Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
37. Lautan musuh datang


__ADS_3

Jauh dari ketenangan yang diberikan oleh alam di lain sisi sedang dilanda perasaan resah serta khawatir. Saat ini di markas pemberontak sedang sibuk-sibuknya karena mendapat laporan dari pasukan pengintai bahwa pasukan lawan hampir mendekati benteng mereka. Aryo yang mendengar laporan itu seperti mendengar petir di siang bolong, perkiraan mereka meleset. Ternyata pasukan lawan tiba lebih cepat satu hari dari informasi yang berhasil di korek dari Patih Sentot.


Sebagai pimpinan dari pasukan pemberontak Aryo harus bersikap tenang dan memikirkan segala tindakan dengan baik. Dia tidak boleh memperlihatkan rasa khawatirnya kepada bawahannya. Diskusi diadakan di ruang rapat, para tamu aliansi sudah berkumpul di ruangan menunggu instruksi jika perang akan segera di mulai.


“Tuan-tuan sekalian mohon tenang, sebentar lagi Patih Purno akan menjelaskan kembali rencana yang telah disusunnya. Mohon untuk mendengarkan secara seksama, agar strategi ini berjalan sesuai harapan kita”, ucap pria sepuh ketika ruangan rapat masih sedikit ricuh dengan perbincangan di antara tamu aliansi.


Seketika tamu rapat menjadi diam ketika Patih Purno berdiri dan maju ke depan. Dengan wajah serius dia menatap tamu rapat di ruangan itu. Kemudian dia mulai menjelaskan rancangan strategi yang telah dia buat, “Lakukan seperti diperintahkan, komando dipegang oleh tuan Aryo dan wakilnya oleh tuan Subani. Sedangkan pasukan pemanah aku serahkan kepada paman Seto”, ucap Patih Purno menjelaskan kepada pihak aliansi siapa-siapa saja yang menjadi pimpinan dalam perang yang sebentar lagi akan terjadi.


Paman Seto dalam penjelasan tadi tidak lain adalah nama dari pria sepuh. Alasan Patih Purno memerintahkannya untuk memimpin pasukan pemanah adalah karena faktor usianya. Tidak menutup kemungkinan perang ini akan menjadi sangat berat sebelah, mengingat pasukan musuh berkekuatan empat kali lipat dari pasukan mereka saat ini. Pria sepuh paham betul kekurangannya, dia memaklumi bahwa usianya akan menjadi kekurangan nanti. Namun dia tidak menyangka bahwa Patih Purno memberikan dia tugas untuk memimpin pasukan pemanah.


“Tidak akan sedikit dari kita yang akan gugur jika perang ini terjadi. Tapi dengan perang ini kita akan membuktikan bahwa kebaikan masih ada di dunia ini dan selalu siap melawan kejahatan yang selalu muncul. Berjuanglah sekuat mungkin, musuh kita memang banyak. Tapi hati dan tekad kita lebih kuat dari jumlah mereka! Mari saudara-saudara sekalian kita menyerahkan seluruh kemampuan untuk menghadapi lawan kita hari ini!”, Patih Purno membakar semangat juang dari pasukan pemberontak. Dengan suara lantang Patih Purno berhasil membuat seluruh ruangan rapat menjadi ricuh dengan teriakan semangat tempur pasukan pemberontak.


“Paman, mari kita berjuang sekuat mungkin”, ucap Aryo kepada pria sepuh sambil tersenyum hangat.


“Terima kasih tuan muda, mari kita lanjutkan perjuangan untuk menegakkan keadilan”, jawab pria sepuh diiringi teriakan semangat tempur dari pihak aliansi.


“Yeeeaahahhhhhhhhhh”


“Untuk keadilan!”

__ADS_1


“Keadilan harus ditegakkan!”


Sorak-sorai semangat pertempuran menggema di ruangan rapat itu, dengan seluruh harapan dan semangat yang membara para pasukan pemberontak mengangkat senjata mereka ke atas. Tidak ada keraguan dalam hati mereka, menang dan kalah itu adalah hal wajar dalam sebuah peperangan.


Patih Purno tersenyum melihat semangat dari pasukan pemberontak, dia juga berharap setidaknya mereka bisa meraih kemenangan walaupun itu merupakan hal yang mustahil. Dia memandangi tombak yang sedang dipegangnya erat-erat, dia bersumpah di dalam hati lebih baik mati melawan kejahatan yang terjadi daripada diam menyaksikan kejahatan terus merajalela.


Aryo menoleh ke arah Patih Purno yang sontak dibalas dengan anggukan kepala oleh Patih Purno menandakan dia mengerti. “Mari kita berdiri tegak menghadap lawan kita hari ini!”, ucap Aryo dengan suara lantangnya, seisi ruangan ikut berdiri bersama Aryo sekarang. Kemudian mereka keluar dari ruangan rapat dan bergerak menuju tempat masing-masing sesuai dari strategi yang telah direncanakan.


*


Pasukan kerajaan Adipura yang beraliansi dengan kerajaan Kendala baru sampai pada titik yang telah ditentukan. Sekarang mereka sudah dekat dengan markas pemberontak, dan segera berbaris rapi bersiap menghadapi lawannya. Raja Jaka berada di barisan paling depan ditemani menteri Balda dan pria misterius, sedangkan wanita muda dari pulau Sulagendi berada di tengah-tengah pasukan. Dia terus-menerus menguap karena baru terbangun dari tidur lelapnya, suara pasukan yang bersiap menghadapi perang membuatnya terbangun dari tidurnya.


“Justru lawan yang akan diuntungkan, seharusnya kita tidak bergerak secepat ini. Stamina dari pasukan kita sekarang tidak dalam kondisi prima, jika lawan menyerang dengan seluruh pasukannya aku yakin separuh dari pasukan kita akan menjadi korban dari perang ini”, menteri Balda yang sudah lama berkecimpung dalam peperangan sudah mengerti akan kesalahan yang telah diperbuat pasukan pimpinan raja Jaka.


Menteri Balda hanya diam dan tidak ambil pusing dengan keputusan raja Jaka. Menurutnya ini akan menjadi pelajaran yang bagus atas keegoisan dan kebodohan yang telah dilakukan raja Jaka sendiri. Dia tidak terlalu memperdulikan pasukannya dan hanya berfokus pada cara bagaimana perang ini akan dimenangkan oleh pihaknya. Menteri Balda kemudian menghela nafas pelan sambil menggelengkan kepalanya merasa sudah tidak ada harapan terhadap raja Jaka.


Raja Jaka justru merasa senang dengan pencapaiannya sekarang, menurutnya musuh akan kalang kabut melihat jumlah pasukan pimpinannya. Sebelumnya dia tidak akan bersikap seperti ini karena dia patuh terhadap menteri Balda yang sangat dia hormati. Namun ketika dalam waktu perjalanan wanita muda secara diam-diam mendekati raja Jaka. Raja Jaka yang telah mendengar seluk beluk wanita muda dari menteri Balda mencoba menjaga jarak, dia tidak ingin mencari masalah dengan wanita ini.


Raja Jaka terus menghindar dari wanita muda yang mencoba mendekatinya, sedangkan wanita muda merasa seperti sedang bermain dengan seekor kucing. Pada suatu malam saat raja Jaka sedang tertidur lelap di tendanya, wanita muda datang diam-diam menemuinya. Melihat raja Jaka yang tertidur wanita muda lantas ikut berbaring di sebelah raja Jaka. Wanita muda kemudian mengelus lembut dada bidang raja Jaka yang terbuka karena saat tidur raja Jaka tidak pernah menggunakan pakaian.

__ADS_1


Elusan dari tangan dengan kulit yang lembut membuat raja Jaka menjadi nyaman. Tanpa sadar badannya mengejang dan dia tersadar dari tidurnya. Saat tersadar raja Jaka mendapati bahwa wanita muda berbaring di sebelahnya dengan senyuman menggoda ke arahnya. Raja Jaka coba berdiri untuk segera menjaga jarak, namun gerakannya kalah cepat dengan tangan wanita muda.


Wanita muda lantas menarik lengan raja Jaka membuatnya akhirnya kembali berbaring ditemani wanita muda. Wanita muda lantas bergerak aktif dengan langsung mencium bibir dari raja Jaka, ciuman itu begitu kuat dan nakal membuat raja Jaka larut dalam perlakuan wanita muda. Keduanya akhirnya saling melampiaskan hasrat bersama-sama malam itu dan semenjak hari itu raja Jaka dan wanita muda menjadi dekat hari demi hari.


“Tidak perlu khawatir dengan ucapan lelaki tua itu, percayalah dengan kekuatan kita”, begitulah ucapan dari wanita muda kepada raja Jaka. Raja Jaka yang telah jatuh cinta kepada wanita muda lantas mengiyakan perkataannya barusan. Semenjak hari itu kedekatan raja Jaka dan menteri Balda menjadi berkurang. Menteri Balda awalnya heran karena sikap raja Jaka yang seolah-olah menghindarinya saat ini. Dia belum mengetahui bahwa alasan dari raja Jaka itu adalah karena hasutan dari wanita muda yang bergabung di pasukannya dengan rekomendasi setan merah.


“Ampun raja, dari markas pemberontak tampak 3 orang menunggangi kuda sedang menuju kesini”, salah satu prajurit yang ditugaskan mengintai markas pemberontak melaporkan apa yang telah dilihatnya.


“Cepat kembali ke pasukan mu, siapkan para prajurit yang lain!”, raja Jaka memberi perintah yang segera dilakukan oleh prajurit di depannya.


________________________________________________


Terima kasih kepada seluruh pembaca setia novel pendekar pedang dewa naga, maaf untuk beberapa pembaca yang telah berkomentar sampai saat ini belum pernah saya balas komentarnya. Namun berkat komentar anda kepada saya membuat saya merasa senang dan semangat dalam menulis cerita ini.


Maaf jika cerita yang telah saya buat menurut anda kurang menarik, atau terlalu membosankan. Saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk membuat cerita ini agar digemari oleh banyak orang. Semoga karya ini akan terus berkembang dan menjadi sebuah karya yang dapat kita nikmati bersama.


Untuk para pembaca yang menyukai cerita dengan genre romansa modern saya ingin memperkenalkan sebuah karya yang telah dibuat oleh teman saya sendiri. Karya ini berjudul “Merintis Luka” karangan Badut Pajangan, anda bisa mencarinya dan membacanya di aplikasi ini juga. Mari ramaikan karya baru teman saya dan jangan lupa berikan like jika anda menyukai isi ceritanya.


Sekian yang dapat saya sampaikan, maaf jika dari kata-kata saya terdapat kesalahan. Atas perhatian yang telah anda berikan saya ucapkan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2