
“Tuan muda kita harus segera mundur dari sini, ingat rencana yang telah disiapkan oleh Patih Purno”, Subani mengingatkan Aryo akan rencana yang telah mereka buat. Ini dia lakukan karena melihat sikap Aryo yang seperti marah kepada lawannya, mungkin alasan pribadi menurutnya. Aryo terus menyerang sementara pasukannya yang diperintahkan untuk mundur menjadi bertahan melihat sikap dari pimpinan mereka.
“Tuan muda! Tuan muda!”, Subani setengah berteriak kepada Aryo. Aryo seperti kehilangan kesadaran saat itu membuatnya harus bertindak sedikit tegas. Aryo tersentak mendengar teriakan itu, dia memandangi sekitarnya yang telah dihiasi oleh mayat-mayat lawannya yang telah ia habisi. Sementara lawannya mencoba menjaga jarak darinya, takut akan menjadi sasaran dari amukan Aryo lagi.
“Apa yang ku lakukan? Ah... Iya rencana Patih Purno”, Aryo baru saja terbangun dari keterkejutannya, dia lantas mencoba mengingat apa yang harus dilakukannya dan dalam sekejap menemukannya. “Cepat mundur!!!”, Aryo kembali berteriak kepada pasukannya. Pasukannya langsung bergerak mundur sedangkan pasukan yang berada di dekat lawan bertugas untuk melindungi rekannya dari kejaran pasukan lawan.
Melihat pasukan pemberontak mundur membuat pria misterius tertawa, belum sampai dia ke medan perang nyali dari lawannya telah membuat mereka lari pikirnya. Dia mengumpulkan tenaga dalam lalu mengalirkannya ke pita suaranya, “Musuh sudah kewalahan! Serang mereka habis-habisan!”, perintah pria misterius kepada rekan-rekan pasukan berkudanya.
Mereka lantas memacu kuda tersebut menjadi lebih cepat lagi, hentakan demi hentakan dari kaki kuda mereka yang bertemu dengan permukaan tanah membuat debu yang sangat pekat. Patih Purno yang melihat hal itu tersenyum, baginya itu adalah sebuah kesalahan besar. Pasukan di depan tidak akan mendapat dampak dari debu itu, sementara di belakang mereka akan mendapatkan sesuatu hal yang buruk. Hal itu tidak lain adalah jarak pandang mereka yang sangat terbatas mengingat debu yang mereka dapatkan, ini merupakan sebuah peluang besar dalam rencana Patih Purno.
Patih Purno memberi aba-aba pada pria sepuh untuk bersiap-siap, pria sepuh menanggapi aba-aba dengan berseru lantang, “Pemanah bersiap!”, pria sepuh menyiapkan pasukan yang dipimpinnya. Dia terus melihat ke arah Patih Purno, menunggu aba-aba berikutnya.
“Tuan muda saatnya giliran kita yang mundur”, Subani berucap kepada Aryo.
“Baik paman”, Aryo menjawab dengan singkat. Keduanya beserta pasukan yang bertugas menahan gerakan lawannya sekarang mundur dengan cepat, mereka berbalik badan dan berlari sekencang-kencangnya ke arah benteng pemberontak.
__ADS_1
“Cepat buka jalan!”, perintah salah satu Patih kepada pasukan kerajaan Adipura. Mereka diminta membuka jalan agar pasukan berkuda pria misterius bisa lewat dengan mudah dan menyerang pasukan lawan yang bergerak mundur dengan cepat. Tidak butuh waktu lama pasukan berkuda pria misterius telah melewati mereka, “Cepat bergerak! Kita susul dari belakang!”, perintah Patih itu lagi.
Pria misterius tersenyum penuh kemenangan saat melihat lawan mereka kabur dari hadapannya, dia tidak menyangka bahwa perang ini bahkan tidak sempat membuatnya mengeluarkan pedangnya. Namun baginya musuh yang mundur tetaplah musuh, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan memacu kudanya lebih cepat. Dalam sekejap kudanya berhasil mengejar salah satu pasukan pemberontak yang tertinggal jaraknya cukup jauh dari Aryo dan Subani.
Salah satu orang itu adalah pasukan yang dibawa oleh Subani dari padepokannya, dia adalah salah satu orang yang memiliki usia paling muda dari semua pasukan yang dibawa Subani. Merasa dirinya telah menjadi sasaran lantas dia berhenti dan berbalik badan menghadap ke arah pria misterius yang menunggangi kudanya menuju ke arahnya dengan cepat.
*
Laki-laki muda itu lantas bersiap menghadapi lawannya, dia memasang kuda-kuda dan memegang golok yang menjadi senjatanya. Jarak diantara keduanya sudah dekat, dengan seluruh tekadnya dia melompat ke arah pria misterius berniat menebas lawannya dengan golok ditangannya.
Namun karena kekuatan yang terpaut sangat jauh membuat serangan itu menjadi sia-sia sahaja. Dengan mudah pria misterius menghindar dan memberikan luka tebasan tepat di perut laki-laki muda itu. Lantas laki-laki muda itu jatuh ke tanah dengan luka parah, pria misterius memang tidak ingin membunuhnya. Dia ingin menyiksa lawannya tepat di depan mata pasukannya agar mereka menjadi bersemangat lagi.
Dengan sigap pria misterius mengikat kaki dari laki-laki muda itu dengan erat dan setelahnya dia menaiki kudanya. Dia memacu kudanya sekencang-kencangnya membuat laki-laki muda itu terseret tak berdaya dibuatnya. Subani yang melihat perbuatan dari lawannya kepada salah satu pasukan yang ia bawa membuat hatinya menjadi geram, dia mengutuk perbuatan yang telah dilakukan pria misterius.
Subani ingin berbalik arah menuju ke arah lawannya datang, namun dengan sigap Aryo menghalau gerakan dari Subani, “Aku tahu kemarahan yang paman rasakan. Tapi kita tidak ada waktu, rencana sudah disiapkan paman. Sebelumnya kita sudah ditugaskan harus mundur apapun situasinya”, Aryo mencoba mengingatkan Subani yang ingin maju ke arah lawan.
__ADS_1
“DIA MASIH SANGAT MUDA!!! AKU HARUS MENOLONGNYA!!!”, pekik Subani kepada Aryo. Amarahnya benar-benar tidak dapat dibendung melihat perbuatan dari lawannya terhadap rekannya barusan. Matanya merah melotot ke arah Aryo, Aryo yang melihat hal itu lantas terkejut dengan sikap dari Subani.
Menurutnya itu wajar karena barusan dia juga mengalaminya, amarah yang timbul akan membuat seseorang yang bahkan periang pun akan berubah menjadi liar karena amarah itu tadi. Aryo dengan segala keterkejutannya mencoba tenang, “Paman, dia sudah tidak bisa diselamatkan! Dia sudah menerima konsekuensi bahwa mati adalah hal pasti di dalam peperangan, dia telah menjadi pendekar terhormat yang tidak pernah takut menghadapi lawannya!”, Aryo kembali mengingatkan Subani dengan kata-katanya.
Subani yang awalnya marah akhirnya perlahan menjadi tenang, perkataan dari Aryo adalah hal fakta yang telah terjadi. Ketika seseorang menghadapi perang maka kematian yang akan menemani di segala aktivitas mereka. Subani dengan paham betul bahwa ini tidak dapat dihindari, dia menghembuskan nafas pelan dan menerima semua yang telah terjadi.
Keduanya berhenti cukup lama, jarak mereka dan pasukan berkuda lawan sudah terpaut cukup dekat. Tidak ada waktu lagi untuk lari, mereka akhirnya memutuskan diam di tempat. Aryo memegang pedangnya sementara Subani mengeluarkan goloknya bersiap menghadapi pasukan lawan yang datang ke arah mereka.
“Terjang orang-orang itu!”, perintah pria misterius kepada pasukan berkudanya. Saat jarak mereka sudah hampir dekat tiba-tiba saja ribuan anak panah melesat jatuh ke kerumunan pasukan berkuda pimpinan pria misterius. Anak-anak panah itu berhasil membuat pasukan lawan berjatuhan, baik karena mengenai orangnya ataupun kudanya.
_______________________________________________
Maaf untuk beberapa hari ke depan saya tidak akan mengupdate episode baru, karena status saya sebagai mahasiswa harus membuat saya berhenti menulis untuk sementara. Saya akan menyambung cerita ini di lain waktu, mohon bersabar kepada setiap pembaca novel pendekar pedang dewa naga.
Saya juga ingin merekomendasikan sebuah karya berjudul “Merintis Luka” karangan Badut Pajangan. Karya ini bercerita dengan genre romansa modern, bagi anda yang menyukai cerita-cerita dengan nuansa seperti itu mari kita ramaikan novel ini.
__ADS_1
Itu saja yang ingin saya sampaikan, sampai jumpa di lain waktu. Terima kasih.