
Pasukan berkuda pimpinan Patih Purno dengan cepat berhasil menerjang pasukan bala bantuan musuh. Pasukan musuh yang baru saja menahan serangan ribuan anak panah tidak bisa berbuat banyak, kini formasi mereka langsung berantakan dan terpecah karena terjangan pasukan berkuda pimpinan Patih Purno.
Patih Purno dan pasukannya tidak melewatkan kesempatan yang telah ia rencanakan dengan matang, pasukan musuh yang berada di depan mereka kini menjadi sasaran empuk dari tombak-tombak mereka. Dengan mudah mereka menghabisi setiap prajurit musuh yang berada di jarak jangkauan serangan mereka.
Hal itu disaksikan prajurit lawan yang belum menyeberangi tanah yang menjadi lautan mayat kuda, mereka tidak mendapat satupun serangan dari anak panah lawan. Namun rekan-rekan mereka yang sedang berjalan melewati lautan mayat kuda itu bernasib sangat buruk. Tidak jarang ada lebih dari sepuluh anak panah yang menancap di tubuh rekan-rekan mereka, sebuah pemandangan yang mengerikan.
Belum lagi pasukan yang berada di seberang lautan mayat kuda, mereka kini menjadi korban dari keganasan pasukan berkuda pimpinan Patih Purno. Rekan-rekannya mencoba berlari menjauh namun itu semua sia-sia, Patih Purno memerintahkan agar semua pasukannya harus menghabisi sisa-sisa pasukan yang telah menyeberangi lautan mayat kuda.
“Mereka semua dibantai”
“Aku tidak akan pergi kesana!”
“Hei!!! Pimpinan kita ada di depan, cepat menyeberang kita bantu rekan-rekan kita!”
“Aku masih menyayangi nyawaku, kau lihat apa yang terjadi disana?!, Mereka semua sudah tamat! Jika kita maju, nasib kita berikutnya tidak akan jauh dengan mereka”, seorang Patih dari pasukan bala bantuan mengeluarkan pendapatnya saat para patih-patih yang lain saling bertengkar dengan situasi saat ini. Mendengar penjelasan itu Patih yang lain lantas terdiam, perkataan rekannya barusan memang benar adanya.
Jika mereka maju belum tentu pasukan di depan berhasil selamat, bisa saja saat mereka sampai di depan rekan-rekannya sudah dihabisi oleh lawan. Dan belum lagi di depan mereka lautan mayat-mayat dan kuda yang menghalangi pergerakan mereka, jika mereka nekat menyeberangi lautan mayat itu maka mereka akan berada di jarak jangkauan pasukan pemanah lawan.
__ADS_1
“Mundur!!! Cepat mundur!!!”, teriakan mundur menggema di udara yang ditujukan ke pasukan bala bantuan. Patih mereka memerintahkan agar mereka harus mundur segera, jika tidak mereka yang akan menjadi sasaran berikutnya dari keganasan pasukan berkuda lawan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hari ini mereka harus menerima bahwa mereka dikalahkan oleh pasukan lawan.
Ribuan pasukan bala bantuan yang mundur sontak membuat pasukan pemberontak bersorak-sorai kegirangan. Mereka tidak menyangka bahwa hari ini mereka meraih kemenangan mengingat jumlah musuh empat kali lipat dari jumlah mereka. Sorak-sorai kemenangan menggema, para pasukan pemberontak mengangungkan nama Aryo dan Patih Purno sebagai pimpinan mereka yang telah mengantarkan mereka meraih kemenangan hari ini. Rasa senang tidak dapat mereka bendung, bahkan dari mereka sampai meneteskan air mata dan saling merangkul sesama mereka.
“Yeeaaahhhhhh!!!!!!”
“Jangan berhenti berlari pengecut!!!!”
“Jumlah saja tidak akan cukup untuk menang melawan kami!!!”
Aryo yang mendengar celotehan itu berasal dari prajuritnya langsung menegur orang itu, “Masih terlalu dini untuk kalian merasa puas! Perang masih akan berlangsung nanti, aku tidak ingin kalian menjadi lengah dengan kemenangan sementara ini!!!”, nada bicara Aryo yang tegas dan pembawaannya yang lantang membuat pasukannya terdiam.
*
Patih Purno dan pasukannya telah menghabisi semua pasukan bala bantuan musuh yang telah menyeberangi lautan mayat kuda. Tidak ada yang tersisa dari mereka, kini daratan di sekitar mereka penuh dengan mayat-mayat prajurit baik itu dari pihak lawan maupun pihak lawan. Bau amis darah begitu menyengat di udara, namun bagi pasukan yang sudah menjejali banyak pertempuran bau amis itu adalah hal biasa dan sama sekali tidak memengaruhi mereka.
Pasukan berkuda pimpinan Patih Purno berbaris rapi menghadap ke depan, mereka terus memerhatikan punggung musuh yang terus berlari menjauh dari tempat mereka. Tidak ada dari musuh yang berani menoleh ke belakang, mereka takut jika menoleh akan menjadi incaran dari pasukan berkuda pimpinan Patih Purno. Dengan segenap kemampuannya pasukan musuh berlari secepat mungkin meninggalkan medan laga hari ini.
__ADS_1
“Kita kembali ke markas, hari ini akan menjadi pukulan hebat untuk musuh kita”, perintah Patih Purno kepada pasukannya. Pasukannya menjawab dengan serempak sebelum berbalik arah menuju markas, sedangkan dirinya masih memandangi pasukan musuh yang berlari. Kemenangan hari ini walau terasa mudah namun korban dari mereka juga tidak sedikit, dia harus merencanakan lagi sebuah strategi untuk pertempuran berikutnya.
“Patih, mengapa kita belum beranjak dari tempat ini?”, tanya prajurit yang membawa bendera di belakangnya, Patih Purno lantas berbalik arah ke prajurit itu, “Mari kita kembali”, Patih Purno menjawab dengan senyuman terarah kepada prajurit itu membuatnya tertedak nafasnya sendiri. Patih Purno yang terkenal tegas dan cukup galak dalam memimpin kini tersenyum penuh kedamaian kepadanya, sebuah pemandangan yang jarang terjadi.
Keduanya kini memacu kuda mereka, namun tidak lama kemudian Patih Purno menghentikan laju kudanya saat sudah berada di tempat mayat pria misterius berada. Dia kemudian turun dari kudanya dan berjalan ke arah mayat lawan duelnya hari ini, dia berjongkok dan kemudian menundukkan kepala seraya berdoa kepada dewa.
Hari ini ia telah membunuh banyak pasukan lawan, mungkin ratusan atau bahkan ribuan dia tidak menghitung. Dia berdoa agar dewa memaklumi perbuatannya, karena ia rasa ini adalah suatu hal yang harus dilakukan semestinya yaitu melawan kejahatan di atas muka bumi.
Setelah selesai berdoa Patih Purno lantas berjalan ke arah mayat seorang pemuda yang kakinya diikat oleh pria misterius. Dengan mudah ikatan itu ia lepaskan, dia kemudian menggendong pemuda itu yang kini sudah tak bernyawa. Perasaan sedih menyerangnya, perang selalu membuat kematian menjadi teman terdekat yang pernah ada. Yang membuatnya sedih adalah pemuda-pemuda yang seharusnya hidup dengan damai harus ikut dalam kejamnya peperangan.
Keduanya kini melanjutkan perjalanan mereka dan tidak lama kemudian mereka sampai di pintu gerbang markas pemberontak. Aryo, Subani dan beberapa prajurit menunggu disana, sementara pasukan yang lain sedang berada di dalam markas beristirahat untuk memulihkan stamina mereka. Subani yang melihat rekannya membawa seorang mayat pemuda mengenakan pakaian serba merah lantas berjalan pelan ke tempat Patih Purno berada.
“Maaf telah membuat pemuda ini menjadi korban dari perang hari ini”, Patih Purno mengucapkan belasungkawa atas kematian salah satu pasukan dari Subani. Subani tersenyum sambil mengelus rambut pemuda itu, “Terima kasih, dia masih muda tapi semangatnya tidak akan kalah dari kita. Semangatnya akan terus hidup selamanya bersamaku”, jawab Subani.
Subani lantas menggendong mayat pemuda itu dan membawanya ke dalam, Aryo yang melihat hal itu memberi perintah kepada salah satu pasukannya, “Bawa beberapa prajurit dan siapkan upacara pemakaman untuk pemuda itu!”, perintah Aryo kepada pasukannya. Pasukannya segera melaksanakan perintah itu, tidak butuh waktu lama akhirnya tumpukan kayu-kayu kering kini sudah tersusun rapi di tengah halaman markas pemberontak.
__ADS_1