
Nami kemudian beristirahat di taman itu setelah kelelahan mencari daun yang dimaksud oleh Su. Tak berapa lama sebuah dering ponsel menyadarkannya. Nami pun segera mengangkatnya.
"Halo?" Sambil mengelap keringat Nami mengangkat telepon itu.
"Kau di mana? Aku sudah senggang sekarang," kata seseorang di seberang telepon.
"Aku di taman yang ada di Jalan Kenanga," jawab Nami segera.
"Baik. Tunggu aku. Aku ke sana sekarang." Seseorang itupun menutup teleponnya.
Nami mengembuskan napas lelahnya. "Aku harap dia bisa menjelaskan semuanya." Ia pun berharap dapat menemukan titik terang dari hal yang menimpa Cino. Nami ingin kebenaran tentang kejadian yang menimpa kekasihnya.
Dua puluh menit kemudian...
__ADS_1
Saat ini sudah pukul lima sore waktu ibu kota dan sekitarnya. Jalanan pun sudah dipadati oleh para pengendara. Mereka bergegas pulang dari kantornya. Sedang sebagian lagi ada yang beristirahat sebentar di taman. Mencari cemilan atau jajanan untuk dibawa pulang.
Di sana, di sebuah kursi panjang yang ada di taman, tampak Nami yang sedang berbicara dengan seseorang. Yang mana seseorang itu adalah pria yang dikenalnya. Ialah Arya yang bertemu dengan Nami sore ini. Nami pun segera menanyakan unek-unek di dalam hatinya. Tentang kecurigannya selama ini.
"Aku tidak percaya jika kau tidak ada kaitannya dengan apa yang menimpa Cino, Kak Arya. Jujurlah agar hidupmu tenang," pinta Nami kepada Arya.
Tampak Arya yang tersenyum sinis di samping Nami. "Jadi kau memintaku bertemu hanya ingin menuduhku?" Arya balik bertanya kepada Nami.
Arya mengembuskan napasnya. Ia melipat kedua tangan di dada. "Jikalau hal ini kulakukan pun tentu saja kulakukan untuk kita, Nami." Arya berkata.
Saat itu juga Nami terbelalak. "Jadi benar kau yang menyuruh orang-orang itu untuk mencelakai Cino?" tanya Nami segera.
Arya tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah Nami yang duduk di sampingnya. "Aku rasa bisa bersaing secara sehat dengannya," tutur Arya lagi.
__ADS_1
"Bersaing secara sehat? Apa maksudmu, Kak?" tanya Nami tak mengerti.
Arya kemudian beranjak berdiri. Ia berniat menyudahi pertemuan kali ini. "Aku tertarik padamu. Hanya itu saja yang bisa kukatakan saat ini. Terserah bagaimana tanggapanmu." Arya beranjak pergi.
"Tunggu!" Nami pun meminta Arya tidak pergi. "Jadi benar kau yang telah melakukannya tapi tidak mau mengaku? Kau gunakan alasan tertarik padaku untuk mencelakai temanmu sendiri. Kau keterlaluan, Kak!" Nami pun marah kepada Arya.
Arya berbalik ke arah Nami. "Kau masih terlalu dini untuk mengerti tentang sesuatu. Baiknya kau pikirkan perkataanku. Jika bersamaku, tentu saja kau akan lebih bahagia. Umur Cino tidak ada yang tahu. Bukankah kau tidak ingin menjanda?" tanya Arya kepada Nami.
Saat itu juga Nami mengepalkan tangannya. Ia merasa geram dengan ucapan Arya.
"Kalau tidak ada hal yang ingin dibicarakan lagi, aku pergi. Sampai nanti."
Arya pun acuh tak acuh terhadap Nami. Ia segera pergi meninggalkan Nami sendiri di taman itu. Dengan senyum menyeringai yang merendahkan. Nami pun hanya bisa diam melihatnya. Ia ingin melampiaskan amarah yang ada di hatinya. Tapi ia tahu jika hal itu tidak mungkin dilakukannya sekarang. Nami belum mempunyai bukti yang kuat untuk memberi Arya pelajaran.
__ADS_1