PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Godaan


__ADS_3

Cino kemudian menghidupkan kipas angin yang ada di dalam kamar. "Bagaimana, masih terasa panas?" tanya Cino lagi.


Nami mengangguk. Ia kemudian melepas jaket yang diberikan Cino kepadanya. Saat itu juga Cino terbelalak seketika. Ia melihat Nami hanya mengenakan tengtop putihnya saja. Nami pun segera menggulung rambutnya sehingga terlihatlah lengan Nami yang putih dan bersih. Saat itu juga Cino menelan ludahnya.


Apakah dia sedang menggodaku? Cino pun bertanya-tanya sendiri.


Nami kemudian beranjak ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya di sana. Sedang Cino duduk diam di kursi kamar sambil mencoba menormalkan detak jantungnya. Baru kali ini ia melihat Nami seterbuka ini. Dan baru kali ini juga ia berhadapan langsung dengan wanita yang disukainya. Cino hampir tidak bisa berkata apa-apa.


Nami keluar dari kamar mandi. "Kakak tidak ingin membasuh wajah dulu?" tanya Nami ke Cino. Ia kemudian melihat jam di dinding. "Sudah jam dua belas malam. Aku tidur duluan ya, Kak." Nami pun berpamitan.


Cino mengangguk. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Nami pun segera tidur di kasur tanpa memedulikan Cino. Pada akhirnya Cino ditinggal sendiri di keheningan malam ini.


Dia tidak ingin berbagi kasur denganku?


Cino bertanya dalam hatinya. Ia masuk ke kamar mandi lalu lekas membasuh wajahnya, mencuci tangan dan juga kakinya. Cino siap untuk tidur malam ini. Tapi, saat keluar kamar mandi, ia jadi bingung sendiri. Ia bingung harus tidur di mana karena Nami berada di kasurnya. Jalan satu-satunya Cino hanya bisa tidur di kursi atau di lantai penginapan malam ini.

__ADS_1


Nami membuka matanya. Ia melihat ke arah Cino yang terdiam saat melihat keadaan kamar penginapan. Nami pun lantas beranjak dari kasurnya.


"Kakak ingin tidur?" tanya Nami ke Cino.


Nami mendekat. Tentu saja pemandangan itu membuat Cino berdebar hebat. Bagaimana mungkin ia berhadapan dengan seorang gadis yang hanya mengenakan tengtop putihnya saja. Dan juga celana jeans hitam yang masih melekat di tubuhnya. Cino merasa gelisah dengan Nami yang tidak mengenakan kemeja.


"Nami ...."


Dan entah mengapa Cino seperti tidak bisa berkata apa-apa. Saat itu juga Nami mendekatkan dirinya untuk melihat lebih dekat wajah Cino. Keduanya pun berdiri berhadapan di kamar penginapan ini. Nami pun tersenyum kepada Cino.


Nami kemudian mengucapakan kata itu kepada Cino. Sontak membuat degup jantung Cino tak beraturan. Ia semakin berdebar saja.


"Aku sampai lupa jika kita telah jadian." Nami mengatakannya.


Cino terdiam. Ia menunduk malu. Nami pun segera mencium pipi Cino tanpa apa-apa terlebih dahulu.

__ADS_1


"Muach!"


Satu kecupan yang membuat Cino tersadar bagaimana hubungannya dengan Nami. Cino pun mengiyakan dalam hatinya jika mereka sudahlah menjadi sepasang kekasih.


"Maafkan aku yang telah merepotkanmu, Sayang," kata Nami ke Cino.


Cino tersentak. Ia terdiam melihat Nami. Nami pun segera membalikkan badannya untuk berjalan membelakangi Cino. Nami ingin kembali ke kasurnya lagi. Namun, sebelum sempat Cino menarik Nami ke tubuhnya. Cino pun mencium Nami dengan lembutnya.


Kakak ....


Cino mencium Nami sebagai respon alami tubuhnya. Perlahan-lahan bibirnya pun merayap-rayap seolah mencari perlawanan. Cino menyapu bibir Nami dengan lembutnya. Nami pun merasakan ada getaran di dalam tubuhnya. Deru napasnya seolah mengikuti setiap irama kecupan yang Cino berikan. Nami pun mulai terhanyut suasana.


"Kakak, jangan ...."


Nami pun mencoba menegur Cino. Namun, kesempatan itu malah dimanfaatkan Cino untuk memperdalam ciumannya. Nami pun kaget saat ada sesuatu yang mencoba masuk ke dalam mulutnya. Basah, lunak dan bergerak dengan bebasnya. Cino ingin mengajak Nami beradu lidah.

__ADS_1


"Mmhh ...."


__ADS_2