PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Tertidur


__ADS_3

Di perjalanan...


Malam penuh bintang menjadi saksi Nami yang mengantuk di mobil Cino. Tampak Cino yang memerhatikan Nami dari kaca tengah mobilnya. Cino pun berinisiatif segera.


"Kau terlihat lelah, Nami. Tidurlah sebentar di pundakku kalau mau." Cino menawarkan diri.


"Terima kasih, Kakak Besar. Tapi aku masih kuat kok," sahut Nami kemudian.


Nami berusaha menahan rasa kantuknya. Namun, hal itu hanya sekedar ucapan saja. Nyatanya, tanpa disadari kepala Nami jatuh di bahu Cino. Nami benar-benar tertidur di dalam mobilnya. Cino pun memandangi wajah Nami yang lelah sambil menyesali perbuatan ibunya.


Maafkan ibuku, Nami. Sepertinya ibu memang ingin menjodohkan kita. Dia bekerja sama dengan Ken untuk membuat kita dekat. Tapi aku berharap kau tidak risih dengan apa yang mereka perbuat.


Cino tersenyum sambil melihat Nami yang tertidur di bahunya. Ia pun terus melajukan mobilnya sampai tiba di kediaman bibi Nami. Cino mengantarkan Nami pulang malam ini.


Sesampainya di kediaman Nara...


Cino mengetuk pintu rumah teman adiknya. Tak berapa lama pintu pun dibukakan. Dan ternyata Nara lah yang membuka pintunya. Cino pun segera mengutarakan tujuannya. Ia mengantar Nami pulang dengan posisi Nami yang tidur sekarang. Nara pun mempersilakan Cino untuk membawa Nami ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Cino juga segera merebahkan Nami di atas kasurnya.


Kasihan sekali.

__ADS_1


Cino merasa menyesal dengan apa yang terjadi hari ini. Dimana Nami dibuat capek dengan diminta memasak di rumahnya. Tampak Cino yang memandangi Nami tertidur.


"Sepertinya Kakak Besar menyukai Nami," sindir Nara dari depan pintu kamar Nami.


Cino menghela napasnya. Ia memutar tubuhnya ke arah Nara. "Kalian begitu keterlaluan memperlakukannya." Cino pun membela Nami.


Nara mengembuskan napasnya. "Ken yang memintaku, Kakak Besar. Jadi jika meminta pertanggungjawaban, kepada dia saja." Nara membela dirinya.


Cino menggeleng-gelengkan kepalanya. "Di mana bibi?" Ia menanyakan ibu Nara.


"Oh, ibu sedang arisan. Mungkin sebentar lagi akan pulang. Kakak Besar ingin minum teh dulu atau bagaimana?" tanya Nara segera.


Nara menahan tawanya. Ia merasa imbalan besar akan segera ia dapatkan.


"Baiklah. Aku pulang. Sampai nanti, Nara." Cino pun berpamitan.


"Sampai nanti. Hati-hati di jalan, Kakak Besar."


Nara pun mengantarkan Cino sampai ke halaman depan rumahnya. Cino juga segera pergi berlalu dari kediaman Nara. Tentunya sambil memikirkan wajah gadis yang hari ini memasak di rumahnya.

__ADS_1


Nami, terima kasih.


Pada akhirnya Cino pun tersenyum sebelum melaju. Hatinya mulai merasakan kebahagiaan yang sudah lama dinantikan. Namun, sulit diraih karena waktu yang belum memungkinkan.


Satu minggu kemudian...


Tak terasa sudah seminggu saja sejak pertemuan terakhir Nami dan Cino. Dan kini gadis itu tampak sedang menghadap dosen pembimbingnya. Dosen Su memanggilnya sore ini selepas jam kuliah kampus berakhir.


"Dosen Su?"


"Silakan duduk, Nami."


Dosen wanita berambut pirang itu mempersilakan Nami duduk bersamanya. Nami pun duduk di depan meja kerja sang dosen.


"Aku memanggilmu karena ada keperluan. Salah satu rumah sakit meminta fakultas farmasi untuk mengirimkan perwakilannya dalam mendata obat-obatan yang masuk. Mereka khawatir terjadi kesalahan dalam komposisi sehingga meminta kita mengujinya terlebih dulu." Dosen Su menuturkan.


"Jadi maksud Dosen Su?" tanya Nami segera.


"Kau akan dipekerjakan oleh rumah sakit tersebut dan digaji tiga kali lipat dari biasanya. Tapi kau akan menghabiskan banyak waktu di sana. Tentunya bersama tim rumah sakit juga. Apa kau berminat, Nami?" tanya dosennya.

__ADS_1


Saat ditanya, saat itu juga Nami ragu menjawab.


__ADS_2