
Arya tersadarkan. Ia lalu segera membuka pintu apartemennya.
"Kau lama sekali." Cino pun melihat raut wajah Arya yang panik. "Apakah aku mengganggu?" tanya Cino kemudian.
Cino masuk begitu saja ke apartemen Arya. Sedang Arya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa kepergok malam ini. Tak lama kemudian, Nami pun keluar dari kamar Arya untuk melarikan diri. Namun, saat keluar, saat itu juga Nami melihat Cino tengah ada di dalam apartemen Arya. Sontak Cino pun melihat Nami yang tidak berompi. Ia menjadi geram seketika.
"Kalian?!" Cino tak menyangka dengan apa yang dilihatnya kali ini.
"Kakak Besar?!" Nami pun terkejut melihat Cino sudah ada di apartemen Arya.
Cino menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menatap tajam ke Arya. "Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?!" tanya Cino yang marah.
"Kakak Besar, kau salah paham!" Saat itu juga Nami segera menjelaskannya.
Cino marah. Ia kemudian beranjak pergi dari apartemen Arya. Tapi, Nami segera berlari untuk menahannya.
__ADS_1
"Kakak Besar, tolong dengarkan aku dulu." Saat itu juga Cino berhenti melangkahkan kakinya. Ia merasa ada hal aneh yang terjadi di ruangan ini.
Cino berbalik. "Apakah kau ingin membela diri?" tanya Cino kepada Nami.
Nami menggelengkan kepalanya. "Kakak Besar, Kak Arya telah menculikku." Saat itu juga Cino tersentak dengan apa yang terjadi.
"Apa?!" Cino pun tak percaya. Ia kemudian melihat ke Arya. "Arya?!! Apakah benar yang dikatakan Nami?" tanya Cino segera.
"Cino aku bisa menjelaskannya." Sontak Arya pun berusaha membela dirinya.
"Keparat! Kau ingin mencoba-coba untuk menodainya?!" Cino pun mulai berpikiran ke arah sana.
"Cino, itu tidak benar. Nami berbohong--"
BUGGH!!
__ADS_1
Saat itu juga sebuah tinjuan melayang ke Arya. Sontak Arya pun terjatuh ke lantai apartemennya, dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya. Cino tidak terima dengan kenyataan yang ada di hadapannya.
"Pakai jaketku! Sekarang!" Cino pun meminta Nami untuk segera memakai jaketnya.
"Kakak, ponselku belum ditemukan," terang Nami kepada Cino.
"Nanti aku yang akan membelikannya untukmu. Sekarang kita pergi dari tempat ini." Cino pun membawa Nami pergi. Tentunya dengan tatapan tajam yang mengarah ke Arya. Cino marah besar yang membabi buta.
Satu jam kemudian...
Cino segera membawa Nami untuk meninggalkan apartemen Arya. Dan kini ia bersama Nami baru saja sampai di sebuah pantai ber-view indah. Di bawah bulan purnama yang bersinar terang, di tengah deru ombak yang berkejaran. Cino ingin menenangkan dirinya. Ia tak menyangka jika akan menemui hal seperti ini.
Pantas saja aku tiba-tiba ingin sekali ke apartemennya. Ternyata Nami berada di sana. Andai saja aku tidak mengikuti kata hati ini, pastinya tidak akan bisa lagi menemui Nami dalam keadaan utuh. Dan mungkin saja aku bisa gila sendiri. Karena bagaimanapun Nami seorang wanita, dia tidak bisa melawan kekuatan pria. Ya Tuhan, mengapa aku harus menghadapi hal seperti ini?
Sepanjang perjalanan dari apartemen ke pantai, Cino hanya diam saja. Ia tidak berkata apa-apa. Hatinya kacau saat menyadari apa yang terjadi. Ia hampir kehilangan kehormatan gadisnya. Dan tentu saja hal yang terjadi malam ini akan berdampak ke pertemanan Cino dan Arya selanjutnya. Tetapi Cino seperti tidak mengkhawatirkannya. Ia lebih khawatir kepada Nami.
__ADS_1