Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
22. Amarah


__ADS_3

Terik matahari mulai menyengat kulit, menambah suasana yang tidak mengenakkan di perkemahan pasukan kerajaan Adipura. Sebelum siang itu raja Jaka menerima laporan 2 orang mata-mata yang dikirim untuk mengintai markas pemberontak salah satunya berhasil ditangkap.


Ini menjadi berita hangat di seluruh pasukan karena menurut mereka bahwa mata-mata ini memiliki kekuatan yang lebih dari mereka secara fisik. Namun mereka tidak menyadari dari segi berpikir mata-mata ini masih sedikit tertinggal di bawah mereka. Raja Jaka kini sedang mendengar penjelasan dari mata-mata yang berhasil selamat bersama para pihak aliansinya.


“Laporan dari bawahan ku mengatakan bahwa pasukan pemberontak menerima bantuan dari beberapa kerajaan yang tidak dia tahu namanya” ucap seorang wanita muda kepada raja Jaka.


Setelah kata-kata wanita itu keluar raut wajah para tamu raja Jaka akhirnya berubah, ini dikarenakan bahasa yang digunakan oleh mata-mata itu hanya dimengerti oleh wanita muda ini yang tak lain adalah pemimpin pasukan ini.


“Mungkin kerajaan yang dimaksud adalah Gundala, Benggawan serta Surka. Ini yang berhasil kita dapatkan dari salah satu pengkhianat dalam pasukan pemberontak” ucap menteri Balda kepada seluruh tamu.


“Menurut menteri apakah pasukan itu akan menghalangi jalan kita nanti?” tanya raja Jaka setelahnya.


“Tidak perlu takut raja Jaka, melihat pasukan kita yang sungguh banyak ini akan membuat nyali lawan kita ciut. Lawan kita akan memilih untuk lari sebagai pengecut daripada melawan pasukan sebesar ini” balas salah satu Patih dari kerajaan Kendala.

__ADS_1


“Memikirkannya saja aku sudah ingin tertawa sampai menangis” sambung Patih lain dengan tawa besarnya.


Kini ruangan itu agak berisik dengan suara saling menyombongkan diri masing-masing akan kekuatan mereka. Para tamu ruangan itu berpikir bahwa kemenangan ini akan mudah didapat, bahkan tanpa perlu menumpahkan darah setetes pun. Namun suara berisik itu tidak terlalu lama ketika suara lantang seorang pria terdengar di seluruh ruangan.


“DIAM KALIAN!!!! APA INI SIKAP YANG KALIAN TUNJUKKAN KEPADA MUSUH KALIAN NANTI!!!” teriak menteri Balda kepada seluruh tamu dan seketika membuat mereka diam tak bersuara.


Suasana  kini hening karena saat menteri Balda bereaksi hawa pembunuh juga menyebar di seluruh ruangan itu membuat beberapa orang mengeluarkan keringat dingin. Tatapan menteri Balda begitu tajam dan terlihat sangat emosi. Ini dikarenakan 2 hal yaitu beberapa puluh tahun yang lalu menteri Balda pernah memimpin pasukan kerajaan Kendala melawan kerajaan Gundala yang dipimpin oleh Patih Purno sendiri.


*


Menteri Balda memejamkan matanya dan terlihat mencoba menahan amarah yang sangat besar. Alasan kedua dari amarahnya barusan tidak lain adalah karena kematian istrinya saat penyerangan 2 tahun yang lalu. Saat dia menemukan istrinya dalam kondisi begitu mengenaskan menteri Balda berteriak sejadi-jadinya dan langsung menunjukkan sisi terburuknya.


Dia mendekap mayat istrinya dan menangis begitu keras, namun hal itu tidak berlangsung lama dan setelahnya dia menjadi berang kepada pihak musuh. Musuh yang telah menyatakan menyerah dibantai menteri Balda tanpa ampun. Menteri Balda menusuk, menebas, bahkan tidak segan mencabik-cabik mayat korbannya karena marah atas kematian istrinya.

__ADS_1


Pria sepuh dan raja Jaka yang pada saat itu masih berstatus pangeran mencoba menangkan amukan dari menteri Balda. Saat menteri Balda sudah bisa menenangkan amarahnya, tinggal beberapa sandera lagi yang hidup namun raut wajah mereka seperti melihat sosok iblis yang sangat haus akan darah.


“Kesombongan akan membuat kalian lengah terhadap hal-hal yang tidak terduga” ucap menteri Balda setelah membuka mata.


“Terima kasih guru, para tamu sudah mengerti akan ucapan yang telah guru sampaikan” jawab raja Jaka yang sedari tadi diam untuk mencairkan suasana.


“Kalian boleh keluar dan segera siapkan prajurit, sebentar lagi kita akan berangkat ke tujuan!” perintah pria sepuh.


Para tamu yang hadir akhirnya keluar setelah perkataan pria sepuh. Kini di ruangan itu hanya tinggal raja Jaka, menteri Balda, pria sepuh dan wanita muda. Menteri Balda kini hanya diam dan memejamkan matanya mengingat masa-masa yang begitu pahit dirasakannya setelah kepergian istrinya.


Dia membantu raja Jaka untuk menumpas gerombolan pemberontak bukan hanya dari perintah raja mereka namun menteri Balda juga ingin menuntut balas dendam atas kematian istrinya yang diketahui dibunuh oleh raja Aryo pada saat dikudeta.


“Bukankah ini suasana yang sedikit canggung?” tanya wanita muda dengan senyum manisnya kepada para pria di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2