
Pukul sembilan pagi waktu pantai dan sekitarnya...
Cino dan Nami kini baru saja tiba di pantai yang ada di barat ibu kota. Keduanya turun dari mobil lalu melihat-lihat apa yang ada di sana. Tampak keadaan pantai yang masih sepi. Cino pun mengajak Nami berjalan bersama untuk menikmati pemandangan yang indah. Keduanya berjalan di atas pasir sambil menikmati semilir angin pantai. Perbincangan kecil pun terjadi di antara mereka.
"Aku ... masih kepikiran yang semalam, Nami, " kata Cino kepada Nami.
"Semalam?"
Nami pun menoleh ke arah Cino yang berjalan di sisi kirinya. Keduanya menikmati perjalanan tanpa memakai alas kaki. Tampak air laut yang masih pasang di sekitaran pesisir pantai.
"He-em. Aku tidak tahu jika rasanya seperti itu." Cino mengungkapkan. Saat itu juga Nami jadi tahu apa yang dimaksud oleh Cino.
Nami terdiam. Ia tersipu malu. Pipinya merona karena ucapan Cino yang mengingatkannya atas kejadian semalam. Nami pun masih merasakan getaran-getaran itu saat mereka berciuman. Menimbulkan sensasi yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Dan sejak saat itulah Nami memutuskan untuk lebih terbuka kepada Cino. Ia merasa terikat dan tidak bisa menolak kemauan Cino.
__ADS_1
"Kau yang pertama. Aku merasa senang sekali setelah kejadian itu." Cino mulai jujur.
Nami mengangguk dengan malu-malu. Cino pun tersenyum di sampingnya. Tak lama tangan Cino pelan-pelan meraih tangan Nami. Kedua tangan itu akhirnya berpegangan erat menyusuri pesisir pantai bersama. Nami pun mulai memberatkan kepalanya di lengan Cino. Merasakan kenyamanan yang Cino berikan. Cino pun tampak mengusap kepala Nami dengan penuh kasih sayang.
Belasan menit kemudian...
Setelah berjalan-jalan sebentar, keduanya kemudian memutuskan untuk berenang di pantai dan bersuka cita di pagi hari yang indah. Tampak Nami yang begitu cerita saat bermain air bersama Cino. Cino pun tersenyum bahagia. Ia merasa bahagia saat melihat Nami bahagia. Hingga akhirnya keduanya merasa lelah lalu tidur di pasir pantai yang indah. Mereka menatap langit biru di atas sana.
"Hah ... hah ...." Tampak dada Cino yang naik turun karena lelah.
"Nami."
"Hm?"
__ADS_1
"Bolehkah aku menciummu lagi?" tanya Cino seraya melihat ke arah Nami.
"Cium apa?" Nami balik bertanya.
"Cium ... kening." Cino pun tampak berpikir ulang untuk mengatakannya.
Nami mengangguk sambil tersenyum. Karena hanya anggukan yang bisa ia berikan untuk menjawab pertanyaan Cino. Cino pun lantas memiringkan badannya untuk mencium kening Nami. Saat itu juga saraf sensorik di tubuh Nami tersambung dengan cepat. Tubuhnya bergetar kala merasakan sensasi dicium itu. Dan entah mengapa ia merasa tenang dan nyaman setelahnya.
"Kakak Besar." Nami pun menyapa Cino.
Cino menjauhkan dirinya. Ia menatap Nami. "Panggil saja aku Cino. Atau pakai kak juga tak apa." Cino menerangkan.
Nami mengangguk. Keduanya akhirnya bertatapan dan saling berpegangan tangan. Menatap langit biru yang indah di atas sana. Kisah Nami dan Cino pun dimulai segera. Akankah semuanya berjalan lancar dan tanpa kendala?
__ADS_1
Satu jam kemudian...