PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Terkejut


__ADS_3

Aku seperti mengikuti permainan mereka saja. Tapi tak apalah asal Nara tidak menggangguku lagi.


Nami ternyata terpaksa datang ke rumah Ken karena Nara yang memaksanya. Nara dan Nami seringkali tidak akur. Nara yang terlalu over acting, sedang Nami yang malas meladeni Nara. Sehingga Nami seringkali diganggu Nara. Dan karena hal itulah Nami menuruti keinginan Nara agar tidak diganggu lagi. Nami ingin tenang tinggal di rumah bibinya.


Kini Nami sudah kembali ke rumah keluarga besar. Tampak seorang pelayan senior datang dan menyambutnya. Ibu dari Ken itu pun mempersilakan Nami untuk pergi ke dapur. Nami diminta untuk menyajikan makan malam. Sontak Nami terkejut seketika. Kedua matanya terbelalak tak percaya. Entah apa tujuannya, Nami merasa hal ini sudah direncanakan sebelumnya. Tak lain tak bukan untuk memikat hati keluarga Chandra.


Astaga, bagaimana ini? Aku disuruh masak lagi. Apakah aku ingin dijodohkan oleh keluarga ini?


Nami pun bertanya-tanya sendiri. Ia kemudian masuk ke dapur kediaman keluarga Chandra. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat desain interior mewah hanya untuk ukuran dapur saja. Nami pun merasa berkecil hati. Dapur rumah Ken seperti rumahnya di desa. Ia mengaku jika keluarga Ken adalah keluarga yang kaya raya. Konglomerat kelas atas ibu kota.


Tak lama kemudian...


"Aku pulang!"

__ADS_1


Seorang pria berjas hitam tampak baru saja pulang ke rumah keluarga besar Chandra Wirata. Raut wajahnya menyiratkan kelelahan karena sehabis bekerja di kantor seharian. Ialah Cino yang baru pulang dari kantornya. Tampak ia segera melepas sepatunya.


"Tumben pulang lebih awal. Biasanya malam?" Sang ibu menyambut kedatangannya.


"Akhir pekan, Bu. Harusnya lebih cepat." Cino menjawab pertanyaan ibunya.


"Kau pasti lelah. Lekaslah mandi lalu turun ke ruang makan. Kita akan makan malam bersama kali ini." Sang ibu mengajak Cino makan malam bersama.


"Aku ada kerjaan, Bu. Ibu saja," kata Cino lagi sambil berjalan menuju lantai dua.


Sang ibu menunjuk ke arah dapur. Sontak Cino pun melihat ke arah dapur rumahnya. Ia melihat Nami sedang memasak ditemani pelayan senior di sana.


Astaga! Dia di sini?!

__ADS_1


Cino pun tak percaya jika Nami berada di rumahnya. Padahal baru semalam mereka bertemu dan mengantarkan pulang. Tapi menjelang petang ini Cino melihat Nami lagi di rumahnya.


Dia memasak di rumah ini? Apakah Ken juga yang menyuruhnya? Atau ibu sendiri?


Cino bergegas menuju dapur untuk menanyakannya. "Nami." Ia pun menegur Nami di sana.


"Kakak Besar?" Nami pun menoleh, melihat Cino yang datang.


"Bibi, kenapa kau membiarkan Nami masak di sini? Apakah Bibi sudah tidak bisa memasak lagi?" tanya Cino ke pelayan senior kediamannya.


"Ibu yang meminta Nami memasak, Cino. Sudah sana lekas mandi lalu datang ke meja makan. Ibu sudah meminta ayah untuk cepat pulang. Kita akan makan malam bersama hari ini." Sang ibu menegaskan. Sedang Cino tampak tak enak hati sendiri dengan Nami.


Sepertinya ibu telah terkena ucapan Ken. Aku harus menemui Ken segera. Kasihan Nami yang datang ke rumah ini hanya untuk diminta menyajikan makan malam. Mereka tega sekali.

__ADS_1


Pada akhirnya Cino pun beranjak pergi dari dapur rumahnya. Ia menuju lantai dua untuk menemui Ken di kamarnya. Cino merasa kasihan melihat Nami memasak di rumahnya. Seperti tidak mempunyai pelayan saja. Padahal di rumah Cino ada enam pelayan. Satu pekerja kebun, satu supir pribadi, dan empat asisten rumah tangga. Tapi petang ini seakan tidak ada saja.


__ADS_2