
Hasrat yang ada pada keduanya pun seolah tidak bisa terbendung lagi. Nami melenguh kecil saat lidah Cino memasuki rongga mulutnya. Yang mana lenguhan itu membuat Cino semakin bersemangat dalam memperdalam ciumannya. Hingga akhirnya Cino mulai kepanasan sendiri. Ia melepas kemeja yang dipakainya.
Kemeja Cino jatuh di atas kasur dan ia bertelanjang dada. Cino pun mengarahkan tangan Nami agar melingkar di lehernya. Saat itu juga Nami tersadar jika Cino tidak mengenakan baju lagi. Nami pun mencoba menahan Cino agar tidak meneruskannya. Tapi ternyata hasrat yang bergejolak itu tidak bisa tertahankan. Puluhan tahun Cino memendamnya. Tapi malam ini ia harus segera melampiaskannya. Dan akhirnya sesuatu terjadi pada mereka.
"Mmh ... Kakak ...." Nami mencoba menahan Cino.
Cino terus saja mengajak Nami beradu. Tangannya pun mulai nakal dengan meremas bongkahan pantat Nami yang padat. Cino sudah tidak dapat mengendalikan dirinya. Ia kemudian menciumi leher Nami hingga Nami bergidik geli sendiri. Pada akhirnya Cino membawa Nami ke kasur. Nami pun berusaha menolaknya. Tapi ternyata tenaga Cino tidak bisa dilawannya. Nami pun hanya bisa merasakan setiap titik sensitifnya diciumi oleh Cino. Hasrat itu telah berkobar dan tidak bisa dipadamkan.
"Sayang, mmmhh ...."
Setiap detik bak sebuah kenikmatan yang tak tertandingkan. Tangan Cino pun mulai menyelinap ke dalam tengtop yang Nami pakai. Tapi, saat itu juga terdengar suara yang mengetuk pintu penginapannya. Sontak Cino berhenti sejenak.
"Siapa ya?" Cino pun tampak terheran sendiri.
__ADS_1
"Astaga, jangan-jangan!" Nami juga mulai tersadar dengan apa yang dilakukannya bersama Cino. Ia segera mengambil jaket Cino untuk menutupi tubuhnya.
"Kakak, ini aku Ken." Pintu pun diketuk kembali.
"Ken?!"
Cino terkejut. Ia lekas merapikan dirinya sebelum membukakan pintu. Sedang Nami pura-pura tertidur di dalam selimut.
Ken celingak-celinguk ke dalam. "Kalian sudah tidur, ya? Maaf aku datang terlambat. Kita bisa pulang sekarang?" tanya Ken kepada kakaknya.
Cino tampak melihat Nami yang tertidur di kasur. Ia kemudian melihat ke arah Ken lagi. "Nanti aku akan membangunkannya. Kau bisa tunggu di mobil saja? Nami sepertinya malu jika ada yang melihatnya baru terbangun dari tidur." Cino beralasan.
Ken mengangguk. "Baiklah."
__ADS_1
Pada akhirnya ia pun segera pergi dari depan pintu kamar penginapan kakaknya. Ken kemudian menunggu keduanya di dalam mobil. Sementara Cino tampak risih sendiri dengan dirinya.
Dia sudah bangun. Tapi Ken terburu datang. Astaga, apa yang telah kami lakukan?
Cino pun menyadari hal apa yang ia lakukan tadi bersama Nami. Yang mana keduanya hampir saja berhubungan intim karena sama-sama terhanyut suasana. Tapi untungnya Ken segera datang dan menyadarkan mereka. Alhasil Cino dan Nami terhenti dari aktivitasnya. Mereka bisa pulang segera. Tentunya dengan mencoba melupakan apa yang terjadi tadi. Mereka bersikap seperti biasa kembali.
Di perjalanan pulang...
Ken duduk menyetir mobil, sedang Cino dan Nami duduk di belakang. Cino pun membiarkan Nami merebahkan kepala di bahunya, di hadapan adiknya. Sontak Ken jadi tersenyum-senyum sendiri melihatnya. Ia tak percaya jika sang kakak telah jatuh cinta.
Cino sendiri tampak diam sedari tadi. Ia tidak berbicara karena khawatir Ken akan lebih banyak bertanya tentang apa yang ia lakukan bersama Nami di kamar penginapan. Pada akhirnya Cino pun ikut memberatkan kepalanya di kepala Nami. Ia mulai mengistirahatkan diri dan percaya sepenuhnya kepada sang adik yang sedang menyetir mobil. Mereka akan segera kembali ke ibu kota malam ini. Di dini hari yang dingin dan sunyi. Ken pun terus fokus melajukan mobilnya hingga masuk ke perbatasan ibu kota. Ken pun akhirnya bisa bernapas lega.
Bagaimanapun kau tetap akan membutuhkanku, Bodoh. Sekarang kau sudah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Maka segeralah menikah dan berikan kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Aku menunggunya.
__ADS_1