Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
40. Perang dimulai (2)


__ADS_3

“Menteri, aku akan maju ke medan perang membawa pasukan berkuda kita”, pria misterius meminta izin kepada menteri Balda untuk maju menyerang. Menteri Balda hanya diam, pikirannya masih terfokus pada pertempuran yang tengah terjadi. Mengingat di pihak lawannya ada seseorang yang memiliki akal dan siasat yang mumpuni, rasa khawatir kemudian menyerang menteri Balda.


“Menteri tidak perlu khawatir, kami akan memberi kematian yang cepat kepada lawan kita”, pria misterius terus mencoba untuk meyakinkan menteri Balda dengan pendiriannya.


Menteri Balda lalu menoleh ke arah pria misterius, “Serang mereka sekuat mungkin, jangan sampai ada yang tersisa!”, titah dari menteri Balda.


Mendengar perintah itu pria misterius pergi menuju pasukan berkudanya berada.  Suara terompet langsung dibunyikan sebagai tanda penyerangan pasukan berkuda pimpinan pria misterius. Mereka memacu kudanya secepat mungkin agar sampai ke Medan laga untuk membantu pasukan kerajaan Adipura.


Dalam kacaunya peperangan Aryo dan Subani dapat melihat pergerakan dari pasukan berkuda lawannya. Aryo tersenyum, semuanya berjalan sesuai rancangan yang telah disusun oleh Patih Purno. Lantas dia mulai berteriak di tengah-tengah medan perang, “Mundur secara perlahan!”, Aryo memberikan perintah yang segera dilakukan oleh setiap pasukannya.


Pasukan pemberontak lantas mundur teratur, pasukan kerajaan Adipura yang melihat hal itu lantas keheranan. Tadinya pasukan pemberontak berhasil membuat mereka kewalahan namun sekarang mereka mundur dari medan perang secara perlahan.


“Jangan biarkan mereka lolos!”


“Kalian tidak akan pergi kemana-mana!”


“Mati kau!”


Seorang Patih dari kerajaan Adipura hendak menebas leher dari lawannya, namun tebasan itu tidak pernah sampai dikarenakan lehernya lah yang terlebih dahulu tertebas oleh pedang Aryo. Patih itu memandang sosok yang telah menyerangnya, dengan mata melotot sambil menahan cucuran darah dari luka di lehernya.

__ADS_1


“Maaf paman, aku harus membunuh mu”, Aryo mengenali Patih itu yang tidak lain adalah Patih yang bersamanya saat hari terakhir dia menjadi raja kerajaan Adipura. Aryo tidak menyangka akan bertemu dengannya, namun dia juga tidak menyangka pertemuan mereka berakhir dengan saling menjadi musuh dalam perang.


Patih itu menundukkan pandangannya kepada Aryo, “Maa—maa—afff...”, suaranya tidak terdengar jelas karena darah mulai memenuhi tenggorokannya. Aryo sempat linglung saat melihat Patih yang dulu melindunginya justru sekarang harus meregang nyawa karena serangannya. “Aku akan memberi paman kematian yang terhormat”, dengan setengah hati Aryo memegang pedangnya dengan kedua belah tangan berniat menusuk lawannya.


Patih itu memandangi wajah Aryo yang dulu pernah dia lindungi, walaupun sedikit berubah namun dalam sekejap mata saja dia dapat mengenalinya dengan jelas. Tidak ada lagi wajah riang dari rajanya yang dulu, sekarang ekspresi dari Aryo hanya terdapat ketegasan. Patih itu tersenyum dan kemudian merelakan apa yang terjadi berikutnya.


Aryo menusukkan pedangnya tepat di jantung Patih itu berada, dalam sekejap tusukannya telah membuat lawannya kehilangan nyawa hari itu. “Semoga dewa menuntun paman di atas sana”, Aryo begitu terpukul, dalam perang kita akan banyak menemui kematian dimana-mana. Namun ketika kehilangan sosok terdekat dalam perang hanyalah ajang penderitaan yang tidak akan ada habisnya.


*


Subani melihat aksi yang telah dilakukan oleh Aryo, dia dapat melihat kesedihan dari teman perjuangannya ketika telah membunuh salah satu dari lawannya barusan. Subani lantas beranjak dari tempatnya untuk mendekat ke tempat Aryo berada. Ketika jaraknya sudah hampir dekat dengan Aryo, instingnya mengatakan bahwa ada bahaya dari arah belakangnya.


Benar saja tidak lama kemudian sebuah pisau terbang menuju dirinya dari arah belakang. Pisau itu melaju cepat di udara, namun dengan gerakan bak seperti monyet, Subani mampu menghindari pisau itu. Pisau  yang berhasil dia hindari lantas terus melaju dan mengenai salah satu pasukan pemberontak tepat di dadanya, membuatnya terlempar ke belakang karena kuatnya energi dari pisau itu.


“Ternyata orang ini yang telah dibicarakan oleh Purno di dalam rapat, aku tidak bisa membiarkannya saja”, Subani mengambil ancang-ancang untuk menyerang lawannya, sedangkan lawannya juga bersiap-siap melakukan duel diantara mereka. Dengan segera keduanya berlari menuju ke depan dan duel pun akhirnya tak terelakkan.


Subani dengan tangan kosongnya terus menangkis setiap serangan lawannya yang menggunakan dua buah pisau sebagai senjatanya. Pertukaran serangan terjadi diantara keduanya, membuat suasana perang semakin meriah dengan duel mereka. Setiap serangan dari lawannya menggunakan kekuatan fisik yang luar biasa, sesuai dengan informasi yang dia dapatkan dari rekannya bahwa kekuatan orang itu tidak dapat diremehkan.


“Benar yang dikatakan oleh Purno, kekuatan fisik orang ini setara dengan pendekar serigala tingkat 5. Jika terdapat banyak lawan seperti ini akan menjadi masalah nantinya”, Subani berkomentar di dalam hatinya. Satu saja sudah dapat membunuh banyak, apalagi jika ada ratusan bahkan ribuan. Mungkin kata kemenangan tidak akan mereka raih hari ini.

__ADS_1


Tidak ingin berlama-lama, dia kemudian melancarkan sebuah pukulan kepada lawannya. Lawannya mencoba menghindari pukulan itu namun gerakannya terbaca, pukulan Subani tadi hanyalah umpan untuk memancing lawannya ke dalam jebakan yang telah dia buat. Dengan cepat pukulan itu berubah menjadi sebuah tendangan yang tidak terduga menuju ke perut lawannya, lawannya yang tidak menduga hal itu terlambat bereaksi. Sebuah tendangan dari Subani sekarang mendarat di perutnya tepat di ulu hati membuatnya terjatuh ke tanah.


Lawan dari Subani lantas mengerang kesakitan karena serangan tak terduganya, Subani tidak akan melewatkan kesempatan yang telah di dapatkan. Dia kemudian bergerak maju untuk menuntaskan duel diantara keduanya, “Jurus kuncian monyet”, dengan gerakan cepat Subani kini telah mengunci gerakan lawannya.


Lawannya yang tadi masih dalam kondisi menahan sakit di perutnya kini harus di buat tak berkutik oleh jurus dari Subani. Pandangannya mulai gelap karena Subani mengunci gerakan lawannya tepat di lehernya, membuatnya kesusahan dalam bernafas. Tubuh lawannya mengejang karena itu dan tidak butuh waktu lama lawan Subani akhirnya harus meregang nyawa di tangannya.


Selesai dengan duel singkatnya lantas Subani langsung berdiri dan menghampiri Aryo yang sedang melawan pasukan lawan mereka. Subani lantas membantu Aryo dan kombinasi mereka berhasil menekan pergerakan lawannya yang ingin merengsek maju ke depan. Dengan kombinasi itu para lawannya menjadi ciut untuk maju, melihat para rekannya dengan mudah dilumpuhkan bahkan tewas membuat semangat mereka turun drastis.


________________________________________________


 


Terima kasih kepada pembaca setia pendekar pedang dewa naga yang selalu memberikan support kepada saya untuk terus berkarya. Terima kasih atas dukungan serta komentar anda, hal itu saya perlukan agar cerita saya menjadi lebih bagus ke depannya.


Buat para pembaca yang masih membaca dari episode 1-10, maaf jika di episode itu terlihat tampak membosankan. Jujur disitu saya masih belajar cara penulisan, setelah beranjak sampai ke episode 20 ke atas akhirnya saya mendapatkan ide untuk penulisan supaya lebih menarik.


Maaf jika cerita saya kurang menarik bagi anda dan cara penulisannya tidak terlalu bagus dengan novel-novel yang lain. Dan saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca yang telah memberikan like di setiap episode yang anda sukai ceritanya. Itu sungguh sangat bermakna bagi saya pribadi, saya sebagai author novel pendekar pedang dewa naga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2