
Nami tersentak. Ternyata Cino memikirkan kejadian tadi. Padahal dirinya lah yang khawatir Cino tidak menyukai sikapnya. Sontak Nami jadi tersenyum sendiri.
"Kakak Besar, aku pikir kau marah padaku." Nami mengungkapkan isi hatinya.
Cino tersenyum. "Maaf. Aku telah membuatmu berprasangka yang tidak-tidak. Tapi bisakah kita bersikap lebih luwes lagi. Entah mengapa aku merasa canggung sekali. Hahaha." Cino merasakan atmosfer sekitarnya tidak membuatnya merasa nyaman sama sekali.
Nami tertawa. Tentu saja ia tertawa karena melihat Cino yang tertawa terpaksa. Nami ingat dengan perkataan Ken tentang bagaimana sikap Cino yang sebenarnya. Nami pun memutuskan untuk bersikap lebih luwes lagi. Seperti keinginan Cino. Karena Nami ikut merasakan apa yang Cino rasakan. Keadaan sekitar begitu canggung hingga membuat mereka bingung apa yang harus dikatakan. Pada akhirnya Nami pun mulai menceritakan hasil penelitiannya di laboratorium rumah sakit hari ini.
Belasan menit kemudian...
Nami mulai berbagi cerita tentang aktivitasnya. Cino pun tampak senang mendengar cerita tersebut. Cino kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia ingin menunjukkan sesuatu kepada Nami.
"Aku tidak tahu ini hanya sebatas perasaanku saja atau memang yang sebenarnya. Tapi kau mirip sekali dengan adik sepupuku. Coba lihatlah ini."
Cino ingin menunjukkan foto adik sepupunya kepada Nami. Sontak Nami pun mendekat ke Cino. Ia ingin melihatnya sendiri.
__ADS_1
"Mana, Kak?"
Tapi, saat itu juga getaran yang dirasakan oleh keduanya begitu kuat kala kedua lengan mereka bersentuhan. Nami pun mendongakkan kepalanya melihat Cino. Begitu juga dengan Cino yang melihat ke wajah Nami. Kedua pasang bola mata itu saling berpandangan satu sama lain.
Hujan?!
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara hujan yang turun. Nami pun tersadar dengan apa yang terjadi. Ia kemudian berpamitan untuk mengangkat jemuran di lantai dua. Nami terburu-buru pergi ke sana.
"Bentar ya, Kak. Ada pakaian yang belum ku angkat!"
"Kakak?!"
Tentu saja Nami malu saat Cino ikut mengangkat pakaiannya. Tapi Cino tampak biasa saja. Ia segera membawa jemuran itu ke dalam rumah.
"Ini taruh di mana?" Cino pun menanyakannya.
__ADS_1
Nami juga tidak ingin terbawa perasaannya. "Di kamarku saja, Kak. Sudah kering tapi belum aku setrika."
Nami pun membukakan pintu kamarnya untuk Cino. Cino juga kemudian meletakkan pakaian Nami di keranjang pakaian yang ada di dalam. Setelahnya mereka keluar kembali dari kamar.
"Kau terbiasa menjemur pakaian di malam hari, ya?" duga Cino kepada Nami. Saat itu juga Nami menjadi malu karena merasa ketahuan oleh Cino.
"Aku kadang tidak punya waktu untuk mencuci pakaian di pagi hari, Kak." Nami malu sendiri.
Cino tersenyum. Ia kemudian mengusap kepala Nami. "Hm, tak apa. Kau sudah termasuk mandiri karena mencuci pakaian sendiri."
Cino menyemangati. Saat itu juga Nami jadi senang hati. Terlebih usapan Cino pada kepalanya yang membuat hati Nami jadi berbunga-bunga.
"Eh? Hujannya berhenti?"
Nami pun terkejut kala menyadari hujannya sudah berhenti. Ia kemudian keluar teras untuk memastikannya. Tangannya pun menadah ke atas. Dan ternyata hujan memang benar-benar berhenti. Hanya meninggalkan gerimis yang rintik-rintik saja.
__ADS_1