
"Ini aneh sekali." Nami pun tak percaya.
Cino melangkah maju untuk mendekati Nami. "Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkendak, Nami." Saat itu juga Nami tersadar Cino menanggapi rasa herannya.
Nami berbalik. Keduanya kemudian berdiri berhadapan di teras lantai dua rumah Nara ini. Semilir angin malam menjadi saksi kedua kaki mereka yang basah terkena genangan hujan. Cino pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nami.
Kakak?!
Saat itu juga Nami jadi berdebar-debar. Ia belum pernah merasakan situasi seperti ini.
Tinggi Nami yang hanya sebatas bahu Cino saat tidak memakai alas kaki itu membuat Cino harus sedikit membungkuk untuk bicara dekat sambil melihat wajah Nami. Pada akhirnya Cino pun memegang pundak Nami di tengah lampu teras yang terang ini.
"Nami."
"Ya?"
__ADS_1
Kedua pasang mata itu saling bertatapan. Cahaya lampu teras seolah menyinari dengan terang di mana mereka berada. Nami pun merasakan ada sesuatu pada dirinya yang mulai bergetar. Sebagai reaksi dari rasa ketertarikan. Hingga akhirnya Cino memberanikan diri untuk memegang wajah Nami.
"Kau serius sudah siap menikah?" tanya Cino kemudian.
Rintik hujan di malam ini menjadi saksi. Dinginnya angin malam seolah membuat keduanya terhanyut dalam suasana yang semakin dalam. Nami pun tampak menjawab pertanyaan Cino dengan anggukkan. Saat itu juga Cino jadi riang bukan kepalang.
"Aku sedang mencari istri. Maukah kita jalani dengan serius hubungan ini?" tanya Cino yang membuat Nami terkejut seketika.
"Ka-Kakak, ap-apakah ini ... bercanda?" Nami pun tak percaya.
Sontak Nami pun merasa kebingungan untuk memberikan jawaban. Ia tidak mempunyai persiapan sebelumnya. Dan entah mengapa Cino seperti menginginkan jawabannya malam ini.
Cino tersenyum. "Jika kau mau mencoba menjalaninya bersamaku, maka terimalah aku. Jika tidak, kau bisa mengusirku," kata Cino yang mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nami.
Kakak Besar ...?
__ADS_1
Cino mendekatkan wajahnya ke wajah Nami. Memiringkan sedikit kepalanya untuk meraih sesuatu yang Nami miliki. Saat itu juga jantung Nami berdegup kencang bukan kepalang. Ia merasa kebingungan dalam menghadapi situasi ini. Ia memang tertarik pada Cino. Tapi ia merasa belum siap untuk berciuman. Apalagi ini adalah ciuman pertama baginya. Nami belum pernah berciuman sebelumnya. Tapi Cino seolah memaksa untuk menerimanya.
Dahi mereka akhirnya bersentuhan. Hangat napas itu pun bisa saling mereka rasakan. Saat itu juga Nami seperti tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya tertarik kuat oleh Cino. Cino bak magnet yang mengunci Nami. Nami pun berusaha menahan hal ini agar tidak terjadi. Tapi tubuhnya seakan berkata lain.
Nami menahan dada Cino dengan tangannya. Mencoba mencegah agar Cino tidak lebih mendekat kepadanya. Tapi, tubuh Nami seperti tidak bisa bergerak lagi. Sedang semakin lama bibir itu semakin mendekati bibirnya. Detak jantungnya pun mulai tidak stabil. Hormon di dalam tubuhnya ikut bereaksi. Dan pada akhirnya hidung Cino mulai menyentuh ujung hidungnya. Hangat napas Cino pun mulai dapat dirasakan. Cino memejamkan matanya sambil terus mendekati wajah Nami.
Nami ....
Kakak Besar ....
Dan pada akhirnya Cino meraih bibir Nami. Mereka berciuman dan saling merasakan betapa lembut bibir itu saat bersentuhan.
Kedua tangan Cino mengusap pipi Nami lalu perlahan-lahan menuju ke tengkuk lehernya. Saat itu juga Nami merasakan sensasi aneh pada tubuhnya. Hormon kebahagiaan mulai ia rasakan dan membuatnya tak berdaya. Hingga akhirnya Nami ikut memejamkan mata.
Kakak, aku ... menyukaimu.
__ADS_1