Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
44. Perang dimulai (6)


__ADS_3

Pasukan bala bantuan musuh datang berbondong-bondong menuju tempat pasukan berkuda mereka berada. Pasukan itu maju dengan cepat bahkan terkesan tergesa-gesa, mereka berteriak dengan lantang bersiap menghadapi pertarungan melawan musuh.


Patih Purno mengumpulkan kembali pasukannya bersiap menghadapi lawan yang sebentar lagi akan datang. Pertempuran sesama pasukan berkuda dari kedua belah pihak tadi telah membuat pasukannya berkurang seperempat. Dengan pasukan yang jumlahnya jauh dari pasukan musuh nyatanya pasukan yang dipimpin oleh Patih Purno mampu memenangkan pertempuran mereka.


Patih Purno berada di barisan paling depan dengan salah satu prajurit pilihannya berada di samping membawa bendera. Bendera ini lah yang berguna sebagai pengirim pesan untuk pasukan pemanah pimpinan pria sepuh.


Derap langkah yang bertemu tanah menggebu-gebu terdengar di setiap telinga pasukan pemberontak. Musuhnya berlari sekencang mungkin ke arah medan perang dengan jumlah yang begitu banyak, berniat membuat pasukan pemberontak menjadi ciut nyalinya. Namun semua itu sia-sia, pasukan pemberontak sudah begitu bersemangat dalam menghadapi perang ini.


“Sebentar lagi, sebentar lagi”, batin Patih Purno terus berucap kata-kata itu berulang kali. Dari jauh dia terus memperhatikan gerakan lawannya. Saat lawannya sudah berada di lautan mayat kuda yang menjadi korban pertama dari serangan anak panah pasukan pemberontak, prajurit di samping Patih Purno yang memegang bendera lantas bertanya kepadanya.


“Bagaimana Patih? Apakah sudah saatnya?” tanya prajurit itu karena saat ini pasukan lawan sudah berada di jarak jangkauan pasukan pemanah mereka.


“Masih belum, tunggu mereka masuk lebih dalam setelah melewati mayat-mayat dan kuda itu!”, Patih Purno menjelaskan maksudnya, “Tunggu sebentar lagi, hanya sebentar”, Patih Purno berbicara kepada prajuritnya namun pandangannya tidak dia alihkan dari pasukan musuh yang bergerak ke arah mereka.


Pasukan musuh terus merengsek maju ke depan, walau sempat kesusahan karena jalan yang ditutupi oleh lautan mayat namun separuh dari mereka berhasil melewatinya dan separuh lagi masih terbata-bata dalam berjalan melewati lautan mayat itu.


Saat separuh pasukan musuh telah melewati lautan mayat, Patih Purno lantas berseru kepada prajuritnya, “Kirimkan pesan segera!!!”, perintah Patih Purno. Prajurit itu lantas membuat gerakan mengibaskan bendera sebanyak 3 kali, gerakan itu ia ulangi terus sampai ada balasan bahwa pesannya telah diterima oleh pasukan pemanah mereka.

__ADS_1


Pria sepuh yang melihat pesan itu mengerti harus bertindak sebagaimana harusnya. Dia memerintahkan pasukannya, “Pemanah siap! Lepaskan sebanyak tiga kali!”, perintah pria sepuh segera dilaksanakan pasukannya. Dengan cepat anak panah beterbangan di udara dengan jumlah banyak dengan satu orang pemanah melepaskan tiga anak panah berurutan.


*


Melihat pasukan berkuda dari pihak mereka yang telah kalah tidak membuat gentar pasukan bala bantuan dari musuh. Mereka tetap berlari ke depan untuk menghadapi pasukan berkuda pimpinan Patih Purno yang berbaris rapi menghadang langkah mereka untuk maju ke depan. Saat sampai di lautan mayat serta kuda yang terkena anak panah, gerakan mereka menjadi sedikit terhambat karena mayat-mayat itu menghalangi jalan mereka.


“Injak saja! Toh mereka sudah mati!”


“Jangan berhenti, kalian punya tugas yang lebih penting!”


“Cepat! Cepat! Cepat!


Dengan susah payah mereka melewati lautan mayat itu, tapi akhirnya mereka bisa melewatinya namun dengan usaha yang cukup besar. Mereka kemudian menyambung larinya untuk mempersempit jarak dengan pasukan berkuda dari pihak lawan. Tapi alangkah terkejutnya mereka sesaat kemudian, ribuan anak panah tampak terbang menuju arah mereka, anak panah itu jatuh dari langit bagaikan hujan.


Pasukan terdepan yang melihat ribuan anak panah itu kemudian mengangkat tameng mereka berniat menahan anak panah musuh. Nyatanya anak-anak panah itu tidak sepenuhnya mampu ditahan dengan tameng mereka, ini diakibatkan pimpinan mereka tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam menghadapi situasi seperti ini.


Dia hanya memerintahkan agar prajuritnya mengangkat tameng masing-masing, berguna tapi hanya sementara. Karena jumlah anak panah yang sangat banyak membuat pasukannya harus menerima banyak korban juga. Suasana begitu kacau, teriakan minta tolong menggema di udara. Prajurit yang terluka akibat panah lawan terus berteriak kesakitan karena anak panah itu menancap di tubuh mereka.

__ADS_1


Pimpinan pasukan bala bantuan musuh sungguh beruntung, dari ribuan anak panah dirinya tidak terkena satupun dari anak panah yang melesat jatuh ke arah mereka. Dia memandangi sekitarnya yang saat ini dipenuhi mayat serta anak panah yang menancap di tubuh prajuritnya dan yang menancap di tanah.


Pemandangan berubah menjadi lebih buruk ketika dia melihat ribuan anak panah lagi terbang di udara, tubuhnya gemetar melihat hal itu. Baru selesai satu serangan, kini serangan berikutnya telah datang dan mengarah ke mereka. Dia jatuh dalam posisi berlutut, kemudian memejamkan mata siap menerima takdir yang akan terjadi berikutnya.


Nyatanya ribuan anak panah itu tidak pernah jatuh ke tempat mereka namun melewatinya. Serangan ribuan anak panah itu kini ditujukan kepada pasukan yang berada di lautan mayat-mayat dan kuda yang tengah bersusah payah melewati tempat itu. Karena pergerakan mereka yang terbatas membuat pasukan di tempat itu menjadi sasaran empuk dari ribuan anak panah tadi. Lebih dari separuh pasukan bala bantuan musuh harus gugur karena tidak bisa berbuat banyak bahkan untuk bertahan.


Melihat serangan ke dua berhasil membuat Patih Purno berseru kepada pasukannya, “Beri mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan untuk selamanya!”, dengan komando gerakan tangan Patih Purno memerintahkan pasukannya maju menerjang ke posisi musuh. Musuh yang selamat dan mengalami luka ringan lantas berdiri berniat menghadapi pasukan berkuda pimpinan Patih Purno.


Namun saat tengah bersiap, dari jauh mereka samar-samar melihat ribuan anak panah lagi melayang di udara dan menuju ke arah mereka lagi. Pasukan yang tadinya bersiap menghadapi pasukan berkuda kini bersiap menahan ribuan anak panah lagi. Pimpinan mereka yang awalnya tidak tahu harus berbuat apa kini mengerti harus bertindak apa, “Angkat tameng ke atas dan rapatkan barisan kalian, jangan pernah turunkan tameng itu!”, perintahnya kepada pasukan yang ia pimpin.


Patih Purno yang melihat hal itu tersenyum dalam perjalanannya, “Ternyata mereka juga cepat belajar”, batinnya berbicara. Pasukan lawan mengangkat tameng mereka ke atas setinggi mungkin dengan barisan yang rapat.


Tidak lama kemudian ribuan anak panah itu terjun mengarah ke mereka, kali ini juga banyak korban yang harus terbunuh namun tidak sebanyak sebelumnya. Saat seorang prajurit terluka atau terbunuh maka prajurit yang lain menggantikan posisinya agar tameng mereka terus berhubungan satu sama lain.


Pasukan lawan terlalu fokus bertahan dari serangan ribuan anak panah yang melesat ke arah mereka. Baru saja mereka bernafas lega namun sesaat kemudian mereka baru menyadari bahwa bahaya lain sedang menuju ke arah mereka saat ini. Pasukan berkuda pimpinan Patih Purno hanya berjarak sepuluh langkah dari pasukan lawan, dengan jarak sedekat itu membuat lawannya tidak siap dalam menghadapi pasukannya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2