rama disana dia....”, seorang warga berlari untuk melaporkan apa yang telah ia lihat. Dengan wajah pucat pasi dia berlari menuju ke arah ketua kampung. Ketua kampung yang melihatnya heran karena wajahnya yang seperti itu seolah-olah sedang dikejar hantu.


“Tenang, tenang. Apa yang terjadi? Apa kau sudah menemukan dimana tuan Rama berada?”, ketua kampung bertanya kepada warga yang berlari ke arahnya. Warga itu kemudian bercerita dia telah menemukan keberadaan ayah serta ibunya Sinta. Namun saat akan mendekat tiba-tiba ada dua orang berpakaian serba hitam datang ke arah mereka. Orang-orang itu kemudian menyerang para warga, warga yang diserang tidak tinggal diam dan balas mengangkat senjata mereka.


“Paman... Ayo kita membantu warga yang lain”, pinta warga tadi kepada ketua kampung. Mendengar laporan itu ketua kampung lantas menggerakkan seluruh warga untuk menuju ke tempat yang telah diketahui. Dua orang penyerang sedang melawan beberapa warga, walaupun hanya berdua tapi mereka adalah seorang pendekar dan tidak terlalu menyusahkan melawan warga ini. Namun saat seluruh warga yang dipimpin ketua kampung datang mereka akhirnya memutuskan lari dari tempat itu, kalau tidak nyawa mereka juga akan terancam.


Melihat para penyerang melarikan diri ketua kampung meminta sebagian warga untuk mengejar penyerang itu dan sebagian lagi memeriksa keadaan ayah dan ibunya Sinta. Mereka mendekat untuk memastikan keadaan orang tua Sinta, dan kemudian menyadari bahwa salah satu dari keluarga itu telah wafat. Ketua kampung memejamkan matanya sambil menghembuskan nafas pelan, “Tolong urus mayat yang lain, siapkan pemakaman yang layak pagi esok. Dan beberapa dari kalian tolong bawa dan rawat tuan Rama beserta anaknya sampai mereka sadar”, perintah ketua kampung segera dilaksanakan warga.


Para warga tidak menyangka bahwa telah terjadi hal buruk yang menimpa keluarga ini. Keluarga yang mereka hormati dan disegani, keluarga yang tidak akan pernah berkata tidak jika seseorang butuh pertolongan. Perasaan sedih muncul di benak setiap warga yang menyaksikan kejadian malam itu. Mereka sangat menyayangkan kejadian ini, dan pastinya mereka merasa kasihan kepada Sinta yang masih kecil namun telah kehilangan ibu tercintanya.

__ADS_1


*


Bik Sekar terdiam mendengar cerita dari Sinta, dia tidak menyangka bahwa kisah masa kecil Sinta begitu pedih dan pahit. Bik Sekar kemudian menoleh ke arah Sinta yang kini juga ikut diam dengan tatapan kosong ke depan. Keduanya kini telah sampai di pantai yang berada di sekitar kampung mereka.


Hembusan angin menemani keberadaan mereka di pantai itu, begitu segar dan menenangkan. Namun bik Sekar tahu bahwa Sinta sekarang tengah dilanda rasa sedih, itu terlihat jelas dari raut wajahnya dan matanya yang mulai berkaca-kaca. Bik Sekar kemudian memutuskan untuk berbicara agar suasana kembali cair.


“Non, disana ada tempat yang bagus untuk kita duduk. Mari kita duduk disana non”, ajak bik sekar kepada Sinta.


Sinta yang awalnya terlihat seperti bengong karena larut dalam ingatannya tersadar oleh suara bik Sekar. Di mengusap matanya yang berkaca-kaca, tidak ingin meneteskan air matanya lagi. Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri harus kuat menerima dan menjalani takdir yang telah ditetapkan untuknya.


“Mari bik”, jawab Sinta sambil tersenyum hangat. Bik sekar kemudian menggandeng tangannya dan mereka akhirnya berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh bik Sekar tadi.


Saat keduanya sampai mereka langsung duduk, bik Sekar membantu Sinta ke posisi duduk yang membuat Sinta nyaman mengingat perut Sinta yang besar. Bahkan untuk duduk saja dia agak kesusahan, Sinta yang menerima bantuan itu lantas tersenyum, “Terima kasih bik, aku tidak menyangka akan sampai disini dengan kondisi ku sekarang”, Sinta berucap setelah dia duduk.

__ADS_1


“Sama-sama non, kita beristirahat dulu sebentar disini”, balas bik Sekar dan kemudian duduk di sebelah Sinta. Meraka akhirnya menikmati pemandangan yang disuguhkan alam saat ini.


 


__ADS_2