
"Kakak .... "
Nami pun mencoba memanggil Cino yang diam saja sedari tadi. Ombak pantai yang berkejaran malam ini seolah menjadi saksi kesunyian yang ada di hati.
Cino tersadarkan. "Bagaimana bisa kau berada di sana?" tanya Cino kemudian.
Nami menelan ludahnya. "Aku sedang berada di laboratorium rumah sakit. Tapi tiba-tiba saja lampu mati dan ada seseorang yang membekapku dari belakang. Aku tidak tahu siapa, aku juga tidak sempat berteriak meminta tolong. Aku langsung tidak sadarkan diri." Nami menceritakan.
Saat itu juga Cino menelan ludahnya. Ia tak percaya mendengar cerita ini.
"Kakak, sungguh aku tidak berbohong. Di saat tersadarkan pun aku sudah berada di kamar apartemen itu dengan tidak mengenakan kemeja lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Ponselku juga hilang. Dan saat bertanya padanya, dia seolah tidak mendengarkanku. Kumohon percaya padaku. Ceritaku ini memang benar. Tidak dibuat-buat sama sekali." Nami meminta Cino percaya padanya.
Cino menghela napas panjang-panjang. Entah mengapa gemuruh di dalam hatinya tiba-tiba saja memuncak dan ingin segera dilampiaskan. Cino marah mendengar cerita Nami. Ia tidak terima Nami diperlakukan seperti itu oleh Arya. Ia pun membuat perhitungan di dalam hatinya sendiri.
Aku tidak boleh membiarkan hal ini. Aku harus memberi tahu ayahnya.
Lantas Cino pun mengirim pesan kepada seseorang yang mana itu adalah ayah dari Arya sendiri. Cino membuat janji untuk segera membicarakan hal ini. Tentang bagaimana tindakan selanjutnya terhadap Arya atas percobaan penculikan Nami. Cino tidak akan tinggal diam saja.
__ADS_1
Pukul sepuluh malam waktu pantai dan sekitarnya...
Setelah berbicara empat mata, akhirnya Cino bisa percaya dengan Nami. Nami mengatakan hal yang sebenarnya tanpa ditambah ataupun dikurangi. Dan kini keduanya sedang dalam perjalanan pulang ke ibu kota. Tapi tiba-tiba saja Cino merasakan ada yang salah dengan mobilnya. Ia pun menepikannya sejenak dan melihat apa yang terjadi.
"Astaga!"
Cino melihat ban mobilnya kempes dan tidak berbentuk lagi. Ia pun melihat keadaan sekitar yang sepi. Terlebih tidak ada bengkel yang buka malam ini. Cino pun masuk kembali ke dalam mobilnya lalu menceritakan kepada Nami.
"Ban mobilku kempes, Nami. Kita harus mencari derek mobil," terang Cino ke Nami.
"Tak apa. Sebentar kutelepon dulu."
Cino pun mulai menelepon derek mobil yang dimaksud. Sementara Nami melihat keadaan sekeliling jalan pantai yang tampak sepi. Ia jadi khawatir jika berlama-lama di tempat ini.
Bagaimana ini?
"Apakah ada derek mobil yang masih buka di jam sekarang?" tanya Cino kepada seseorang di telepon itu.
__ADS_1
Saat itu juga Nami menoleh cepat ke Cino. Ia merasa benar-benar khawatir.
"Baiklah. Kalau begitu terima kasih." Cino pun memutuskan sambungan teleponnya.
"Bagaimana, Kak?" tanya Nami segera.
Cino mengembuskan napas lelahnya. "Semua derek mobil sudah tutup. Kita terjebak, Nami." Cino menceritakan.
"Apa?!" Seketika Nami khawatir dengan keadaan mereka di jalan yang sepi ini.
"Sebentar." Tak lama Ken pun menelepon Cino. Cino kemudian segera mengangkatnya. "Aku terjebak di pantai utara. Ban mobilku kempes. Bisa datangkan derek mobil untukku lalu kau menjemputku ke sini?" tanya Cino segera. Wajahnya tampak panik.
Nami memerhatikan dengan saksama.
"Ya. Baiklah. Kalau begitu derek mobil saja. Cepat ya!" pinta Cino ke adiknya. Tak lama ia pun mematikan sambungan teleponnya.
"Bagaimana, Kak?" tanya Nami lagi.
__ADS_1