Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
51. Ketenangan sesaat (6)


__ADS_3

Patih Purno dan Subani masih sibuk menghadapi sisa-sisa pasukan suku kulit hitam yang kini jumlah hanya tinggal 6 orang. Rekan-rekannya yang lain sudah menemui ajal mereka di tangan kedua lawannya, tinggal menunggu waktu pasti mereka akan segera menyusul.


Patih Purno tidak ingin menunggu lebih lama, dia memberi aba-aba pada Subani agar segera menyelesaikan pertarungan ini. Subani mengerti dengan apa yang harus dilakukannya, ia lantas mencabut goloknya. Pasukan suku kulit hitam yang menyadari hal itu kini menjadi lemas, kakinya bergetar karena ketakutan.


Menghadapi Subani yang tanpa senjata dan hanya bermodalkan tangan kosong saja sudah kesulitan, apalagi sekarang harus menghadapi golok yang memiliki mata tajam di tangan lawannya. Mereka mencoba bergerak namun rasa takut sudah menguasai badan dan pikiran mereka, melihat golok itu dimain-mainkan dengan begitu elegan oleh lawannya bukannya membuat mereka tenang malahan seperti terancam.


Gerakan yang begitu elegan serta berliku-liku Subani tunjukkan kepada lawannya, "Jurus golok ular sendok", Subani mengeluarkan salah satu jurus andalannya untuk menyelesaikan pertarungan. Sebelum menyerang Subani terlebih dahulu mengikat gagang goloknya dengan sebuah tali, lawannya tidak menyadari hal itu.


Momentum yng ditunggu-tunggu telah tiba, saat pasukan suku kulit hitam sedang fokus dengan pertunjukan dari rekannya, Patih Purno lantas maju ke depan terlebih dahulu untuk menyerang lawan.


Suku kulit hitam yang melihat hal itu kemudian bersiap menghadapi Patih Purno yang menyerang duluan, melihat tidak ada gerakan berikutnya dari Subani mereka lantas memfokuskan menahan serangan dari Patih Purno dengan seluruh tenaga yang mereka miliki.


Perlawanan suku kulit hitam ini membuat Patih Purno takjub karena tekad mereka. Walaupun kenyataan bahwa kekuatan mereka terpaut jauh namun jiwa seorang petarung membuat mereka tegar dan setidaknya jika matipun mereka akan bangga bahwa mereka telah menjadi seorang petarung sejati.


Saat jarak Patih Purno dan lawannya hanya tinggal beberapa langkah, Patih Purno dengan cepat langsung melompat ke atas, gerakan yang tidak terduga itu membuat lawannya terkejut. Namun rasa keterkejutan itu menjadi lebih besar saat sebuah golok meluncur dengan cepat ke arah salah satu pasukan suku kulit hitam yang berada paling depan.


Golok itu tidak lain adalah golok milik Subani, dia sengaja membiarkan rekannya maju duluan untuk mengalihkan perhatian lawan. Dengan Patih Purno sebagai umpan ia dengan leluasa melancarkan serangan kejutan kepada suku kulit hitam. Dan ternyata berhasil dengan sangat mulus, goloknya kini tertancap tepat di dada sebelah kiri salah satu lawannya.


Tidak hanya itu, dengan cepat Subani menarik tombaknya dan melemparkan kembali ke arah salah satu lawannya yang lain, lemparan keduanya juga berhasil mendarat di perut lawan yang telah diincarnya. Darah segar mengalir deras dari luka yang telah Subani torehkan kepada lawannya membuat empat orang yang tersisa menelan ludah, perasaan takut kembali menyerang mereka.

__ADS_1


Tidak habis dari situ Subani melancarkan serangan ketiganya mengincar salah satu dari pasukan suku kulit hitam lagi. Tidak ingin mati tanpa perlawanan lantas membuat orang yang diincar mengangkat senjata bersiap menangkis serangan itu.


Subani sengaja melemparkan goloknya sedikit lebih pelan dari sebelumnya, alasannya karena ada serangan kejutan lain yang akan ia perlihatkan pada lawannya. Saat goloknya hampir bersentuhan dengan pedang lawannya saat itu pula lah Subani menarik sedikit tali yang mengikat gagang goloknya. Tali yang ditarik itu ternyata mengubah arah serangan dari goloknya dan kini bergerak menuju paha kanan lawannya.


Orang yang menjadi incaran dari Subani tidak menyangka akan serangan kejutan itu, dia tidak sempat menghindar karena rentang waktu yang begitu singkat. Sekarang golok lawannya sudah menancap dengan sangat dalam di paha kanannya membuat erangan kesakitan dari mulutnya tidak tertahankan lagi.


Namun erangan itu tidak bertahan lama, tidak lama kemudian Patih Purno yang melompat ke atas sebelumnya turun ke posisi korban serangan dari Subani. Saat kaki Patih Purno menginjak tanah dia mulai melakukan gerakan seperti ingin memukul dengan tombaknya dari bawah, namun bukan ke arah lawannya melainkan tepat di gagang golok milik Subani.


Lawannya yang sedang mengerang kesakitan akibat terkena serangan dari Subani tidak menyadari kehadiran Patih Purno di depannya. Melihat kesempatan emas Patih Purno tidak ingin menyia-nyiakannya, "Selamat tinggal musuh pemberani!", Patih Purno langsung memukul dengan tombaknya tepat di gagang golok milik Subani.


Karena hantaman dari tombak Patih Purno membuat golok yang menancap di kaki salah satu pasukan suku kulit hitam itu kemudian tembus dan kini mengarah ke tiga orang yang berada di belakang orang itu.


Golok itu menembus tubuh mereka dengan cepat tanpa mereka sadari dan berhenti setelah tertancap di dada pasukan suku kulit hitam yang berada paling belakang. Sekarang golok itu telah membuat empat orang yang tersisa harus merenggut nyawa akibatnya, Subani kemudian menarik goloknya dengan sangat keras sehingga tiga dari empat orang lawannya kini terjebak seperti ikan yang memakan umpan pancing.


Tiga orang itu kemudian jatuh bersamaan dengan posisi saling berdempetan, sementara satu orang yang tersisa di belakang terjatuh dalam posisi berlutut sambil memegangi luka di dadanya.


Patih Purno berjalan perlahan ke arah orang itu, saat jaraknya sudah dekat ia kemudian berucap, "Kalian adalah lawan yang hebat, kami akan selalu mengenang bahwa malam ini telah bertemu dengan salah satu pejuang sejati ", selesai berkata demikian Patih Purno lantas melancarkan sebuah serangan menebas tepat ke leher lawannya. Serangannya berhasil membuat kepala lawannya kini terpisah dari tubuh pemiliknya, dan pertarungan dengan suku kulit hitam akhirnya selesai sudah.


***

__ADS_1


Pasukan pimpinan menteri Balda baru saja tiba tidak jauh dari posisi pertarungan dari Patih Purno dengan pasukan suku kulit hitam yang terakhir. Dia sempat menyaksikan saat-saat dimana Patih Purno menghabisi lawannya itu, karena lawan yang dihabisi oleh Patih Purno bukan dari pasukannya dia lantas hanya diam saja.


Dia telah menerka bahwa pasukan suku kulit hitam yang ia pinjam dari wanita muda akan mengalami hal buruk setelah keluar dari rencananya. Dan kenyataan telah terjadi bahwa semua pasukan suku kulit hitam yang ikut bersamanya kini terbaring tak bernyawa di sekitar Patih Purno dan Subani saat ini.


Patih Purno yang menyadari bahwa bala bantuan lawan kini telah datang kemudian bersiap menghadapi mereka disusul Subani di sebelahnya tidak lama kemudian.


"Pasukan lawan tidak main-main setelah menerima kekalahan waktu siang tadi", Subani berkomentar kepada Patih Purno saat melihat lautan musuh telah masuk ke dalam markas mereka.


"Apa kau takut teman ku?", Patih Purno spontan bertanya kepada Subani. Pertanyaan dari rekannya membuat Subani menjadi sedikit tersinggung, "Apa yang harus aku takutkan? Tidak ada yang mampu membuat ku takut di dunia ini!", tegas Subani.


"Benarkah? Bagaimana kalau itu menyangkut istrimu?"


Pertanyaan dari Patih Purno membuat Subani menahan nafas sejenak, dia kemudian memandangi wajah rekannya yang kini terdapat sebuah senyuman yang dibuat-buat.


"Saat-saat genting seperti ini mengapa engkau harus membahas istri ku! Kau ingin berkelahi sekarang?!", Subani menjadi sedikit emosi karena pertanyaan Patih Purno barusan.


Tawa Patih Purno tak dapat dibendungnya lagi, rekannya sudah teriakan pancing yang telah ia buat, "Maaf aku tidak bermaksud, aku hanya memastikan bahwa teman ku masih fokus dalam menghadapi lawan kita malam ini", jawab Patih Purno sambil menepuk pundak rekannya.


Subani yang mendengar hal itu lantas meninju tepat di lengan kanan rekannya, "Itu balasan karena kata-kata engkau tadi", setelah berkata demikian Subani lantas tertawa bersama Patih Purno.

__ADS_1


__ADS_2