PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Mencari Tahu


__ADS_3

Cino menelan ludahnya. Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... masih takut untuk mengenal wanita. Aku ... takut sakit hati karena ditinggalkan." Akhirnya Cino pun jujur kepada kakeknya.


Sang kakek menganggukkan kepala. Ia tampak mengerti kerisauan yang ada di hati cucunya. "Kau lelah? Bisa supirkan mobil untuk kakek? Kakek ingin berjalan-jalan sebentar di sekitaran kota." Kakeknya meminta.


Cino mengangguk. Ia setuju untuk mengantarkan kakeknya. Keduanya lalu bergegas untuk berjalan-jalan sebentar. Sepertinya Wirata akan membuka cakrawala cucunya dalam mengenal wanita. Entah akan ke mana, Cino pun hanya menurutinya. Ia memenuhi ajakan sang kakek yang ingin berjalan-jalan sebentar.


Cino adalah cucu pertama di keluarga Wirata. Wirata sangat berharap di usia senjanya bisa melihat penerus keluarga dari Cino. Karena jika dari Ken sangat kecil kemungkinan. Ken belum lulus kuliah. Ken juga masih ingin meraih cita-citanya. Kedua cucu Wirata mempunyai passion yang berbeda. Sehingga perusahaan akan sepenuhnya diberikan kepada Cino. Tapi jika Cino tidak mempunyai pasangan, maka tidak akan ada penerus dalam silsilah keluarga. Sedang Ken tidak tahu kapan menikahnya.


Kini yang bisa Wirata lakukan adalah mencoba memasuki hati sang cucu sedikit demi sedikit. Ia yang baru saja datang dari luar negeri itu ingin temu kagen dan bersuka cita bersama cucunya. Bukan malah tampang dingin yang ia lihat dari cucunya. Maka dari itu Wirata ingin mengajak Cino berjalan-jalan. Mengelilingi kota sambil berbagi cerita. Entah bagaimana nantinya, Wirata hanya berusaha saja.


Sementara itu...

__ADS_1


Selepas Cino berangkat bersama kakeknya, Ken diam-diam masuk ke dalam kamar kakaknya. Ia mencari sesuatu di sana. Ia penasaran kenapa sang kakak belum mau menjalin hubungan. Padahal usianya sudah kepala tiga. Ken pun terus mencari dan mencari. Ia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Ken adalah adik yang amat sayang dengan kakaknya. Ia ingin kakaknya bahagia. Ken tahu urusan pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya. Ia juga menyadari jika setiap manusia mempunyai kebutuhan. Terlebih ia kini sudah beranjak dewasa. Ia mengerti bagaimana kebutuhan batin itu berbicara.


"Mungkin aku bisa menemukan buku diary-nya."


Ken masih mencari-cari sesuatu di dalam kamar kakaknya. Tentunya buku masa kecil yang kali-kali saja bisa menjawab pertanyaannya. Dan ternyata hasil itu tidak mengkhianati usahanya. Ken akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Sebuah buku diary Cino sejak masa remaja. Ken pun segera mengambil buku itu lalu membawanya. Ken kembali menutup pintu kamar kakaknya. Ia akan membaca buku itu di dalam kamarnya.


"Hah ... acara sungguh melelahkan." Ibu Ken baru saja pulang bersama suaminya.


"Tapi seru, bukan?" Sang suami tampak meledek istrinya.

__ADS_1


"Seru, tapi tetap saja melelahkan di usia kita yang sudah tua ini." Sang istri berkata ceplos begitu saja kepada suaminya. Ia terlihat mengistirahatkan diri dengan duduk di sofa.


"Pelayan!" Sementara itu sang suami segera memanggil pelayan kediamannya.


"Ya, Tuan?" Dua orang pelayan pun datang menghadapnya.


"Tolong buatkan kami teh panas dan juga pisang goreng. Cepat ya!" pinta sang tuan besar.


"Baik, Tuan." Para pelayan itupun segera kembali ke dapur untuk membuatkan pesanan sang tuan besar.


Chandra ikut duduk bersama istrinya di sofa ruang keluarga. Ia kemudian menghidupkan TV untuk mencari channel yang menayangkan lagu-lagu lawas. Tak lama sang putra bungsu pun turun dari lantai dua kamarnya. Sontak sang ayah dan ibu pun menyadarinya. Ken turun dengan mata yang memerah.

__ADS_1


__ADS_2