PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Permintaan Magang


__ADS_3

"Jangan khawatir. Kuliahmu nanti aku yang akan mengatur jadwalnya. Ada keuntungan bersama yang didapat jika kau mau mengambil kerja paruh waktu di sana. Tentunya pihak luar akan semakin percaya dengan dedikasi kampus ini. Aku harap kau mau menerima tawaran ini, Nami. Karena untuk sementara mahasiswa berprestasi di bidang farmasi itu ada padamu." Su mengungkapkan.


Nami malu sendiri. Ia merasa dosen pembimbingnya terlalu berlebihan dalam memujinya. "Nanti aku akan membicarakannya terlebih dulu kepada bibiku, Dosen Su. Aku harap Dosen Su mau menunggunya," terang Nami.


Su mengangguk. "Baiklah. Aku tunggu kabar selanjutnya." Su pun setuju untuk menunggu kabar dari Nami.


Nami menjadi mahasiswa terpilih yang diminta oleh pihak rumah sakit ibu untuk mendata obat-obatan yang masuk. Dan tentu saja hal ini akan berdampak besar padanya. Nami harus bisa mengatur waktu sebelum mengiyakan tawaran dosennya. Karena jam kuliah Nami mau tak mau pasti terganggu.


Kuliah Nami bisa jadi malam karena dari pagi sampai sorenya magang. Tapi, Nami ingin memberitahukan ke bibinya dulu. Agar sang bibi mengetahui duduk permasalahannya. Ia tidak ingin membuat bibinya cemas, apalagi karena sering pulang malam. Nami akan memikirkan ulang tawaran ini.


Malam harinya di kediaman Nara...

__ADS_1


Rumah berlantai dua yang cukup besar itu menjadi saksi Nami tinggal di sana. Nami pun segera datang menghampiri bibinya yang sedang menonton televisi. Sedang sang paman tampak belum pulang karena masih berada di luar kota. Sehingga Nami hanya berdua bersama bibinya. Nara sendiri tidak ada di rumah karena pergi main ke rumah temannya. Dan kini saatnya Nami menyampaikan apa yang didapatnya dari dosen pembimbing kampusnya.


"Bibi, ada yang ingin Nami bicarakan." Nami berdiri di dekat bibinya yang sedang menonton televisi.


"Duduklah." Sang bibi pun mempersilakannya. Nami juga segera mengutarakan tujuannya.


"Bibi, Nami ditawari dosen untuk bekerja di rumah sakit. Katanya tidak lama, hanya sekedar mengecek obat-obatan yang masuk saja. Mungkin sekitar dua atau tiga bulan di sana." Nami menuturkan.


Nami menjawab, " Em, untuk kuliah, Dosen Su yang akan membantu mengatur jadwalnya. Jadi Nami tinggal mengikuti jadwal yang dia buat saja," tutur Nami lagi.


"Kau sendirian dari kampusmu?" tanya ibu Nara lagi.

__ADS_1


Nami mengangguk.


Sang bibi menghela napasnya. "Em, baiklah. Bibi rasa tidak apa kau bekerja di sana selama tidak mengganggu kuliahmu. Tapi apa kau sendiri siap bekerja sambil kuliah? Waktumu akan lebih banyak tersita." Sang bibi menuturkan.


Nami mengerti. "Nami akan mencobanya dulu, Bi. Jika memang dirasa berat, Nami akan mengundurkan diri dari pekerjaan itu. Lagipula Nami tidak mungkin mengecewakan Bibi yang sudah menguliahkan Nami. Nami pasti memberikan yang terbaik." Nami merasa tidak enak hati kepada bibinya.


Sang bibi tersenyum. Ia mengusap pipi Nami. "Kau memang gadis yang baik." Nami juga ikut tersenyum. "Lalu kapan akan memulainya?" tanya bibi Nami lagi.


"Besok pagi-pagi Nami sudah harus datang ke rumah sakit, Bi." Nami memberi tahu.


"Kalau begitu sekarang beristirahatlah." Sang bibi tampak memberikannya restu.

__ADS_1


Nami mengangguk. Ia kemudian kembali ke kamarnya. Izin dari sang bibi akhirnya didapatkannya. Nami akan bekerja sambil kuliah besok hari. Ia pun segera beristirahat agar bisa bangun lebih pagi. Nami begitu bersemangat menantikan esok hari.


__ADS_2