Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
43. Perang dimulai (5)


__ADS_3

Serangan brutal dan penuh nafsu membunuh tertuju kepada Patih Purno. Lawannya begitu ingin membunuhnya, Patih Purno menjadi kewalahan menghadapi serangan itu. Sementara lawannya tanpa henti terus mengeluarkan setiap jurus mematikannya.


Jeda waktu serangan demi serangan dari lawannya sangat sedikit, membuatnya kesusahan dalam bertahan dari serangan lawan. Sebuah tebasan menyamping diarahkan Patih Purno ke lawannya namun dengan sigap lawannya menangkis serangan itu. Saat serangan itu berhasil ditangkis lawannya baru menyadari makna dari tebasan menyamping itu.


Patih Purno sengaja mengambil tindakan itu agar dia mendapat kesempatan untuk mundur sesaat. Kini keduanya berdiri di jarak yang cukup jauh, perhatian keduanya tidak pernah teralihkan oleh keadaan sekitar. Pandangan mereka saling bertemu dengan raut wajah sangat serius karena sedang menghadapi duel sampai salah satu dari mereka harus mati.


“Sebagai pendekar kau pasti punya nama, sebelum melanjutkan duel kita alangkah baik jika saling mengenal nama masing-masing”, Patih Purno mengajak bicara lawan duelnya.


“Ciuhhhh”, pria misterius meludah ke tanah, “Setakut itu kau dengan kekuatan ku sampai harus mencari suasana seperti ini?!. Dasar bajingan licik!”, pria misterius masih tersulut emosi.


“Aku tidak takut dengan kekuatan dari seorang pendekar gila seperti kau!”, balas Patih Purno dengan berteriak.


“Bangsat!!! Sudah cukup!!! Aku pendekar dengan julukan banteng hitam tidak akan membiarkan kau hidup lebih lama!!!”, pria misterius kembali tersulut emosinya yang terus membara. Dia kemudian berlari untuk mempersempit jarak diantara keduanya.


“Pendekar banteng hitam, akan ku ingat nama itu”, Patih Purno ikut berlari ke depan menyambut serangan lawannya. Kini mereka berdua melanjutkan duel dengan saling bertukar serangan dan jurus-jurus yang mereka miliki masing-masing.


Serangan brutal dari lawannya masih sama seperti tadi, namun kini Patih Purno dapat mengimbanginya. Salah satu hal yang membuat Patih Purno disegani adalah cepatnya dia belajar tentang cara mengatasi serangan lawannya. Dengan pemikiran yang cerdas dalam waktu singkat dia mampu membaca gerakan demi gerakan dari lawannya, sungguh sebuah bakat yang sangat bagus.


Pria misterius terkejut karena sebelumnya dia dapat mendesak lawannya ini, namun sekarang serangan demi serangan yang ia lancarkan dengan mudah dapat ditahan oleh lawannya. Dia mencoba menaikkan tempo serangannya lagi namun hal itu sama saja dengan yang tadi, tidak ada satu serangannya yang mampu membuat lawannya terdesak.

__ADS_1


Patih Purno mengamati serangan lawannya terus menerus sambil menangkis serangan itu. Dia sengaja bertahan agar staminanya tidak terkuras dengan cepat, sementara lawannya terus menyerang tanpa jeda sedikitpun. Saat ini pandangannya tertuju kepada luka yang telah dia torehkan kepada lawannya, luka itu kini tidak mengeluarkan darah. Dia yakin lawannya menggunakan tenaga dalam untuk menghentikan pendaran dari lukanya.


“Kesempatan akan datang sebentar lagi”, batinnya berbicara. Kini dia menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan mematikan miliknya.


*


“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya paman?”, Aryo bertanya kepada Subani setelah melihat pasukan berkuda di pihaknya sekarang sedang bertarung dengan pasukan lawan.


“Aku tidak yakin kita akan membantu di sana tuan muda, tidak ada perintah yang diberikan oleh Patih Purno. Mari kita percayakan semuanya kepada dia, pasti dia sedang merencanakan hal yang baik untuk kita nanti”, Subani membalas pertanyaan Aryo. Menurutnya jika ikut dalam pertarungan itu maka mereka tidak akan banyak membantu.


Ini wajar karena banyak diketahui bahwa pasukan berkuda adalah pasukan berani mati dan dalam beberapa hal pasukan ini seperti pasukan setan. Apa yang mereka lihat di depan tidak akan luput dari serangannya, dengan kuda yang dilatih untuk berlari dengan cepat serta kemampuan bertarung yang baik dari penunggangnya membuat mereka sangat mudah dalam membunuh pasukan musuh.


Duel diantara Patih Purno dan pria misterius masih berlanjut. Keduanya masih terus saling bertukar serangan, namun kini Patih Purno sedikit mendominasi serangan diantara keduanya. Ini disebabkan oleh stamina pria misterius yang terus-menerus terkuras akibat serangannya yang tanpa jeda tadi.


Melihat lawannya sudah ngos-ngosan membuat Patih Purno menaikkan tempo serangannya, tombaknya menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Lawannya sedikit kesusahan mengimbangi serangan tombaknya, dan semakin lama serangan tombak itu akhirnya membuat lawannya terdesak.


Dengan gerakan seperti air yang mengalir tiap-tiap serangan Patih Purno mengalir lurus ke depan dan saling berkesinambungan dengan tangannya. Pola serangannya menjadi lebih rumit serta memiliki tenaga yang cukup besar untuk menekan lawannya saat ini. Dia terus melancarkan serangan demi serangan yang terfokus pada bagian atas tubuh lawannya.


“Pematah besi!!!”, Patih Purno mengeluarkan jurus andalannya untuk menyerang lawannya, dia mengayunkan tombaknya seperti ingin memukul lawannya dari atas. Jurus ini berguna untuk mematahkan pedang dengan gagang tombaknya yang kuat. Pria misterius tidak mengetahui akan akan kegunaan jurus lawannya itu lantas dia menahan serangan itu dengan pedangnya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya pria misterius setelah pedangnya bertemu dengan gagang tombak lawannya membuat pedangnya patah menjadi dua. Pedang itu langsung patah begitu saja tanpa ada keretakan yang terdapat di pedang itu, ini wajar karena kekuatan serangan dari Patih Purno menggunakan separuh kekuatan yang ia miliki. Jurus andalannya inilah yang membuatnya terkenal sebagai Patih tombak besi, sebuah julukan yang sesuai dengan jurus andalannya.


Pria misterius kini terduduk jatuh ke tanah dengan darah mengucur deras dari kepalanya. Karena pedangnya yang tak mampu menahan serangan lawannya berimbas dengan kepalanya yang menjadi sasaran empuk dari serangan lawannya barusan. Pandangannya kabur dan seluruh badannya tidak bisa ia gerakkan, Patih Purno mendekatinya sembari berseru lantang.


“Pendekar banteng hitam, hari ini adalah hari kematian kau!”, setelah berkata begitu Patih Purno melakukan sebuah gerakan menebas dengan tombaknya. Akhirnya riwayat hidup pria misterius harus berakhir hari ini dengan kepalanya yang terpisah dari tubuhnya.


Pasukan Patih Purno yang menyaksikan duel diantara keduanya bersorak gembira ketika lawan pimpinan mereka akhirnya harus merenggut nyawa di tangan Patih Purno. Sorak-sorai mereka menggema membuat pasukan yang dipimpin pria misterius menjadi ciut nyalinya karena pimpinan mereka telah kalah dalam pertarungannya.


“Hidup Patih Purno!!!”


“Kalahkan yang lain!”


“Cepat buat formasi mengepung!”, Patih Purno memberi perintah kepada pasukannya. Dengan gerak cepat pasukannya akhirnya berhasil mengepung sisa-sisa pasukan berkuda pimpinan pria misterius. Dan tanpa menunggu komando lagi dengan serempak mereka merengsek maju mengapit pasukan lawan dari segala arah.


Bak seperti mangsa yang di kepung predator, pasukan berkuda lawan mentalnya jatuh drastis. Kepungan itu begitu rapat, dan siapa saja yang mendekat akan menemui kematian yang cepat. Beberapa dari mereka bahkan sudah menyerah dengan situasi itu, mereka meletakkan pedang ke tanah dan mengangkat tangan setinggi mungkin agar lawannya melihat mereka yang sudah menyerah. Sementara beberapa petinggi pasukan lawan murka dengan sikap prajurit sesama mereka yang telah menyerah tanpa diminta.


“Jangan menyerah! Tetap lawan mereka!”, perintah seorang Patih yang posisinya di bawah pria misterius. Dia terus meneriaki para prajuritnya yang sedikit demi sedikit terus berlutut ke tanah dengan tangan diangkat ke atas. Dia menjadi berang dengan perbuatan prajuritnya, “Mati saja kalian pengecut!!!”, Patih itu lantas bergerak maju ke arah prajuritnya yang telah menyerah, menyerang mereka bahkan tidak segan membunuhnya padahal notabennya prajurit itu adalah bawahannya sendiri.


 

__ADS_1


 


__ADS_2