Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
35. Masa lalu Sinta (4)


__ADS_3

Luka demi luka menghiasi tubuh ayah Sinta dan setan merah karena pertarungan mereka. Darah segar mengalir dari luka-luka itu dan membasahi tubuh mereka. Setan merah masih terus melancarkan serangan, baik menggunakan cakar maupun tanduk di kepalanya. Sementara itu ayah Sinta sibuk menahan serangan itu dengan pedangnya, semakin lama semakin terasa berat beban ditangannya.


Ayah Sinta berkesimpulan kekuatan setan merah sekarang berada setara dengan dirinya. Walaupun dia mampu mengimbangi namun masalahnya dia sudah menggunakan separuh dari kekuatan penuh yang ia miliki. Tinggal masalah waktu sampai staminanya habis dan dia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Dengan tekad bulat dia harus mengakhiri pertarungan ini walau nyawa yang akan menjadi taruhannya.


“Ini tidak akan bagus, aku harus mengakhirinya segera”, dengan segenap tenaga yang ia miliki sekarang ayah Sinta menaikkan tempo serangannya untuk menekan gerakan dari lawannya. Dan ternyata itu berhasil, dengan tekad yang kuat dia menaikkan semangat dirinya sendiri. Kini ayah Sinta berhasil membalikkan keadaan dengan mendominasi serangan.


“Sial!, tidak mungkin seperti ini!”, setan merah mengumpat dalam hatinya karena sekarang dia yang awalnya melancarkan serangan justru sekarang dibuat ke posisi bertahan. Dia tidak menyangka lawannya masih menyimpan kekuatan sebesar itu, dia terus menangkis serangan dari lawannya dengan cakar yang ia punya.


Masih dalam keadaan mengumpat dengan keadaan, secara tidak sadar setan merah telah menunjukkan celah untuk lawannya. Ayah Sinta yang melihat celah itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ayah Sinta kemudian melompat tinggi ke atas tubuh setan merah, dengan gerakan memutar dan serangan cepat dia mengincar celah itu dan berhasil mengenainya. Setan merah tidak dapat berbuat banyak karena terlambat menyadarinya, kini pedang lawannya telah membuat luka tebasan di punggungnya.


“Arrrggghhhh....“, pekik setan merah setelah ayah Sinta menebas punggungnya. Luka yang diterimanya sangat parah membuatnya langsung terjatuh ke tanah. Darah mengalir deras dari luka tebasan itu, dengan sisa-sisa tenaga dalam yang ia miliki setan merah mencoba menghentikan pendarahannya.


Ayah Sinta melihat lawannya jatuh ke tanah, dia bernafas lega melihatnya. Serangan terakhir yang dia gunakan barusan adalah sisa-sisa tenaga yang telah ia miliki. Sekarang tenaganya sudah terkuras habis dan ia sekarang terjatuh dalam posisi berlutut. Darah segar keluar dari tepi mulutnya, pandangannya menjadi gelap. Tubuhnya tidak dapat digerakkan, setiap ingin menggerakkan tubuhnya rasa sakit akan menyerangnya.

__ADS_1


“Uughhhhh... Uughhhhh... Uughhhhh...”, ayah Sinta batuk darah berulang kali, rasa sakit itu seperti api yang menyala-nyala dalam tubuhnya. Begitu panas dan menyakitkan, dia mencoba bertahan namun tubuhnya tidak pernah mau bertindak sesuai keinginannya.


Melihat suaminya jatuh dalam posisi berlutut dan batuk darah cukup banyak membuat ibu Sinta khawatir dengan keadaan suaminya. Dia beranjak dari persembunyiannya dan berlari ke arah suaminya berada. Sinta tampak terlihat senang melihat ayahnya menjadi pemenang dalam pertarungan itu. Dia kemudian berontak dari pelukan ibunya dan segera berlari secepat mungkin untuk memeluk ayahnya.


Ibu Sinta terkejut dengan sikap anaknya, tanpa dapat berbuat apa-apa Sinta kini lepas dari pelukannya. Sinta lantas berlari secepat mungkin ke arah ayahnya sedangkan ibunya mencoba mengejarnya dari belakang. Perasaan senang menghiasi wajah keduanya, malam itu mereka pikir semuanya telah berakhir.


“Ayah... Ayah... Ayah...”, pekik Sinta sambil berlari ke arah ayahnya. Dengan langkah kecilnya tidak menutupi kelincahannya dalam berlari. Ibunya sampai kewalahan untuk mengejarnya dari belakang. Namun selanjutnya yang terjadi tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya, sebuah takdir yang telah disiapkan oleh keluarga ini akhirnya terjadi.


Wajah riang serta teriakan gembira dari anaknya samar-samar terdengar di telinga ayah Sinta. Matanya yang awalnya gelap perlahan mulai bisa melihat walau samar-samar. Dari jauh tampak anak dan istrinya berlari ke arahnya. Yang lebih mengejutkan anaknya berlari sangat cepat ke arahnya, dia tersenyum melihat hal itu. Ayah Sinta pikir semuanya telah berakhir, dan dia berhasil menyelamatkan keluarganya malam ini.


Tapi takdir berkata lain, ketika jarak anaknya dan setan merah hampir dekat. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya setan merah mencabut sebuah cakar dari tangannya dan melemparkannya ke arah Sinta. Cakar itu terbang lurus mengarah ke Sinta, ayah dan ibunya terperanjat melihat hal itu.


Ayah Sinta mencoba bangkit dari posisi berlututnya untuk menghalau serangan itu, namun tubuhnya seperti tertimpa sebuah batu. Begitu berat dan sakit yang terus menerus datang akibat luka yang dialaminya. Dia berusaha bangkit sebisa mungkin tapi nyatanya dia tidak berhasil, malah kini dia jatuh terbaring di tanah karena terus memaksakan diri. Dirinya hanya bisa melihat cakar itu terus melesat ke arah anaknya.

__ADS_1


“SINTAAAAAA!!!!!!!!”, pekik ayahnya ketika cakar yang terarah kepada Sinta sudah berjarak dekat dengannya. Dia tidak ingin kehilangan buah hatinya yang sangat dia cintai, perasaan sedih dan marah bercampur aduk menjadi satu saat membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.


Namun nyatanya cakar itu tidak pernah sampai kepada Sinta. Ibunya yang sedari tadi mengejarnya dari belakang sontak berlari cepat, seolah-olah mendapat kekuatan untuk berlari kencang. Ketika jaraknya sudah dekat dia menarik tangan Sinta untuk memeluknya sambil berbalik badan. Dan yang terjadi sudah bisa ditebak, cakar itu kini bersarang di tubuh ibunya Sinta, tepat di arah jantungnya namun tidak sampai menembus tubuhnya.


“Ibu... Ibu...”, Sinta memandang ke arah ibunya, tubuh ibunya mulai bergetar membuatnya khawatir. “Ibu tidak apa-apa? Tolong jawab ibu”, Sinta terus menatap wajah ibunya yang kini mulai pucat.


Dengan senyuman lembut ibunya membalas pertanyaan dari anaknya, “Ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya kedinginan”, balas ibunya dengan pelan sambil mengelus kepalanya. Namun senyuman itu tidak bertahan lama, tidak lama kemudian ibunya jatuh ke tanah. Darah mengalir keluar dari tepi bibir ibunya membuat Sinta menjerit histeris, “Ibu! Ibu! Mengapa ada darah di mulut ibu? Ayah tolong ibu”, Sinta menjerit sejadi-jadinya sambil menangis di depan ibunya.


Tangisan Sinta pecah malam itu, dia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap ibunya. Hatinya seperti teriris oleh pisau melihat ibunya terbaring kesakitan di depannya. Dia yang masih kecil tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menangis di dekat ibunya. Dia menggenggam erat tangan ibunya dan sesekali menariknya, “Ibu bangun ibu, ibu!”, dia terus menangis sejadi-jadinya.


Ibunya yang melihat serta mendengar tangisan dari anaknya mencoba untuk bersikap tenang. Walaupun tubuhnya saat ini terasa sakit dan tidak berhenti bergetar, dia mencoba tersenyum ke arah anaknya. Dengan lembut dia membelai rambut Sinta sambil berkata, “Nak, tolong jaga ayah mu. Maaf ibu tidak bisa melihat mu tumbuh dewasa, jangan terlalu bersedih. Jadilah pribadi yang baik nanti...”, ucap ibunya kepada Sinta yang masih menangis.


 

__ADS_1


__ADS_2