
Cino mencium Nami. Melampiaskan rasa terima kasih sekaligus haru karena Nami masih menemaninya di sisi. Bibir lembutnya mencium Nami hingga membuat seluruh aliran listrik di tubuh Nami tersambung. Saat itu juga Nami berusaha membalas ciuman Cino. Ia menunjukkan rasa sayangnya atas apa yang Cino alami.
"Ehem!"
Tiba-tiba saja Ken masuk ke dalam ruangan dan melihat keduanya sedang berciuman. Sontak Nami pun menjauhkan dirinya dari Cino. Wajahnya pun memerah karena malu tak terkira.
"Kakak, ada informasi untukmu." Sementara Ken segera mengutarakan maksudnya.
"Hah ...," Cino pun tampak mengembuskan napasnya. Ia merasa kesal karena Ken mengganggu ciumannya dengan Nami. "Informasi apa?" tanya Cino segera.
"Aku dapat informasi dari orang suruhan ayah jika yang membuat rem mobilmu blong adalah sekelompok orang yang datang ke restoran saat kau makan dengan investor asing." Ken mengabarkan.
Saat itu juga jantung Nami berdetak kencang. Entah mengapa ia merasa hal ini ada kaitannya dengan kejadian beberapa hari silam.
__ADS_1
"Lalu apa ayah sudah menangkapnya? Sebelum kejadian aku memang ke restoran untuk mengajak makan investor itu. Tapi aku tidak melihat ada hal aneh di parkiran," terang Cino kepada Ken.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin saja mereka datang saat pengunjung lain datang dan pura-pura memperbaiki mobilmu. Yang mana orang lain pikir itu mobil mereka. Jadi tidak ada yang mengira jika mereka adalah sekelompok orang yang ingin mencelakaimu." Ken menambahkan.
Cino mengangguk, mengerti ucapan adiknya. "Berarti mereka belum tertangkap?" tanya Cino kembali.
Ken menunjukkan sebuah video berdurasi pendek kepada kakaknya. Cino pun segera melihatnya bersama Nami. Saat itu juga entah mengapa pikiran Nami tertuju kepada Arya.
"Mereka masih dalam proses penyelidikan saat ini. Apakah sebelumnya pernah terjadi sesuatu padamu? Mungkin kau pernah bertengkar atau berkelahi dengan seseorang?" Ken mencoba bertanya.
"Sepertinya tidak." Cino menjawabnya.
Kedua kakak beradik itu meneruskan pembicaraan mengenai hal-hal yang terjadi sebelum kecelakaan. Sedang Nami mulai berpikir jika hal ini ada kaitannya dengan kejadian di apartemen Arya.
__ADS_1
Mungkinkah dia yang melakukan semua ini untuk membalas apa yang terjadi di apartemen?
Nami pun bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia kemudian berpamitan kepada Ken dan Cino. "Em, maaf. Ken, aku tinggal sebentar ya. Aku ingin membeli minuman di luar sana."
Dan tentu saja sikap Nami membuat Ken dan Cino heran. Mereka akhirnya mempersilakan Nami keluar dari ruangan. Sedang Nami segera menuju parkiran rumah sakit. Ia menelepon seseorang.
"Halo." Tak lama seseorang itupun menjawab teleponnya.
"Bisa kita bertemu?" Nami pun mengajak seseorang itu untuk bertemu.
Siang harinya...
Nami berpamitan ke kampus kepada Cino. Sehingga kini yang menjaga Cino di rumah sakit adalah adiknya sendiri, Ken. Dan kini Nami baru saja sampai di kampusnya. Ia ingin bertemu Dosen Su untuk membahas penyakit yang tengah Cino derita. Ya, Nami berniat untuk membuat obat penawar leukimia yang ada pada tubuh kekasihnya.
__ADS_1
"Selamat siang, Dosen Su." Nami menyapa Su yang sedang berada di dalam ruang kerjanya.
"Nami, tumben kemari. Apakah ada masalah di rumah sakit?" tanya Su segera.