PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Mencoba Mendekat


__ADS_3

Setengah jam kemudian, di rumah sakit...


"Nami, ada yang menunggumu di luar."


Tepat pukul setengah dua belas siang, rekan kerja Nami mengabarkan jika ada yang menunggunya di luar. Nami pun segera merapikan peralatan kerjanya. Ia juga melepas kaca mata pelindungnya. Nami beranjak keluar ruangan untuk melihat siapa yang datang. Dan sesampainya di luar ia menemukan seseorang tengah menunggunya di parkiran. Nami segera berjalan menuju ke orang itu. Ia meninggalkan ruangan pengecekan obat-obatan.


"Kakak Besar?"


Sosok itu adalah Cino yang baru saja sampai di rumah sakit untuk menjemput Nami siang ini. Sweater krim dan celana jeans putih yang membalut tubuhnya tampak membuat Nami terkesima. Apalagi lekukan dada bidangnya itu seolah bisa dilihat jelas oleh Nami. Cino mengenakan sweater tipis sehingga lekuk dada dan perutnya bisa kelihatan. Getaran yang Nami rasakan pun mulai muncul ke permukaan. Rasa ketertarikan mulai ada pada hatinya.


Sambil menggandeng tas dan juga memegang jas penelitiannya, Nami melangkahkan kaki mendekati Cino yang berada di sana. Cino pun tampak menyadari kehadiran Nami. Ia tersenyum kepada gadis cantik yang melangkah mendekatinya. Hingga akhirnya mereka pun bertemu di parkiran rumah sakit.


"Em, maaf. Aku tidak mengabari sebelumnya. Tapi aku sudah ke rumah bibimu," terang Cino kepada Nami.

__ADS_1


Semilir angin yang berembus siang ini menjadi saksi Nami yang mengerti. Bagaimanapun Ken dan sepupunya sangatlah dekat. Pastinya mereka juga sudah saling mengenalkan keluarga masing-masing. Dan sepupunya itu juga pasti dekat dengan kakak Ken sendiri. Cinos Levi Wirata.


"Tak apa, Kakak Besar. Apakah Kakak Besar ada keperluan?" tanya Nami segera.


Cino tampak malu-malu mengatakannya. "Em, aku ... ingin mengajakmu makan siang. Apakah ada waktu?" tanya Cino sedikit ragu. Ia belum terbiasa dekat dengan perempuan.


Nami mengangguk. "Kebetulan Nami sudah senggang, Kak. Kita mau makan di mana?" Nami pun antusias menanggapinya.


Cino merasa senang. "Kita makan di restoran terdekat saja ya. Ayo!"


Dia ternyata romantis.


Nami mulai dirundung perasaannya sendiri akan sikap Cino kepadanya. Rasa ketertarikan itu mulai muncul di dalam hatinya. Sebagai seorang perempuan pastinya mempunyai rasa ketertarikan terhadap pria. Apalagi terhadap Cino yang berasal dari keluarga kaya raya. Nami tidak mampu menolak kharismanya.

__ADS_1


Apakah aku benar-benar tertarik padanya?


Gaya tarik-menarik itu begitu kuat ia rasakan saat berhadapan dengan Cino. Nami pun tidak ingin menepiskannya. Ia belajar membuka hati untuk seseorang. Yang mana selama ini ia sangat menutup dirinya dari keadaan sekitar. Berharap kedewasaan itu semakin bertambah pada dirinya. Ia pun duduk diam di samping Cino sambil menikmati perjalanan.


Sesampainya di restoran...


Tepat pukul dua belas siang keduanya memasuki restoran mewah yang ada di ibu kota. Sontak saja Nami menjadi risih saat melihat daftar menu makanannya. Harganya mahal-mahal, sajiannya juga terlihat tidak mengenyangkan. Lantas Nami jadi sedikit ragu untuk memilihnya.


"Kau mau apa? Aku mau pesan ayam rica-rica dan vanila blue," terang Cino ke Nami.


Nami pun melihat harga makanan itu. Ia tampak menelan ludahnya. Karena harga yang tertera lima kali lipat dari biasanya.


"Em, Kakak. Bisakah kita pindah ke tempat yang lain saja? Di sini terlalu mahal," kata Nami dengan polosnya.

__ADS_1


Saat itu juga Cino tertawa. Tertawa sendiri sambil menutupi wajahnya. "Nami, tak apa. Aku yang akan membayarnya. Jangan khawatir. Pilih saja mana yang kau suka." Cino meminta.


__ADS_2