
Pasukan suku kulit hitam terkejut melihat api yang tidak padam ketika menyentuh tanah, mereka perlahan menjauh dari kabarin api itu. Walaupun raut wajah mereka tampak tidak jelas karena gelandang malam, namun Patih Purno dapat menangkap apa yang terjadi dengan lawannya saat ini.
Gelagat lawannya sekarang seperti sedang ketakutan, mereka berbicara sesamanya dengan nada pelan namun agak sedikit ribut. Hanya ayo dan Patih Purno yang mendengar pasukan suku kulit hitam berbicara, sedangkan pasukan yang berada di belakang hanya bisa melihat pergerakan musuh yang seakan menjauh dari kabarin api kecil itu.
"Apa yang terjadi pada mereka patih?", arto bertanya karena heran dengan sikap yang ditunjukkan lawan mereka malam ini.
Patih Purno tersenyum sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Aryo, "Sesuai informasi yang saya ketahui bahwa di tanah mereka kepercayaan bahwa api adalah perwujudan dari roh jahat atau orang yang menggunakan ilmu hitam. Mungkin orang-orang ini masih memegang kepercayaan itu, sebuah keajaiban kita dapat melihat mereka malam ini", Patih Purno menutup penjelasannya.
"Ini kesempatan kita tuan muda!", Patih Purno mengingatkan Aryo. Aryo menganggukkan kepala tanda mengerti, dia kemudian bersama-sama dengan Patih Purno maju ke depan melompati kobaran api dan segera melancarkan serangan kepada lawannya.
Subani tidak tinggal diam, dia kemudian maju ke depan untuk ikut serta dalam aksi Aryo dan Patih Purno. Ketiganya kini menyerang puluhan orang dari suku kulit hitam dan tidak butuh waktu lama ketiganya berhasil mendominasi serangan. Lawannya terus berusaha melawan atau memberikan balasan namun dengan kombinasi ketiganya kini mereka berhasil mendesak lawannya untuk terus mundur ke belakang.
"Jurus taring macan kumbang", Aryo mengeluarkan jurus yang ia pelajari dari mertuanya sendiri yaitu ayah Sinta. Saat masih menjadi murid dari padepokan yang diasuh oleh ayah Sinta sendiri, saat itulah Aryo meminta agar ia diajari sebuah jurus yang cukup mematikan untuk bertarung. Ayah Sinta awalnya menolak mengingat status Aryo sebagai seorang pangeran mahkota kerajaan Adipura tidak akan mungkin bagi seseorang ingin mencoba melukainya.
Namun mengingat pengalaman pahit yang pernah ayah Sinta rasakan saat seorang manusia terlalu lemah dalam melindungi diri sendiri akan beriman kepada orang lain bahkan keluarganya sendiri. Karena itulah ayah Sinta mengiyakan permintaan dari Aryo saat itu.
__ADS_1
Bertahun-tahun Aryo dilatih hanya untuk belajar menguasai serta mendalami jurus mematikan ini, ayah Sinta bahkan tidak segan saat mengajarinya. Sebagai seorang guru ia berkewajiban membuat muridnya berhasil dalam menuntut ilmu dan saat Aryo mampu menguasainya dengan sempurna ayah Sinta tersenyum puas dengan keberhasilan muridnya saat itu.
Gerakan Aryo sontak menjadi lebih cepat dan genit dengan serangan terfokus pada area vital lawannya. Lima orang suku kulit hitam yang menghadapi Aryo saat ini harus menelan ludah karena kekuatan mereka tidak mampu menandingi kekuatan Aryo bahkan jika mereka bergabung sekalipun.
"Aaargghhhghghhh..."
"Uuuggghhuukk"
Serangan Aryo berhasil membuat dua dari lima lawannya mendapat luka parah di perut dan dada mereka masing-masing. Karena luka yang sangat parah membuat lawannya langsung jatuh ke tanah dan tidak lama kemudian mati setelahnya.
Salah satu suku kulit hitam yang berkekuatan setara pendekar harimau belang mencoba memisahkan diri saat dia dan kedua rekannya sibuk dalam pertarungan dengan Patih Purno.
***
Tiga orang suku kulit hitam yang menjadi lawan Patih Purno sekarang menjadi kesusahan bernafas akibat serangan tanpa jeda yang diarahkan Patih Purno kepada mereka. Serangan itu terus datang dan mengincar area kaki mereka, Patih Purno berniat melukai kaki lawannya agar pergerakan mereka menjadi lambat nantinya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama kini serangan dari Patih Purno berhasil menorehkan luka di kaki lawannya membuat pergerakan mereka menjadi melambat akibat luka-luka yang terus mengalirkan darah. Patih Purno tidak menunggu lebih lama lagi, dia kemudian melompat ke atas dengan postur siap memukul dengan tongkatnya.
"Pematah besi!!!", Patih Purno mengeluarkan jurus andalannya lagi, ketiga lawannya mencoba untuk menghindari serangan itu namun luka yang mereka terima tidak mampu membuat keadaan berubah sesuai keinginan mereka. Karena tidak berbuat banyak salah satu dari mereka mengumpulkan sisa-sia kekuatannya untuk menahan serangan Patih Purno.
Namun seperti langit dan bumi perbedaan kekuatan ketiganya dengan Patih Purno sangatlah jauh. Bahkan sudah terlihat jelas sejak pertarungan pertama mereka, namun semangat mereka sebagai pejuang tidak menggoyahkan perbedaan kekuatan itu.
Ayunan tombak dengan pola seperti memukul benda dari atas dengan sekuat-kuatnya segera bertemu dengan pedang dari salah satu pasukan suku kulit hitam itu. Pedang yang bertemu dengan tombak Patih Purno kemudian patah menjadi dua, tidak sanggup menahan kekuatan dari ayunan tombak itu.
Lantas tombak itu terus meluncur ke bawah menuju ke tanah tempat kaki ketiga lawan Patih Purno berpijak. Saat tombak itu menyentuh tanah saat itu pula lah terjadi ledakan energi yang membuat ketiga lawan Patih Purno terpental ke belakang.
Tanah yang dihantam tombak itu meledak dari bawah dan kemudian beterbangan ke udara, lawan Patih Purno yang berada di area serangan harus menjadi korban akibat ledakan itu. Karena ledakan energi yang dihasilkan oleh serangan lawannya dan menghantam mereka akhirnya membuat ketiga lawan Patih Purno harus merenggut nyawa tidak lama kemudian dengan kaki yang hancur akibat ledakan tersebut.
Melihat ketiga pimpinan mereka gugur dalam pertarungannya membuat semangat tempur sisa-sia dari pasukan suku kulit hitam menjadi semakin ciut nyalinya. Bahkan dengan kekuatan dari ketiga pimpinan mereka tidak mampu mengimbangi salah satu dari ketiga lawannya.
Apalagi mereka yang hanya berkekuatan setara pendekar serigala tingkat 5, mereka hanya akan jadi sasaran empuk bagi lawannya. Sekarang mereka sedang menghadapi seorang pendekar yang mempunyai beladiri tangan kosong yang baru kali ini mereka temui.
__ADS_1
Tanpa senjata sekalipun orang ini mampu mengimbangi sepuluh orang lebih pasukan suku kulit hitam. Orang itu tidak lain adalah Subani yang ikut dalam aksi Aryo dan Patih Purno yang menerjang masuk ke arah musuh. Dengan ilmu beladiri yang ia kuasai semenjak dari kecil membuatnya mudah dalam menghadapi belasan pendekar serigala tingkat 5 sekalipun.
Saat inilah akhirnya pasukan suku kulit hitam menyadari dan kemudian menyesali tindakan yang mereka lakukan sebelumnya tadi, kalau mereka tahu bahwa penyusupan ini akan gagal dan harus menghadapi lawan yang begitu kuat. Lebih baik mereka menunggu dan maju bersama-sama dengan pasukan kerajaan Kendala pimpinan menteri Balda.