Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
29. Keadaan Sinta


__ADS_3

Rindu dan bimbang sudah pasti dialami oleh seorang istri terhadap suaminya. Sudah 5 hari semenjak kepergian Aryo ke medan perang membuat suasana di rumahnya menjadi sunyi. Namun perasaan itu tergantikan oleh bayi di dalam kandungan Sinta yang mulai bereaksi menendang-nendang di dalam perutnya.


Sinta duduk di kursi bambu depan teras rumah sambil mengelus perutnya. Dengan lantunan lagu yang merdu menemani aktivitasnya sekarang. Tidak lama berselang datang bik Sekar menyapanya dengan ramah.


“Bagaimana kondisi non hari ini?”


“Aku baik-baik saja bik, beberapa hari ini bayi di dalam kandungan ku sudah beberapa kali menendang-nendang”


“Pasti anak ini akan setampan ayahandanya kelak”


“Aku juga berharap seperti itu bik, tapi aku tidak ingin dia memiliki nasib seperti ayahandanya”


Sinta menjawab pertanyaan bik Sekar sambil tersenyum ke arahnya. Namun senyum itu tidak bertahan lama dan perlahan mulai memudar. Bik Sekar yang mengetahui alasan yang membuat Sinta seperti itu memilih mengalihkan pembicaraan.


“Apa non tidak bosan di rumah? Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar mengitari kampung”


“Benarkah bik? Aku juga terlalu bosan di rumah. Mari bik kita jalan-jalan sekarang”


Sinta menjawab dengan penuh semangat ajakan dari bik Sekar. Suasana rumah yang sunyi membuatnya kadang merasa bosan. Dan sekarang ada seseorang yang mengajaknya jalan-jalan membuatnya begitu semangat.

__ADS_1


Bik Sekar membantu Sinta berdiri dari posisi duduknya. Dengan usia kehamilan yang sudah tergolong tua gerak Sinta saat ini terbatas. Mereka berjalan dengan pelan sambil berbincang-bincang mengenai banyak hal. Sinta tertawa lepas saat bik Sekar menceritakan kisah-kisah lucu yang pernah dialami bik Sekar ketika masih muda.


“Sekarang coba ceritakan awal pertemuan non dengan tuan muda”


“Aihhh... Bik, aku jadi malu ketika mengingatnya”


“Ahhh... Biar bibik tebak, non tidak berani menyatakan perasaan kepada tuan muda kan?”


Sinta terkejut dan spontan berhenti berjalan. Dia kemudian memandangi wajah bik Sekar yang kini tersenyum penuh makna. Warna merah merona perlahan menghiasi pipi Sinta sekarang. Dia tersipu malu karena bik Sekar mengetahui kebiasaannya ketika menyimpan rasa dengan Aryo ketika masih menjadi pangeran mahkota.


“Apakah non tidak mau menceritakannya kepada bibik?”


“Bagaimana dari awal non mulai jatuh cinta ke tuan muda”


Bik Sekar terus mendesak agar Sinta bercerita, sedangkan Sinta seperti salah tingkah harus bercerita atau tidak. Namun hati kecilnya tidak ingin mengecewakan teman perjalanannya sekarang. Akhirnya Sinta memilih bercerita tentang kisah cintanya dulu.


“Alasan aku jatuh cinta kepadanya cukup sederhana bik. Waktu itu.....”


Sinta mulai bercerita sambil berjalan bersama bik Sekar. Awal ceritanya bermula saat umurnya baru menginjak remaja, saat itu rumahnya tiba-tiba saja menjadi ramai. Sinta bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi. Menurut penuturan salah satu murid dari ayahnya dia akhirnya mengetahui alasan keramaian itu.

__ADS_1


Saat itu di rumahnya kedatangan tamu penting yang tidak lain adalah mendiang raja Aryi ketika masih menjadi raja Adipura. Raja Aryi datang membawa kedua putranya yang akan diserahkan kepada ayahnya sebagai murid perguruan silat yang dibina oleh ayahnya.


Ayah Sinta merupakan pendekar aliran putih cukup terkenal dengan julukan taring putih sangat disegani di kerajaan Adipura. Itu juga yang membuat raja Aryi memilih ayahnya menjadi guru silat dari kedua pangeran mahkota. Sinta melihat perbincangan ayahnya dan raja Aryi dari kejauhan, namun tak lama keberadaannya diketahui oleh ayahnya.


Dia mendekat setelah melihat lambaian tangan ayahnya yang meminta agar dia duduk menemaninya. Sinta berjalan pelan dan sekarang sudah duduk di samping ayahnya. Mula-mula dia menundukkan kepala namun perlahan dia memberanikan diri untuk mencuri pandang ke arah tamu di depannya.


Ayahnya dan raja Aryi terus berbincang dan sesekali tertawa bersama. Ini wajar karena keduanya dulu merupakan teman sedari kecil sampai sekarang. Saat itulah kesempatan Sinta untuk mencuri pandang ke arah pangeran mahkota. Saat pandangannya tertuju kepada pangeran Jaka perasaannya biasa saja.


Ini dikarenakan wajah pangeran Jaka yang tampak begitu garang dan kelihatan tidak merasa nyaman dengan suasana rumahnya. Dasar kalangan bangsawan pikir Sinta saat itu. Namun saat Sinta melihat ke arah pangeran Aryo seketika itu juga pandangan mereka tiba-tiba bertemu.


Keduanya berpandangan cukup lama dan tanpa Sinta sadari dari awal pandangan itu pangeran Aryo tersenyum ke arahnya. Namun ekspresi Sinta malah terbalik dan tergolong terkejut dengan senyuman dari lawan pandangnya sekarang. Senyum yang begitu ramah baginya dan sangat menghangatkan.


 


Maaf atas keterlambatan update episode barunya. Hp saya jatuh kemarin dan sebagian layarnya sekarang black screen. Dan untuk semua pembaca yang telah membaca novel ini terima kasih atas semuanya.


Saya akan terus menulis novel ini, jika menurut anda cerita saya kurang menarik saya mohon maaf karena ini cerita pertama saya dan saya baru belajar.


Sekali lagi terima kasih untuk beberapa penggemar cerita ini yang telah memberikan like dan komentar positif yang telah memberikan saya semangat untuk terus berkarya.

__ADS_1


__ADS_2