PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Makan Siang


__ADS_3

Nami pun jadi tidak enak hati sendiri. Pada akhirnya ia memesan makanan yang sama dengan Cino. "Aku ikut Kakak Besar saja."


Cino pun mengerti. Ia lantas memesankan dua menu yang sama kepada pelayan restoran. Mereka pun menunggu sejenak sampai makanan disajikan.


Beberapa menit kemudian...


"Aku ... sudah mendengar kisahmu dari Ken." Cino memulai perkataannya saat makanan baru saja datang.


"Benar, kah?" tanya Nami segera.


Cino mengangguk. "Aku sudah tahu bagaimana hubunganmu dengan keluarga Nara dan juga statusmu di rumah mereka saat ini. Tapi masih ada hal yang mengganjal di hatiku," terang Cino kepada Nami.


"Apa itu Kakak Besar?" Nami pun segera menanyakannya.


"Em ...." Cino tampak ragu mengatakannya.

__ADS_1


Nami menyeruput vanila bluenya. Ia tersenyum. "Katakan saja, Kak. Aku tidak keberatan," kata Nami lagi.


Tangan Cino tampak bergerak sendiri ingin menyentuh tangan Nami yang berada di atas meja. Nami pun melihatnya. Tapi sesaat kemudian Cino menarik tangannya kembali. Ia merasa belum siap untuk menyetuh Nami.


"Em, maaf. Apakah kau masih sendiri?" tanya Cino memberanikan diri.


"Maksud Kakak Besar tidak punya pasangan?" Nami ingin memastikan.


"Em, ya. Apakah kau belum punya pacar? Atau gebetan atau pria lain yang dekat denganmu?" Cino mulai bergerak untuk mengetahui status hubungan Nami sekarang.


Nami tersenyum. "Aku masih sendiri, Kak. Aku tidak punya pacar. Aku juga tidak mau pacaran. Aku ingin langsung menikah saja," kata Nami kepada Cino.


"Kau yakin? Kau kan masih kuliah. Apa tidak repot mengurus rumah tangga dan kuliahmu bersamaan?" tanya Cino lagi.


Nami menggelengkan kepalanya. "Itu sudah tugas dan tanggung jawab sebagai seorang istri, Kak. Lagipula suami Nami pasti bisa memaklumi kegiatan Nami yang masih kuliah. Pastinya dia juga tidak akan memaksakan kehendaknya." Nami percaya.

__ADS_1


Cino tampak menelan ludahnya. Ia tertegun sejenak. Apakah aku harus mengatakannya saat ini? Ia pun bertanya-tanya sendiri.


"Em, Nami. Sebenarnya—"


"Hei! Kalian di sini ternyata." Tampak Arya yang datang menghampiri mereka.


"Arya? Sedang apa kau di sini?" tanya Cino. Ia terkejut dengan kedatangan Arya yang tiba-tiba.


"Aku habis menemui klien tadi. Aku duduk di sini ya?" Arya pun duduk di antara mereka.


Arya datang di saat Cino ingin mengutarakan maksud hatinya kepada Nami. Dan tentu saja kedatangan Arya itu membatalkan niatan Cino. Nami sendiri tampak canggung saat Arya datang. Ia jadi malu untuk meneruskan pembicaraan. Begitu juga Cino yang merasa terusik dengan kedatangan Arya. Tapi Arya sendiri tampak biasa-biasa saja, seperti tidak menyadarinya. Lalu apakah Cino akan mengutarakan maksud hatinya?


"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" tanya Cino ke Arya.


"Aku melihat kalian dari lantai dua. Jadinya setelah menemui klien, aku langsung datang ke sini. Sepertinya ada perayaan kecil. Aku tidak mengganggu, bukan?" tanya Arya ke Cino.

__ADS_1


Sontak Cino menoleh ke arah Nami. Ia terlihat tidak enak sendiri. "Di rumah ada Ken, mungkin kau ingin datang duluan ke sana." Cino memberi isyarat kepada Arya agar datang duluan ke rumahnya.


Arya mengerti. Tapi ia seperti tidak ingin pergi. "Aku lapar. Aku pulang bersama kalian saja ya." Arya berkata. Ia lalu memanggil pelayan.


__ADS_2