
Ruang rapat masih ricuh karena perdebatan dari pihak aliansi yang meminta rekannya untuk tetap tinggal dan bertahan dalam rencana pemberontakan. Ada yang memutuskan untuk tetap tinggal namun juga ada yang lebih mementingkan keselamatan mereka.
Aryo kini duduk sambil mengurut keningnya yang sekarang terasa begitu sakit. Pikiran dan hatinya bercampur aduk tidak karuan, dia mencoba berpikir agar mendapatkan jalan keluar. Namun semakin dipaksa untuk berpikir semakin sakit kepalanya karena itu.
“Para tamu sekalian mohon untuk tenang” ucap pria sepuh saat keadaan masih ricuh.
Omongan pria sepuh nyatanya tidak terlalu digubris oleh tamu rapat tersebut namun saat suara lantang seorang pria tinggi perkasa membuat semua orang berhenti berdebat.
“Seorang pendekar sejati tidak pernah lari dari pertarungan!” ucap raja Pawan dengan lantang.
“Jika kalian lari dari sini, apakah mungkin ke depannya kalian akan merasakan akibat dari semua ini. Jika memang kita kalah lebih baik kalah karena punya kehormatan, daripada lari sebagai pengecut dan hidup hanya sebagai pelarian!” sambung raja Gandi setelahnya.
Para tamu rapat kini mematung diam tak bersuara. Perkataan yang dilontarkan 2 raja tersebut seperti sebuah tombak yang menusuk jantung mereka.
“Aku lebih memilih pertarungan dan mempertaruhkan nyawaku” ucap seorang pendekar yang menjadi tamu dalam rapat itu.
__ADS_1
“Jika memang takdir berkehendak lain setidaknya kita tetap berjuang bersama-sama” sambung pendekar yang lainnya.
Kini ruang rapat kembali ribut karena para tamu kembali mendapatkan semangat mereka dan membulatkan tekad untuk tetap bertahan melawan pasukan musuh yang akan datang.
“Terima kasih dewa, setidaknya kami masih bisa melakukan perlawanan. Kalau memang takdir kami memang sudah ditentukan kami tetap akan melakukannya” ucap Aryo pelan.
*
“Paman, berapa pasukan kita yang tersisa saat ini?” tanya Aryo kepada pria sepuh.
“Ini masih kurang dalam menghadapi jumlah pasukan lawan. Kerajaan Benggawan akan mengirim setengah pasukan kerajaan berjumlah 2500 orang lengkap dengan peralatan tempur” ucap raja Pawan setelahnya.
“Kerajaan Gundala juga akan mengirim prajurit sejumlah 1500 orang terbaik kami. Kerajaan kami terkenal dengan keahlian berkuda jadi akan bisa membantu dalam pasukan berkuda tuan muda Aryo” tambah raja Gandi.
Sinar harapan kini mulai muncul bersamaan dengan keadaan yang sedikit membaik. Melihat antusias semua orang Aryo menjadi gembira dan mulai bersemangat lagi untuk memimpin pemberontakan.
__ADS_1
“Bagaimana dengan ratu Arum paman? Apakah dia benar-benar tidak akan membantu kita kali ini?” tanya Aryo kembali.
“Utusan kita sampai sekarang belum kembali tuan muda, sebaiknya kita tunggu saja dan lebih fokus dalam masalah yang akan kita hadapi sekarang” pinta pria sepuh.
“Baik paman, untuk sekarang mari kita lanjutkan dengan rencana kita berikutnya” jawab Aryo dan langsung memimpin jalannya rapat antara keempatnya.
Kini mereka berempat mulai mengatur rencana dalam peperangan yang akan terjadi ke depan. Mereka terus berpikir bagaimana menggunakan kemampuan dan keahlian terbaik yang bisa mereka lakukan dan mencoba memikirkan bagaimana jalan keluar dari situasi di luar dugaan mereka.
“Kapan pasukan raja Pawan dan raja Gandi akan tiba?” tanya Aryo setelah diskusi hampir selesai.
“Setidaknya besok mereka akan tiba disini” jawab raja Gandi sambil memejamkan mata seolah sedang berpikir.
“Untuk pasukan ku sepertinya butuh waktu 2 hari untuk sampai kesini” jawab raja Pawan setelahnya.
“Waktu yang diperlukan masih cukup, dari informasi yang kami dapat pasukan lawan akan tiba dalam waktu 3 hari lagi” ucap pria sepuh menambahkan.
__ADS_1