
"Hahaha." Sang kakak tertawa. "Kau memang malas seperti biasanya, Ken." Cino mengejek.
Ken tampak tidak memedulikannya. "Biar saja. Yang penting aku bahagia." Ken pun balik menyindir Cino.
"Aku sudah bahagia sekarang. Terima kasih, ya."
Cino pun mengusap kepala sang adik yang duduk di sebelahnya. Sontak Ken terbelalak seketika. Ia menyadari apa maksud ucapan kakaknya.
"Jadi, kalian?"
Ken menanyakannya. Tampak sang ayah dan ibu yang tidak mengerti maksud pembicaraan anak-anaknya.
Cino diam. Ia hanya tersenyum sendiri. Tak lama kemudian terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Cino pun segera membacanya. Saat itu juga wajahnya semringah.
"Em, Ayah, Ibu, aku ada keperluan pagi ini. Maaf tidak bisa menemani kalian sarapan pagi lebih lama. Aku berangkat ya."
Cino pun menciun pipi ibu dan ayahnya lagi. Ia kemudian segera pergi tanpa menceritakan apa yang terjadi. Sedang Ken tampak mendengus kesal sendiri.
__ADS_1
Dia lupa padaku saat sudah berhasil. Dasar kakak tidak tahu diri!
Pada akhirnya Ken pun hanya bisa mendengus kesal. Ia beserta ayah dan ibunya sarapan pagi bersama tanpa Cino seorang. Cino segera berlalu pergi yang entah akan ke mana. Sepertinya ia akan menjemput Nami untuk ngedate hari ini. Ken pun hanya bisa menduga-duganya.
Setengah jam kemudian...
Pagi-pagi Cino datang ke kediaman Nara. Tentu saja membuat bibi Nami dan Nara terkejut seketika. Mereka tampak tak percaya dengan kedatangan sang putra sulung dari keluarga Chandra. Cino ingin menjemput Nami untuk liburan bersamanya. Sontak Nara dan ibunya pun tak menyangka.
"Cino tidak sedang mengigau, kan?" Bibi Nami tak percaya dengan tujuan Cino datang ke rumahnya pagi ini.
Cino tersenyum. "Em, maaf, Bibi. Cino tidak bilang sebelumnya jika sudah janjian dengan Nami. Mohon Bibi memberikan izin untuk kami berlibur bersama hari ini." Cino meminta.
"Baiklah. Tapi jangan pulang malam." Sang bibi pun berpesan.
"Baik, Bibi."
Cino pun menyanggupinya. Yang mana tak lama Nami sendiri turun dari lantai dua kamarnya.
__ADS_1
"Bibi, Nami pergi dulu ya."
Nami pun lekas berpamitan kepada bibinya. Tanpak sang bibi yang seperti tidak dapat menolak permintaan izinnya. Pada akhirnya mereka pun segera melaju pergi, meninggalkan Nara dan ibunya yang masih terdiam di tempatnya. Tampak bibi Nami yang terheran-heran dengan kejadian pagi ini.
"Mereka sudah jadian?" tanya bibi Nami ke putranya dengan wajah tak percaya
"Sepertinya begitu, Bu. Lagipula tidak apa, bukan? Kita sudah tahu siapa yang membawa Nami. Apalagi dia kakaknya Ken. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Nami juga bukan anak kecil lagi." Nara tampak sangat setuju Nami diajak pergi oleh Cino.
"Tapi bukannya--"
"Mereka akan segera menikah," sela Nara yang membuat ibunya ingin pingsan saja.
Astaga ....
Sang ibu pun tampak terkejut mendengar hal ini. Ia memegang kepalanya sendiri. Tak menyangka jika proses pengenalan keponakannya dengan putra sulung keluarga Chandra akan berjalan cepat. Padahal selama ini ibu Nara tahu jika Cino belum pernah dekat dengan seorang wanita. Ia pun jadi kaget sendiri mendengarnya.
Apakah sekarang zaman sudah berganti? Kenalan, tatap muka lalu langsung menikah?
__ADS_1
Pada akhirnya ibu Nara harus merelakan keponakannya pergi bersama Cino. Tentunya dengan bujukan dari putranya sendiri. Nara ikut membantu agar sang ibu memberikan izin kepada Nami. Nami dan Cino pun akhirnya bisa pergi ke pantai untuk menikmati liburan bersama. Tapi, apakah pernikahan itu akan lekas diselenggarakan mereka?