
Subani terus melakukan serangan tangan kosong dan tendangan yang sulit dibaca oleh suku sulit hitam. Biarpun lawannya menyerang dengan gencar bagi Subani itu hanya mainan biasa untuknya, dia bergerak lincah ke arah lawannya untuk mempersempit jarak antara mereka.
Serangan demi serangan dan jurus demi jurus Subani keluarkan untuk menghadapi belasan musuh yang saat ini menjadi lawannya. Walaupun sendirian nyatanya dia mampu mengungguli lawannya tersebut, sementara lawannya tidak habis pikir akan kekuatan yang ditunjukkan oleh Subani saat ini.
Plakkkkk...
Duughhhhh....
Salah satu pasukan suku kulit hitam mendapat sebuah tamparan dan tendangan tepat di ulu hatinya yang membuat ia terjatuh ke tanah. Orang itu mencoba bangun namun tubuhnya tak mampu bereaksi sedikitpun, matanya mulai gelap dan diikuti nafasnya yang mulai berat. Akhirnya orang itu harus mati karena tidak mampu menahan lagi efek serangan dari Subani barusan.
Melihat temannya kini tersungkur tak berdaya membuat pasukan suku kulit hitam yang lain mulai menjaga jarak dari Subani. Subani tidak tinggal diam, dia lantas kembali bergerak mengincar suku kulit hitam yang lain. Serangannya terus terfokus pada satu titik yaitu ulu hati lawannya.
Karena mengira lawannya hanya mengincar ulu hati mereka lantas pasukan suku kulit hitam menjadi begitu waspada pada serangan yang diluncurkan oleh Subani. Subani menyerang dengan pola yang sama seperti saat mendapatkan pukulan serta tendangan kepada korbannya barusan.
Menyadari hal itu membuat lawannya segera belajar dengan pola serangan Subani, kini setidaknya mereka dapat mengimbangi walau masih dalam kondisi bertahan dan hanya sesekali mampu membalas serangan.
"Kena kalian", batin Subani berucap. Ia sengaja memancing lawan agar menjadi hafal dengan jurus yang ia gunakan sekarang. Alasannya adalah agar musuh tidak akan menyangka Subani akan mengeluarkan sebuah jurus lain yang tidak kalah mematikan.
Subani kini melancarkan sebuah jurus baru yang berfokus pada serangan yang merusak. Saat lawannya sudah dalam jangkauannya ia dengan cepat menangkap tangan, kaki dan leher dari lawannya.
Krrtaaaakkkk....
krreeekkkkkk....
Suara tulang patah terdengar cukup nyaring di telinga Subani, kini dua orang lawannya harus terbujur kaku di tanah akibat serangannya yang berhasil mematahkan kaki serta tulang leher lawannya.
__ADS_1
Teriakan salah satu dari korbannya yang mengalami patah tulang dibagian kakinya menggema menghiasi kesunyian malam ini. Sementara satunya lagi terbujur kaku tak bergerak karena sudah kehilangan nyawa akibat serangan fatal yang ia terima.
***
Aryo baru saja menghabisi sisa lawannya dan saat dia melihat Subani menerjang masuk lebih dalam berusaha menahan musuh agar tidak kabur membuatnya harus ikut serta membantu rekannya. Sekarang posisi Subani tepat di belakang pasukan suku kulit hitam sementara Aryo dengan pedangnya berada di depan lawan.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Aryo dan Subani mulai melancarkan serangan. Seperti sudah direncanakan, kombinasi keduanya dalam mengapit pasukan lawan sungguh membuat lawannya menjadi linglung.
Menghadapi Subani sangat lah sulit, karena gerakan dan serangannya yang gesit membuat mereka kewalahan dalam menghadapinya. Satu-satunya cara ialah menyerang Aryo yang saat ini di depan mereka secara bersama-sama.
Aryo menyadari perubahan strategi lawannya yang kini mengincar dirinya. Aryo sudah menyiapkan diri untuk melawan musuhnya namun yang terjadi berikutnya sungguh tidak pernah ia sangka-sangka. Sebuah tombak meluncur cepat ke arah lawannya tepat dari belakangnya, tombak itu melewati sisi pinggangnya di sebelah kanan.
Pasukan suku kulit hitam tidak menyangka bahwa ada tombak yang secara tiba-tiba muncul dari belakang Aryo dan kini mengarah ke mereka. Karena tombak itu meluncur dengan sangat cepat serta sebab keterkejutan sesaat membuat mereka tidak punya waktu dalam menangani keadaan.
Setelah tombak itu berhenti barulah Aryo sadar tombak itu adalah milik dari Patih Purno, dia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati bahwa jaraknya dengan Patih Purno tidak jauh lagi.
***
Patih Purno berlari ke tempat Aryo berada dengan cepat, ada alasan yang membuatnya harus segera menemui Aryo setelah duelnya dengan tiga pimpinan suku kulit hitam sudah selesai.
Saat jaraknya sudah dekat ia dapat melihat sisa-sisa pasukan suku kulit hitam bergerak bersamaan untuk menyerang Aryo, sementara beberapa dari mereka sedang menahan Subani yang ada di belakang.
Sebenarnya Patih Purno yakin bahwa Aryo akan sanggup menghadapi lawan yang menyerangnya secara bersama-sama, walaupun harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Namun kondisi sekarang memprioritaskan dia agar sedapat mungkin membantu dalam jalannya peperangan.
Dia menarik nafas dalam dan mengalirkan tenaga dalam ke sekitar tangannya, kemudian ia mengangkat tombaknya dan bersiap melempar tombak itu ke arah pasukan suku kulit hitam. Lemparannya barusan ternyata berhasil, salah satu dari pasukan suku kulit hitam harus mati karena serangannya.
__ADS_1
Dia kemudian mempercepat langkahnya untuk segera ke tempat Aryo berada. Saat jarak Patih Purno dan Aryo sudah berdekatan tanpa memperhatikan ekspresi Aryo yang kaget karena bantuannya barusan ia lantas berucap kepada Aryo.
"Tuan muda, kita tidak punya waktu lagi. Bala bantuan musuh pasti sudah mulai bergerak dari arah gerbang. Kita harus sesegera mungkin menyiapkan pasukan kita untuk pertempuran malam ini", Patih Purno menjelaskan maksudnya.
Aryo sempat tertegun dengan penjelasan dari Patih Purno barusan, namun saat Patih Purno menepuk pundaknya dan kemudian maju ke arah pasukan suku kulit hitam seraya berucap, "Serahkan urusan disini kepada kami, siapkan pasukan kita tuan muda", Patih Purno berlari ke arah tombaknya yang tertancap di salah satu pasukan suku kulit hitam. Setelah mendapatkan tombaknya kembali Patih Purno kemudian maju menerjang lawan.
Aryo menganggukkan kepala tanda mengerti, ia segera berbalik arah menuju pasukannya berada, tidak butuh waktu lama kini ia telah berada di depan pasukannya. Para pasukan pemberontak serta aliansi menatap penuh semangat ke arah Aryo, menurut mereka kedatangan Aryo akan menyampaikan perintah kepada mereka.
Aryo menatap balik tahapan dari pasukannya, walau tidak semua dia yakin semua pasukannya memiliki tahapan seperti itu. Dia menoleh ke arah pria sepuh yang dibalas anggukan kepala oleh pria sepuh.
"Tugas kembali memanggil kita malam ini, mari sama-sama kita buktikan kepada musuh bahwa kita adalah prajurit terhebat yang pernah ada! Demi kemuliaan!!!", aryo berpidato untuk menyemangati pasukannya.
Pasukan pemberontak lantas berteriak penuh semangat untuk berperang, sorak-sorai menggema memenuhi gelapnya malam. Malam ini akan menjadi malam penuh pertumbuhan darah yang pernah terjadi di tanah kerajaan Adipura.
*****
Terima kasih telah membaca novel pendekar pedang dewa naga sampai sejauh ini.
Terim kasih atas dukungan serta komentar anda yang telah memberikan saya motivasi untuk terus berkarya.
Dn saya ucapkan beribu-ribu terima kasih kepada keluarga yang telah mensupport saya dalam berkarya sesuai keinginan saya.
Jika anda suka dengan isi cerita saya jangan sungkan untuk menekan tombol lele, karena itu sangat berarti buat saya.
Sekian dari saya hari ini, see you next time :)
__ADS_1