Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
17. Diskusi


__ADS_3

Kedatangan Aryo langsung mengubah suasana ruang rapat yang sebelumnya hening mulai hidup. Para raja dan ratu berdiri menyambut kedatangan Aryo, walaupun masih muda bagi mereka Aryo merupakan sosok yang patut disegani karena kepemimpinan nya ketika masih jadi raja kerajaan Adipura.


“Tuan muda silahkan duduk, hamba yang akan menjelaskan perihal yang akan kita diskusikan dalam rapat ini” pinta pria sepuh kepada Aryo dan mempersilahkan semua tamu untuk duduk sembari dia menjelaskan permasalahan yang terjadi.


“Baiklah hamba akan menjelaskan semuanya dimulai dari....” pria sepuh terus menjelaskan semua yang dia ketahui dalam permasalahan ini karena dia yang ditunjuk sebagai bagian pencari informasi untuk kepentingan pasukan pemberontak. Dia menjelaskan bahwa rencana mereka bocor dan sekarang sudah diketahui oleh raja Jaka.


Raja Jaka sekarang sedang menyiapkan pasukan dengan bantuan dari kerajaan Kendala juga. Jumlah pasukan ini tidak dapat dipastikan namun mungkin akan sangat besar, menurut pria sepuh jumlah pasukan lawan setidaknya akan lebih besar dari jumlah pasukan mereka saat ini.


“Paman, bagaimana rencana kita bocor? Siapa yang telah berani memberikan informasi ini kepada Jaka?” tanya Aryo memotong penjelasan pria sepuh.


“Aku juga penasaran siapa yang telah berani bersekongkol dengan pihak lawan dan mencoba menusuk kita dari belakang?” tanya raja Gardi selanjutnya.


Pria sepuh memandangi keduanya sebelum memerintahkan prajurit membawa seseorang dengan tangan terikat di belakang dan kepalanya ditutupi dengan karung. Ketika karung itu dibuka semua orang terkejut bukan main karena sosok yang terlihat sekarang adalah Patih Sentot yang tidak lain adalah wakil dari pimpinan pasukan pemberontak.

__ADS_1


“Paman,  mungkin kah...” pertanyaan Aryo tidak sempat selesai karena segera dipotong oleh pria sepuh.


“Betul tuan muda, Patih Sentot adalah dalang dari bocornya informasi pemberontakan kita. Kami sudah menyelidikinya selama beberapa bulan dan 4 hari yang lalu kami berhasil memergoki dia sedang bertemu dengan pihak kerajaan Adipura dan Kendala” ucap pria sepuh menerangkan.


Pria sepuh juga menjelaskan tentang bonyoknya wajah Patih Sentot sekarang karena saat ditangkap dan dimintai keterangan Patih Sentot memilih bungkam mulut. Patih Sentot bersikeras menutup mulut namun sekitar 2 hari disiksa akhirnya Patih Sentot mulai buka suara.


Penjelasan demi penjelasan yang disampaikan pria sepuh membuat beberapa orang dalam rapat naik darah dan mencoba melampiaskan kemarahan kepada Patih Sentot. Susana di ruang rapat akhirnya ricuh karena ramai yang menuntut agar Patih Sentot dihukum mati karena bekerja sebagai mata-mata musuh.


Aryo begitu terpukul karena yang menjadi mata-mata adalah orang kepercayaannya dalam pemberontakan ini. Dia tidak menyangka akan dikhianati oleh orang dekatnya dan amarah sedikit demi sedikit mulai merasuki pikirannya.


Aryo berjalan menuju arah Patih Sentot berada, ketika sudah dekat sebuah tamparan mendarat di pipi Patih Sentot yang membuatnya terjatuh ke lantai. Tamparan itu sebenarnya tidak keras namun keadaan Patih Sentot yang sudah lemas tidak bisa memberikan dia kekuatan untuk berdiri terlalu lama.


Suasana yang ribut kemudian menjadi hening karena tindakan Aryo barusan. Aryo masih berdiri sambil memandang ke arah Patih Sentot namun tak lama, kini pandangannya beralih ke seluruh orang yang berada di ruangan rapat.

__ADS_1


“Aku akan memastikan bahwa Patih Sentot akan menerima hukuman setimpal atas perbuatannya. Tapi bagaimanapun keadaannya rencana pemberontakan akan tetap dijalankan sesuai kesepakatan kita bersama” ucap Aryo mencoba mengambil simpati kepada orang-orang dalam ruangan rapat mengingat dia sudah melihat ada raut wajah keraguan beberapa orang yang telah menyaksikan dan mendengarkan penjelasan pria sepuh.


Suasana kembali ricuh karena perkataan Aryo barusan, banyak yang menyetujui untuk terus melakukan pemberontakan namun juga tidak sedikit yang mulai ragu untuk ikut terlibat. Sampai suara seorang wanita memecah keributan itu.


“Maaf tuan muda, aku sebagai ratu kerajaan Surka tidak bisa ikut lagi dalam aliansi ini. Mengingat kerajaan kami lah yang paling lemah di sini kami tidak bisa mengambil resiko besar akan peperangan ini. Kami akan lebih memilih posisi netral setelahnya” ucap ratu Arum kepada Aryo yang seketika membuat semua pandangan sekarang tertuju kepadanya.


“Mengapa begitu cepat berubah pikiran ratu? Bukankah engkau ingin membalas Budi terhadap tuan muda Aryo, kenapa sekarang memilih memundurkan diri?” tanya raja Gardi mencoba mencairkan suasana.


“Tuan muda Aryo pasti paham akan perkataan ku barusan, dan aku harap tidak ada salah paham disini. Sekali lagi aku minta maaf” ucap ratu Arum sembari berjalan keluar ruangan setelah menyelesaikan kata-katanya.


Suasana kembali ricuh saat ratu Arum keluar dari ruangan rapat diikuti oleh penjaganya serta orang-orang yang memutuskan untuk tidak ikut lagi dalam aliansi pemberontakan.


Aryo kini hanya berdiri mematung karena semua rencana yang telah lama ia susun harus berakhir seperti ini, dia tidak menyangka bahwa aliansi yang sudah ia bentuk telah berkurang separuhnya dalam waktu singkat.

__ADS_1


__ADS_2