
Duel antara Aryo dengan menteri Balda sudah berlangsung beberapa menit, menjadikannya sebagai duel panas yng terjadi saat pertempuran malam ini. Karena mereka bertukar serangan demi serangan dengan sangat gencar membuat tidak ada yang mau dekat-dekat di area pertarungan mereka.
Aryo terus meluncurkan serangan demi serangan kepada menteri Balda, pedangnya terus mengincar ke arah bagian dada sampai kepala dari lawannya. Dengan permainan pedang yang baik dia meliuk-meliuk mencari kesempatan jika lawannya membuat celah untuknya menyerang dengan gencar.
Nyatanya tak mudah baginya, sosok menteri Balda dihadapannya saat ini belum mampu dia hadapi sepenuhnya. Bahkan serangan demi serangannya berhasil menteri Balda tangkis dengan cukup mudah. Kalu semua ini terus berlangsung maka ia yang akan kalah dari pertarungan ini.
"Bakat yang bagus untuk seorang calon mayat", menteri Balda mencoba membuat lawannya emosi agar ia dengan mudah melancarkan serangannya. Dia yakin jika Aryo termakan perkataannya barusan maka dipastikan ia akn menang lebih cepat dari semestinya.
Tapi Aryo bukan seorang seperti itu, dengan didikan yang baik serta dukungan dari keluarga tercintanya membuat watak bijaksananya sudah terbentuk dari sejak ia masih kecil. Perkataan dari lawannya barusan hanya dianggapnya sebagai angin lalu saja, karena dalam perang kematian bisa datang begitu saja.
Prinsip yang dia pegang teguh setelah mendengar kata-kata dari pria sepuh saat keduanya berbicara di pemakaman orang suku kulit hitam yang merek tangkap di sekitaran markas.
Aryo lantas tersenyum dan kemudian melompat mundur menjaga jarak dari lawannya, "Apa yang berasal dari tanah, akan kembali ke tanah nantinya. Jika takdir sudah dekat maka maut tidak akan pernah lewat", ucapnya kepada menteri Balda.
"Harus aku akui bahwa kau lebih bijaksana daripada orang yang saat ini memerintah kerajaan Adipura. Dia hanya mementingkan keuntungan pribadinya sampai rela mengorbankan rakyatnya sendiri...", menteri Balda memandangi Aryo sejenak kemudian menancapkan pedangnya ke tanah, "Sementara kau berdiri disini berkorban mempertaruhkan nyawa untuk melawan kejahatan dari saudaramu itu. Bagaimana seorang saudara begitu jauh sifatnya dengan saudara yang lain?", menteri Balda mengakhiri perkataannya dan lantas mempertanyakan sikap dari Aryo sekarang.
"Dia saudara ku, kami memiliki ayah yang sama namun dari ibu yang berbeda", tegas Aryo.
Menteri Balda tersenyum mendengar perkataan dari Aryo, "Jika memang seperti itu suatu kesalahan kami membantu seorang pemimpin yang memimpin dengan tangan besi, tanpa memikirkan kesejahteraan rakyatnya sekalipun", balas menteri Balda masih dengan senyuman di bibirnya.
"Bicara apa kau!? Aku yakin kalian juga ikut ambil urusan dalam kerajaan Adipura, informasi yang aku tahu bahwa kalian berperan dibalik layar kepemimpinan Jaka", Aryo menjadi marah namun sedikit kebingungan akibat perkataan dari menteri Balda, "apa maksud dari perkataannya barusan, mungkinkah?" batinnya berbicara penuh keraguan.
__ADS_1
"Aku tidak sepenuhnya mendukung rencana saudaramu itu, hanya saja tugas sebagai tangan kanan kerajaan Kendala tidak ada pilihan bagiku untuk menuruti perintah dari raja kami untuk membantunya", menteri Balda mulai menjelaskan kesalahpahaman yang telah terjadi beberapa tahun ini.
Aryo mendengarkan semua perkataan dari menteri Balda, setiap ucapan dari menteri Balda berhasil ia tangkap maksudnya. Aryo kemudian berseru, "Kalau memang demikian apa pengaruhnya!? kerajaan kalian tidak pernah mau berhubungan baik dengan kerajaan kami!", teriak Aryo karenaasih tak percaya dengan penjelasan menteri Balda.
"Kalau permasalahan itu silahkan engkau tanyakan kepada raja kami, jika kau mampu mengalahkan ku akan ku bawa engkau kehadapannya. Namun itu takkan mudah, kau harus melawan orang terkuat kedua dari kerajaan Kendala", menteri Balda tertawa setelah menyudahi perkataannya.
"Siapa orang terkuat pertama di kerajaan Kendala?", Aryo menjadi penasaran dengan penjelasan menteri Balda barusan.
Tawa menteri Balda berhenti setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Aryo kepadanya, "Tentu saja dia adalah raja kami, raja Baswara. Beliau lebih dikenal sebagai raja gunung emas di kerajaan kami", menteri Balda menutup penjelasannya.
Aryo terdiam sesaat, nama raja Baswara baru kali ini ia mendengarnya. Menghadapi menteri Balda saja sangat melelahkan dan terlalu sulit, apalagi jika menghadapi raja ini. Kemenangan adalah kata yang mustahil untuk didapatkan, Aryo membuat kesimpulan bahwa dia harus mengalahkan lawannya sekarang.
***
Tombak Patih Purno kini sudah berlumuran darah, tidak hanya itu darah dari lawannya juga mengenai pakaian yang ia kenakan. Dengan bau amis darah di badannya tidak menghentikan aksinya yang terus meluncurkan serangan mematikan kepada setiap lawannya.
Saat tengah menghadapi prajurit kerajaan Adipura, instingnya mengatakan bahwa dari belakang ada segerombolan orang sedang bergerak mengarah ke tempatnya. Benar saja sesaat kemudian sepuluh anak panah terbang menuju ke arahnya, dengan gerakan indah bak seperti tarian dia menghindari setiap anak panah itu dengan mudah.
Karena anak panah tadi tidak satupun mengenainya, lantas anak panah itu kini bersarang di badan lawan Patih Purno tadi. Mereka tidak sempat menghindar dan baru sadar setelah anak-anak panah itu menancap di tubuhnya.
"Siapa lagi orang-orang ini?", batin Patih Purno berbicara, "Semuanya menggunakan pakaian serba hitam dan kekuatan mereka tidak main-main. Apa mereka berasal dari kerajaan Kendala?", pikiran Patih Purno terus melayangkan pertanyaan demi pertanyaan di situasinya sekarang.
__ADS_1
"Bajingan tua busuk!!! Akhirnya kita bertemu disini. Akan ku balaskan dendam saudaraku hari ini!!! Malam ini kau akan menerima kematian yng begitu menyakitkan!!!", salah satu dari gerombolan pasukan itu berseru lantang dengan jari telunjuk mengarah kepada Patih Purno.
Patih purno mengernyitkan keningnya, kebingungan datang ke arahnya. Dia bertanya-tanya siapa orang ini, tiba-tiba saja menggerutu kepadanya tanpa sebab apapun.
Namun pertanyaannya itu akhirnya terjawab, lawannya yang tadi menggerutu akhirnya buka suara kembali, "Kau lupa dengan wajah ini!!??", orang itu kemudian membuka penutup wajahnya dan memperlihatkan wajah yang terasa familiar bagi Patih Purno.
Patih Purno memandangi sesaat wajah orang itu, dia baru menyadari setelah melihat luka di mata kiri orang itu. Luka itu membuat garis dari kening menyilang ke pipi sebelah kirinya mengenai matanya tersebut sehingga membuat mata itu buta sepenuhnya.
"Pendekar gagak hitam, akhirnya takdir mempertemukan kita", Patih Purno akhirnya mengenali lawan bicaranya sekarang. Orang ini tidak lain adalah lawannya dahulu saat berperang melawan kerajaan Kendala.
Sebenarnya umur mereka berdua tidak terpaut jauh dan memiliki kekuatan yang bisa dibilang tidak jauh berbeda juga. Pada saat itu orang ini bertarung bersama saudaranya menghadapi Patih Purno dalam peperangan. Namun karena lawannya memiliki kecerdasan yang mumpuni membuat mereka berdua harus kalah dari Patih Purno dan berakibat pada kematian salah satu dari mereka.
*****
Hai semua, kembali lagi dengan saya Rezha Saputra author dari novel Pendekar Pedang Dewa Naga.
Terima kasih atas semua dukungan yang telah anda berikan semua sehingga saya dapat sampai sejauh ini. Terima kasih kepada seluruh keluarga dan teman-teman yang telah mensupport saya untuk terus berkarya. Maaf tidak bisa menyebutkan nama satu persatu, intinya saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk kalian semua.
Terus ikuti novel Pendekar Pedang Dewa Naga ya, jangan lupa like jika anda menyukai cerita ini dan tinggalkan komentar agar saya bisa berbenah menjadi lebih baik dengan karya saya ini.
Sekian dari saya, Sampai jumpa di lain waktu (:
__ADS_1