Pendekar Pedang Dewa Naga

Pendekar Pedang Dewa Naga
8. Pergi


__ADS_3

“Tebasan pedang kematian” ucap menteri Balda ketika serangan terakhirnya berhasil memenggal kepala lawannya tersebut.


Patih Marda tidak bisa berbuat banyak, selain kurang ahli dalam pertarungan jarak dekat dia juga mengalami luka dibagian kaki yang terus mengeluarkan darah karena harus terus bergerak. Dan tidak beberapa lama Patih Marda harus gugur malam itu dengan sangat mengenaskan.


Situasi di gerbang hampir didominasi oleh pihak penyerang, kematian Patih Marda membuat penjaga istana kehilangan semangat tempur mereka dan musuhnya mengambil kesempatan itu untuk terus maju sampai ketempat kediaman raja Adipura.


“Jangan lewatkan siapapun, baik itu tamu laki-laki, perempuan, anak-anak yang kalian jumpai. Bunuh mereka semua!” perintah menteri Balda kepada pasukannya.


Pasukan kerajaan Kendala terus masuk dan menyerang siapa saja yang berhasil mereka temui. Di gerbang mayat prajurit kerajaan bergelimpangan dan sekarang para tamu yang tidak punya salah apapun juga ikut terkena imbas dari penyerangan ini.


Jeritan ketakutan dan jeritan kesakitan terus menggema malam itu membuat suasana semakin mencekam. Belum lagi para penyerang seolah menikmati pembantaian itu, seperti ada dendam pribadi ketika pedang dan tombak mereka menusuk dan menebas para tamu kerajaan Adipura.


Prajurit kerajaan Adipura berjumlah 15.000 namun kekuatannya hanya sebatas pendekar serigala tingkat 3. Ketika serangan ini terjadi sebagian nya berada di kediaman raja dan sebagian lagi berjaga di pintu gerbang. Menang jumlah tidak bisa menutupi kemenangan dalam hal kualitas buktinya setengah dari prajurit kerajaan Adipura sudah banyak gugur.

__ADS_1


Tidak lama setelah pembantaian para tamu pasukan penyerang kembali bergerak kearah kediaman raja namun dihadang oleh prajurit yang berjaga disana. Tidak banyak yang bisa buat oleh prajurit kerajaan Adipura yang menghadang ini, dikarenakan sekarang posisi mereka seperti dikepit oleh 2 kekuatan besar.


Dari arah gerbang mereka harus berhadapan dengan pihak penyerang dan dibelakang mereka rekan-rekannya sedang menghadapi setan merah dibantu Patih yang berada di sana.


“Lebih baik mati daripada lari dari suatu peperangan!” teriak prajurit untuk menyemangati rekan-rekannya.


“Keluarkan segenap kemampuan kalian jangan biarkan musuh berhasil melewati kita!” ucap salah satu prajurit lagi.


Suasana ditempat pelaminan yang awalnya bersih sekarang telah dipenuhi dengan simbahan darah dan kepala yang terlepas dari tubuh pemiliknya. Malam itu setan merah seperti kerasukan dan tidak perduli terus membantai orang yang berada didekatnya.


Pemandangan yang sangat mengerikan itu sungguh membuat siapapun akan merasa tidak enak dan ingin mengeluarkan isi perut mereka. Bahkan pria misterius yang menjadi rekan setan merah sedikit merasakan ngeri ketika melihat setan merah yang telah membantai orang-orang serta prajurit sedang meminum darah langsung dari kepala orang terakhir yang telah dipenggal dengan pedangnya.


“Aku sering meminum darah seorang pendekar yang ku bunuh, namun rasanya masih kurang. Mungkin darah seorang bangsawan akan terasa lebih enak” ucap setan merah setelah selesai meminum darah dan melemparkan kepala tersebut kedekat para bangsawan yang mematung karena ketakutan.

__ADS_1


Pandangan semua orang tertuju kepada kepala yang menggelinding namun hanya sebentar dan beralih lagi ke arah setan merah. Setelah ucapan setan merah tadi nampak mata setan merah mulai memancarkan sinar merah kehitaman seperti darah.


Ini merupakan ritual ilmu hitam yang digunakan oleh setan merah dengan kerjasama langsung dari iblis. Setan merah bisa mendapatkan kekuatan lebih ketika dia perlu namun sebagai gantinya banyak nyawa harus menjadi bayarannya. Kini bersama-sama pria misterius setan merah maju serempak dan menyerang raja Aryo dan berniat membunuhnya.


“Lindungi raja!” perintah Patih Yarna kepada semua Patih didekatnya.


Pria misterius tidak banyak mempertanyakan kondisi setan merah karena dia tidak mau menyinggung sosok seperti ini. Ilmu hitam atau lebih dikenal ilmu dukun memang tersohor dalam setiap padepokan aliran hitam hanya saja dia tidak menyangka bahwa rekan yang dia ajak untuk penyerangan ini akan menunjukkan ilmu hitam didepan matanya.


“Pergi tuanku! Kami akan menahan mereka disini. Cepat sebelum semuanya terlambat!” pinta Patih Yarna kepada raja Aryo agar segera pergi mencari tempat perlindungan.


Raja Aryo tidak langsung menuruti karena dia sangat ingin membantu namun situasi tidak mendukungnya. Belum lagi istrinya mulai terlihat lemas dan mungkin sebentar lagi akan pingsan karena pemandangan yang tidak enak dari tadi. Setelah kembali diyakinkan Patih Yarna akhirnya raja Aryo memilih untuk mengungsikan diri bersama istrinya.


“Dinda kita pergi menjauh dari tempat ini” ucap raja Aryo sambil mengendong istrinya yang sudah lemas. Benar saja ketika raja Aryo sudah disampingnya ratu Sinta akhirnya pingsan karena sudah tidak kuat lagi.

__ADS_1


__ADS_2