
Aryo keluar dari pintu gerbang dengan menunggangi kudanya ditemani Patih Purno dan Subani, sedangkan pria sepuh menjaga markas pemberontak. Mereka sekarang pergi untuk berbicara kepada lawannya sebelum memulai peperangan. Tidak butuh waktu lama kini ketiganya sudah berhadapan dengan pimpinan pasukan lawan mereka.
Aryo memasang wajah penuh amarah kepada lawannya, melihat wajah mereka mengingatkan akan tragedi masa silam yang membuatnya harus kehilangan ayahnya serta statusnya sebagai raja kerajaan Adipura. Raja Jaka yang melihat ekspresi dari saudaranya itu lantas tersenyum mengejek kepada Aryo.
“Ternyata seorang pengecut datang menampakkan batang hidungnya setelah dua tahun bersembunyi dari ketidakbecusannya dalam memerintah kerajaan Adipura”, raja Jaka mencoba memancing amarah dari Aryo. Mendengar hal itu Aryo tidak bisa lagi menahan amarah yang sudah lama ia pendam. Rasanya ia ingin mencabik-cabik wajah dari saudaranya itu, perkataannya sungguh sangat ironis mengingat siapa pengecut yang sebenarnya.
“Lantas aku melihat seorang iblis yang memiliki wujud seorang manusia. Hem..., mungkin iblis masih terhormat apa mungkin aku harusnya menyebut mu sebagai anj*ng”, Aryo tidak bisa menahan dirinya, kata-kata itu spontan keluar dari mulutnya dan ditujukan kepada raja Jaka.
“Bajingan!”, pekik raja Jaka mendengar perkataan dari Aryo barusan. Dirinya yang awalnya menghina kini balik dihina, dia kemudian mencabut pedangnya dan menghunuskan pedang yang digenggamnya ke arah Aryo. Aryo yang melihat reaksi lantas ikut bergerak mencabut pedangnya. Keduanya kini saling menghunuskan pedang masing-masing dengan wajah penuh amarah.
“Sungguh sebuah reuni yang buruk”, menteri Balda menggelengkan kepala melihat sikap raja Jaka. Akhir-akhir ini raja Jaka menurutnya sering marah-marah jika terjadi kesalahan bahkan kesalahan kecil sekalipun. Dengan suara lantang dia berteriak kepada raja Jaka, “Cukup! Kendalikan emosimu murid Jaka! Jangan bertindak bodoh hanya karena amarah!”, suara menteri Balda berhasil membuat suasana kini kembali tenang.
Raja Jaka menurunkan pedangnya dan menyarungkannya kembali, hal serupa juga dilakukan oleh Aryo. Kini keduanya diam, namun pandangan keduanya terus bertemu seolah-olah sedang bertarung menggunakan pandangan itu. Melihat suasana belum sepenuhnya terkendali menteri Balda kembali berbicara, “Aku sudah menebak kerajaan Benggawan dan kerajaan Gundala akan ikut sebagai aliansi pemberontak. Bukankah ini suatu kebetulan yang sangat bagus, kita akhirnya bertemu kembali musuh lama”, kini menteri Balda berbicara kepada musuh lamanya yang tak lain ialah Patih Purno.
__ADS_1
Patih Purno menanggapi perkataan lawannya sambil tersenyum dan memberi hormat, “Takdir dari dewa sudah berlaku, jika memang akan dipertemukan pasti akan bertemu”, Patih Purno menjawab pernyataan dari menteri Balda. “Kami disini datang untuk mendiskusikan sebuah perjanjian dengan menteri”, Patih Purno kembali berucap.
“Perjanjian seperti apa yang kalian inginkan?”, tanya menteri Balda cepat.
Belum sempat Patih Purno menyampaikan perjanjian yang ingin dia bicarakan, raja Jaka lantas memotong pembicaraan itu, “Perjanjian apa lagi menteri! Ini perang tidak ada sebuah perjanjian antara kedua belah pihak”, cetus raja Jaka kepada menteri Balda karena merasa pembicaraan itu akan membuang-buang waktu mereka.
“Murid Jaka jangan bertindak kurang ajar kepada menteri! Jaga sikap mu!”, bentak pria misterius kepada raja Jaka. Nyatanya bentakan itu tidak terlalu didengarkan oleh raja Jaka, lantas dia kemudian kembali berbicara, “Ahhh... Persetan dengan sebuah perjanjian! Jika memang ada perjanjian aku akan membuatnya! Aku bersumpah hari ini akan membinasakan kalian”, raja Jaka bak seperti kerasukan setan, emosinya meledak-ledak tak terkendali. Entah apa yang dipikirkannya, melihat hal itu lantas membuat lawannya menjadi keheranan.
*
Sikap raja Jaka yang seperti bocah membuat menteri Balda menjadi ikut emosi. Amarahnya yang dia tahan kini tak mampu dibendung lagi. “DIAM!!! KAU BAJINGAN BUSUK!!! JANGAN LUPA KEBERADAAN DIRIMU SEKARANG KARENA KAMI SEBAGAI ORANG YANG MENDUKUNG DIRIMU DARI BALIK LAYAR!!! JIKA BUKAN KARENA RAJA KAMI YANG MEMINTA, KAMI TIDAK AKAN DISINI BERSAMA BAJINGAN BUSUK SEPERTIMU!!!”, luapan amarah menteri Balda bagaikan sebuah tsunami yang besar, begitu dahsyat dan menggelegar ditelinga raja Jaka.
Tidak hanya raja Jaka, lawannya serta pasukan yang berada di belakang juga ikut mendengar suara amarah dari menteri Balda. Para prajurit sontak terdiam seperti patung dengan wajah pucat, mereka yang pernah melihat amarah dari menteri Balda berkeringat dingin. Mereka tidak akan mau membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya kalau menteri Balda benar-benar akan mengamuk.
__ADS_1
“Mmmaa--aafkan, ma-mmmaaa-aaf karena murid telah menyinggung menteri...”, raja Jaka memberi hormat kepada menter Li Balda sembari menundukkan kepala. Seluruh badannya tidak berhenti bergetar karena ketakutan, keringat dingin terus mengucur dari keningnya. Dia terus menundukkan kepala, takut jika berhadapan muka dengan menteri Balda.
Saat raja Jaka meminta maaf tiba-tiba terdengar suara wanita muda dari belakang. Suara itu seolah-olah seperti menuju ke tempat raja Jaka berada. “Tidak perlu meneriaki orang seperti itu, lihat wajahnya yang tampan sekarang menjadi begitu pucat. Bukankah sayang jika wajah ini harus selalu terlihat takut ketika melihat engkau”, wanita muda datang dengan kudanya dan sekarang berada di samping raja Jaka.
“Perjanjian apa yang ingin kalian diskusikan?”, tanya wanita muda ke arah rombongan Aryo. Aryo menoleh ke arah Patih Purno dan Subani yang dibalas dengan anggukkan kepala. Kemudian Aryo mengutarakan hal yang ingin mereka diskusikan, “Kami ingin membuat kesepakatan dengan kalian. Jika perang ini kami menangkan kerajaan Adipura akan kami ambil alih dan kalian dari kerajaan Kendala jangan pernah ikut campur lagi dalam urusan kerajaan kami....”
“Dan jika kalian kalah? Apa yang akan kalian berikan?”, wanita muda memotong penjelasan dari Aryo membuat Aryo sempat kebingungan untuk melanjutkan kata-katanya. Melihat Aryo terdiam tidak bersuara lantas membuat Patih Purno harus turun tangan menanggapi masalah ini.
“Jika kami kalah maka pihak yang menang akan mendapatkan upeti setiap tahun dari kerajaan kami, dengan syarat tidak boleh memasuki wilayah kerajaan kami”, Patih Purno menjawab pertanyaan dari wanita muda. Wanita muda menanggapi pernyataan itu dengan tenang sambil tersenyum sinis.
“Kenapa harus dalam waktu setahun, jika kami menginginkan setiap hari apa yang akan engkau lakukan?”, pertanyaan wanita muda seperti halilintar di siang hari. Dengan senyuman mengejek yang diarahkannya kepada Patih Purno membuat Patih Purno jadi salah tingkah.
“Mengapa kalian diam? Apakah kalian yakin setelah kalah kerajaan kalian akan aman nantinya?”, wanita muda terus tersenyum mengejek kepada rombongan Aryo. Jika dipikir dengan logika pastinya kerajaan yang kalah akan menjadi bawahan atau budak bagi kerajaan yang memenangkan perang. Aryo, Patih Purno, dan Subani menatap tajam ke arah wanita muda, menurutnya perkataan wanita muda ini adalah untuk memancing mereka melakukan kesalahan nantinya.
__ADS_1