
"Ken? Kau belum tidur?" Sang ibu menanyakan kepada putra bungsunya.
Jam di dinding baru saja menunjukkan pukul delapan malam. Tapi sang ibu sudah begitu perhatian kepada putranya. Namun, Ken diam saja dengan mata yang memerah seperti habis menangis. Sang ibu pun menyadarinya.
"Ken, kau baik-baik saja, Nak?" Sang ibu pun beranjak mendekati putranya.
"Ken, kemarilah. Duduk bersama ayah dan ibu." Sang ayah meminta.
Ken masih diam sampai sang ibu menghampirinya. Ia lihat raut wajah putranya yang tampak memerah. Sang ibu pun memegang wajah anaknya.
"Ken?" Ia perhatikan wajah putra bungsunya yang tidak bicara apa-apa.
"Ibu ... apa ini?" Ken lalu menunjukkan buku diary milik Cino kepada ibunya. Saat itu juga ibunya tersadarkan.
"Ken?!" Sang ibu tampak tak bisa berkata apa-apa.
"Jadi ini alasan kakak tidak mau menikah? Jadi ini alasan dia tidak mau dekat-dekat dengan wanita?" tanya Ken terus terang.
__ADS_1
Sang ibu tampak diam sambil memalingkan mukanya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Chandra pun menyadari jika tengah terjadi sesuatu antara Ken dan istrinya. Ia segera mendekati putra bungsunya.
"Ken, ada apa?" tanya sang ayah kepada putranya.
Gemuruh di hati Ken sudah tidak dapat terbendung lagi. "Ayah, Ibu. Kenapa selama ini kalian menyembunyikannya dariku? Kenapa, Yah?!" Ken pun melampiaskan rasa kesal yang ada di hatinya.
"Ken?" Sang ayah tampak bertanya-tanya.
"Ini. Ini lihat! Ini adalah buku diary kakak. Kenapa kalian tidak ada yang menceritakannya padaku? Kenapa?!" Ken pun marah.
"Kalian masih diam? Baik. Terima kasih." Ken pun beranjak pergi.
"Ken!"
Sang ibu tampak menahannya, tapi tidak Ken indahkan. Ken pergi ke kamarnya lalu menutup pintu sekuat-kuatnya. Ia merasa telah dibohongi kedua orang tuanya. Tentang kebenaran kakak kandungnya, Cino Levi Wirata.
Lalu apa yang terjadi sesungguhnya? Mengapa Ken sampai marah sebegitu besarnya?
__ADS_1
Esok paginya...
Hari ini adalah akhir pekan yang indah. Hari dimana orang-orang bisa pulang cepat dari aktivitasnya. Kadang sebagian dari mereka sudah ada yang mendapatkan libur. Mengisi waktu dengan keluarga atau hang out bersama teman-teman sebaya. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Ken dan Cino. Cino harus tetap bekerja dan Ken yang memenuhi hasrat passion-nya.
Pagi ini Ken menghampiri sang kakak sebelum mengecek sebuah lokasi bangunan yang akan dibangun. Ia menyempatkan diri masuk ke dalam kamar kakaknya, yang mana sang kakak baru saja selesai mengenakan pakaiannya. Tampak Cino yang mengenakan kemeja lengan panjang dan celana dasar hitamnya. Sedang Ken tetap dengan pakaian kasualnya sebagai anak muda. Keduanya pun bertemu setelah Cino mengizinkan sang adik masuk ke dalam kamarnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan," kata Ken kepada kakaknya.
"Katakan saja," pinta Cino sambil menyisir rambutnya.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku tentang apa yang kau tanggung selama ini?" tanya Ken pada kakaknya.
"Maksudmu?" Cino belum menyadarinya.
Ken meletakkan buku diary Cino ke atas meja. Saat itu juga Cino terkejut seketika.
"Jadi kau sudah membacanya, Ken?" tanya Cino kepada adiknya.
__ADS_1