
Sopo sing kuat nandhang kahanan
(Siapa yang kuat dalam situasi itu)
Sopo seng ora kroso kelangan
(Siapa yang tidak merasa kehilangan)
Ditinggal pas sayang sayange
(Ditinggal pas lagi sayang sayangnya)
Pas lagi jeru jerune
(Ketika sudah dalam-dalamnya)
Koe milih dalan liyane
(Kamu memilih jalan lain)
Sopo sing kuat ditinggal lungo
(Siapa yang kuat ditinggal pergi)
__ADS_1
Sopo sing atine ora loro
(Siapa yang hatinya tidak luka)
Kenangan sing wis tak lakoni
(Kenangan yang saya buat)
Tak simpen ning njero ati
(Ku simpan di dalam hati)
Dewe wes ra dadi siji
(Kita sudah tak lagi bersama)
“Non, sudah hampir tengah malam. Sebaiknya non istirahat dan tidur” ucap bik Sekar saat menghampiri Sinta.
“Bik, aku belum terlalu mengantuk. Mungkin sebentar lagi, bisakah bibik temani aku bercerita sebentar” pinta Sinta balik.
“Baik non” jawab bik Sekar dengan pelan.
Bik Sekar adalah seorang wanita yang sudah berumur dan dikenal sebagai seorang tabib dan untuk urusan membantu proses kelahiran dia bisa dibilang sudah paham dengan hal itu.
__ADS_1
Aryo meminta bik Sekar untuk menjaga Sinta sampai proses melahirkannya selesai sambil menunggu dia pulang dari medan perang. Bik Sekar menyanggupi permintaan tersebut karena bik Sekar memang selalu senang dengan anak bayi seolah-olah itu adalah anaknya sendiri.
Ini dikarenakan bik Sekar tidak bisa mengandung disebabkan suatu penyakit yang membuatnya menjadi mandul. Dia pernah berlarut dalam kesedihan namun suatu hari jalan pikirannya kembali cerah dan memutuskan belajar tentang membantu proses persalinan dan sampai sekarang masih melakoninya.
*
Malam ini bulan bersinar terang tanpa ditemani gemerlapan bintang. Aryo duduk di atap kamarnya dan mulai berpikir tentang keadaan istrinya. Dia saat ini merindukan kebersamaan saat ke duanya menghabiskan waktu di rumah.
Aryo memejamkan matanya dan mulai berkhayal bahwa istrinya sekarang ada di sampingnya. Kenangan demi kenangan mulai melintas dalam pikirannya dan membuatnya tersenyum terus menerus. Dia sudah tak sabar pulang demi melihat bayi yang telah mereka tunggu selama ini. Dia juga mulai mencari nama untuk bayinya nanti dan setelah menemukannya senyuman kini menghiasi wajahnya.
“Nama yang bagus bukan ayah? Aku yakin dia akan punya nama besar ketika sudah dewasa” ucap Aryo sambil memandang langit.
Aryo seolah-olah sedang berbicara kepada mendiang ayahnya, entah sebuah firasat atau apa Aryo yakin anaknya kelak pasti seorang lelaki dan akan membuat perubahan yang besar ke depannya.
“Dinda, apakah saat ini engkau merasakan hal yang sama seperti kanda?” tanya Aryo dalam hatinya.
Aryo terus termenung memikirkan keadaan istrinya, perasaan rindu dan khawatir bercampur aduk di hatinya. Dia ingin segera pulang namun ada hal lain yang menuntutnya untuk sementara jauh dari istrinya tersebut.
Angin malam berhembus pelan dan seketika rasa lelah mulai mendatangi Aryo. Dia menguap dan mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar karena mengantuk. Aryo memutuskan untuk beristirahat dan mulai tidur untuk menghadapi hari esok.
“Aku penasaran nama apa yang akan dia gunakan untuk anaknya nanti” ucap Dewi Banyu.
“Kalau namanya tidak bagus, aku bersedia memberikan nama yang lebih baik” balas Dewa Bledheg sambil tertawa.
__ADS_1
“Cukup bercandanya, aku yakin nama yang akan dipilih pasti akan bagus dan memang yang terbaik” balas Dewa Bayu juga tidak mau ketinggalan.
Ke-3 Dewa Dewi ini sedang mengamati Aryo dari atas langit karena permintaan dari Dewa Bayu sendiri. Dewa Bledheg dan Dewi Banyu mengiyakan ajakan Dewa Bayu, keduanya juga ingin melihat perang yang sebentar lagi akan terjadi.