
“Apa yang dilakukan mereka berdua?!”, Patih Purno bertanya-tanya dalam hatinya ketika melihat Aryo dan Subani yang berhenti dan bertengkar saat rencana mundur yang telah direncanakan sedang berlangsung. “Ini buruk, waktu yang diperlukan tidak ada lagi!”, umpatnya dalam hati.
Patih Purno melihat jelas jarak antara kedua rekannya dengan pasukan berkuda musuh telah dekat. Dengan berat hati dia memerintahkan kepada pria sepuh untuk melepaskan anak panah ke arah pasukan berkuda lawan. Tidak menunggu lama pria sepuh memberi aba-aba pada pasukan pemanahnya, “Sekarang!!!”, perintah pria sepuh.
Ribuan anak panah terlepas dari busurnya dan melayang di atas udara menuju ke arah lawannya. Patih Purno memerintahkan agar panah tersebut harus ditujukan ke barisan belakang dari pasukan berkuda lawan. Karena debu yang menghalangi pandangan lawan, akhirnya panah-panah itu dengan cepat terjun dan menghabisi pasukan lawan yang berada di belakang.
Karena keteledoran dari pria misterius membuat pasukannya menjadi kocar-kacir, pasukan di depan yang bersamanya tidak terkena dampak dari anak panah lawan. Namun barisan di belakang telah menerima serangan telak dari anak panah lawan tadi.
“Gawat!!!”, gerutu pria misterius melihat pasukannya berguguran karena serangan lawan. Dia mengutuk perbuatan lawannya tersebut, “Jangan berhenti! Terus maju”, pasukan yang masih bisa menunggangi kuda mereka terus maju ke depan mengejar pasukan pemberontak yang sedang mundur.
“Pasukan kuda besi maju!!!”, teriak Patih Purno kepada pasukan berkudanya. Patih Purno ikut maju bersama pasukannya untuk menghadapi pasukan berkuda lawan, saat jarak mereka hampir dekat tanpa komando pasukan berkudanya memecah menjadi 3 arah. Strategi ini digunakannya untuk mengapit pasukan berkuda lawan, walaupun tampak kelihatan remeh namun strategi ini nyatanya berhasil.
Pertemuan antara kekuatan berkuda dari kedua pasukan yang tengah berperang akhirnya terjadi. Kuda-kuda saling bertabrakan, senjata saling bertemu, dan prajurit yang menjadi korban jatuh ke tanah bersamaan dengan kudanya. Suasana itu tidak kalah hebat dari pertarungan sebelumnya, dengan keahlian berkuda pasukannya Patih Purno berhasil melibas siapa saja yang ditemuinya.
Tombaknya dengan cepat menusuk dan menebas lawannya, sementara lawannya kesusahan dalam menghadapi serangan mengapit dari pasukannya. Kudanya terus melaju ke depan tanpa ada yang bisa menahannya, ini dikarenakan kuda yang ditungganginya merupakan kuda terbaik yang memang dikhususkan untuk dibawa ke medan perang.
Dalam riuhnya suasana perang Patih Purno dihampiri seseorang yang datang dengan kudanya. Patih Purno melihat kedatangan orang itu, namun hal yang mengejutkannya adalah ada sebuah tali yang diikat di kudanya dan ujung tali satunya mengikat kaki pemuda yang mengenakan pakaian serba merah dengan sarung melingkar di pinggangnya. Patih Purno menghela nafas pelan, akhirnya dia tahu alasan dari pertengkaran kedua rekannya barusan.
__ADS_1
“Pantas saja mereka berhenti tadi, ternyata salah satu pasukan yang dibawa Subani telah menjadi korban kekejaman orang ini”, Batin Patih Purno berbicara. Orang itu tidak lain adalah pria misterius, dia datang menemui Patih Purno berniat ingin berduel dengannya.
*
“Harus aku akui kau sangat pandai mengatur strategi, tapi ini tidak akan berjalan sesuai rencana mu lagi!”, pria misterius mulai berbicara kepada Patih Purno yang ditanggapinya dengan senyuman.
“Apa yang membuat engkau begitu yakin bahwa rencana kami akan gagal?”, Patih Purno bertanya kepada lawannya.
“Pasukan di belakang kami dengan jumlah besar akan datang dan membantu kami, hanya tinggal masalah waktu semua rencana kau akan musnah!”, gerutu pria misterius kepada lawannya karena sangat kesal.
Para prajurit beradu kekuatan dengan lawan-lawannya, tidak peduli dengan rekan di sekitarnya yang telah gugur. Prajurit yang menjadi korban terus-menerus berguguran, luka-luka bekas tebasan atau tusukan menganga lebar dan terus mengeluarkan darah. Tidak sedikit prajurit yang mati akibat kehabisan darah akibat luka mereka, karena kacaunya suasana perang membuat teman mereka sendiri tidak bisa menolong mereka.
Sudah cukup lama duel antara Patih Purno dan pria misterius berlangsung. Keduanya terus bertukar serangan dengan nafsu membunuh tertuju kepada lawannya masing-masing. Patih Purno dengan keahlian tombaknya berhasil mendominasi serangan, pola serangan yang dia lancarkan begitu rumit dan berbahaya. Sedikit saja membuat celah dengan cepat tombak itu akan menargetkan celah itu.
Pria misterius dengan pengalaman pertarungannya sebagai pendekar sebenarnya mampu untuk menandingi serangan lawannya, walaupun lawannya saat ini mendominasi serangan namun dia mampu bertahan dengan kemampuan yang ia miliki. Tapi tidak beberapa lama akhirnya serangan lawannya menjadi rumit untuk dia tahan, karena jangkauan dari tombak lawannya yang panjang membuat pertarungan akhirnya tidak seimbang dan berakibat berat sebelah.
“Kemana pasukan bantuan yang berada di belakang?”, batin pria misterius berbicara. Sudah cukup lama sejak pertarungan diantara mereka berlangsung namun bantuan tidak kunjung datang.
__ADS_1
Melihat gelagat lawannya yang seperti tengah memikirkan sesuatu dan tanpa sadar membuat celah akhirnya membuat Patih Purno memanfaatkan kesempatan itu. Dia kemudian menaikkan tempo serangannya menjadi lebih cepat dan kini mengincar ke arah titik vital lawannya.
“Bajingan!”, pria misterius mengumpat karena serangan kejutan dari lawannya. Terlambat sedetik saja dia menangkis serta menghindar maka nyawanya pasti akan melayang hari ini. Dia memegangi telinganya yang terus mengeluarkan darah akibat terkena serangan dari lawannya.
“Bedebah!!! Pengecut!!! Apa kau selemah itu menyerang di saat lawan kau belum siap!?”, pria misterius menatap tajam ke arah Patih Purno sambil memegangi telinganya. Rasa sakit mulai menyerang di telinganya yang terluka, umpatan demi umpatan kasar dia tujukan kepada Patih Purno sekarang.
“Aku bukan seorang pendekar seperti kalian, tugas sebagai prajurit menuntut kami harus menang dengan cara apapun bahkan memanfaatkan kelemahan lawan”, balas Patih Purno sambil memainkan tombaknya. “Jika ada kesempatan mengapa harus disia-siakan”, lanjutnya dengan senyum mengejek ke arah lawannya.
“Bajingan licik!!!”, pekik pria misterius kepada Patih Purno. Patih Purno tertawa lepas mendengar makian dari lawannya kepada dirinya. Sekarang lawannya sudah tersulut emosi, membuatnya yakin tidak butuh waktu lama lagi untuk mengakhiri duel diantara mereka.
“Bukan licik tapi cerdas, kau harus belajar dalam memilih kata-kata yang tepat untuk orang seperti ku”, Patih Purno terus berusaha membuat lawannya marah dengan kata-kata yang dia lontarkan. Usahanya tidak sia-sia, tidak butuh waktu lama dia dapat merasakan nafsu membunuh terarah kepadanya, “Amarah akan membuat kau buta untuk melihat ke depannya”, Patih Purno kembali berucap.
Perkataannya tidak dihiraukan oleh lawannya, lawannya kini dengan amarah yang membara-bara lantas melompat dari kudanya dan menyerang Patih Purno dengan brutal. Patih Purno yang awalnya tenang kini dibuat terkejut, serangan lawannya membuatnya harus menahan nafas saat tombaknya mencoba menahan pedang dari lawannya.
_______________________________________________
Jangan lupa like dan terus ikuti cerita pendekar pedang dewa naga :)
__ADS_1