PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Diculik


__ADS_3

Belasan menit kemudian...


Di mana aku?


Nami tersadar dan membuka perlahan matanya. Samar-samar ia pun melihat sorot lampu jalan yang menyinarinya. Nami pun melihat siapa gerangan yang ada di dekatnya. Dan ternyata ada seorang pria berdada hidang yang memberikan sandaran padanya. Nami tersadar jika sedang merebahkan diri di dada seseorang. Tapi ia tidak mempunyai kekuatan untuk menghindar. Tubuhnya begitu lemas setelah dibekap seseorang. Nami pun akhirnya tertidur kembali. Ia tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri.


Gadis cantik nan multi talenta itu kini berada di dalam mobil seseorang. Yang mana seseorang itu tengah memeluknya agar Nami terus tertidur di dadanya. Nami pun tak berdaya untuk bertanya. Ia seperti dibius sehingga tidak bertenaga. Sedang seseorang itu tampak tersenyum melihat Nami tak melawan. Ia kemudian meminta supir untuk mengantarkan ke apartemennya.


"Ke apartemen saja. Aku ingin beristirahat di sana," katanya kepada supir itu.


"Baik, Tuan."


Tak lama sang supir pun segera melajukan mobilnya ke apartemen seseorang itu. Yang mana seseorang itu akan beristirahat bersama Nami di sana. Ia ingin menikmati malam bersama sang gadis cantik nan multi talenta, Namia.


Setengah jam kemudian...


Suasana sunyi dirasakan oleh Nami beberapa saat setelah ia tersadar jika sedang bersama seseorang. Dan kini ia mencoba membuka kedua matanya. Ia pun melihat keadaan di sekelilingnya. Tapi ternyata Nami menemukan dirinya di sebuah ruangan yang mewah.

__ADS_1


"Di mana aku?"


Nami memijat kepalanya yang masih terasa pusing. Tak lama kemudian ia menyadari jika sudah berada di kamar sebuah apartemen. Nami pun lekas-lekas membuka selimutnya. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat kemejanya telah terlepas dari tubuhnya. Nami pun hanya mengenakan tengtop putih dan jeans hitamnya saja. Sedang kemejanya entah ke mana.


"Astaga!"


Nami kemudian mencari ponselnya. Ia berniat menghubungi seseorang untuk meminta bantuan. Namun, tak lama kemudian seseorang masuk ke kamarnya. Seseorang itu adalah pria yang dikenalnya.


"Ka-kau?!"


"Kak Arya?!" Nami pun mengucek-ngucek matanya. Ia memastikan pria yang dilihatnya itu memang benar adalah Arya.


Pria itu memang benar Arya. Arya membawa Nami ke apartemennya malam ini. Nami pun segera tersadar dengan apa yang terjadi. Ia segera menanyakan apa maksudnya.


"Kak Arya? Di mana kemejaku?! Apa yang kau lakukan padaku?!" tanya Nami kesal.


Arya kemudian duduk di sofa yang ada di dalam kamar. "Nami, duduklah. Tolong jangan berteriak. Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Arya meminta.

__ADS_1


Nami menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau.


Arya tidak kehabisan akal. "Baiklah. Aku akan menceritakan hal yang sebenarnya. Tapi tenanglah." Arya menuju ke meja tehnya. Ia ingin membuat secangkir kopi.


Nami terdiam. Ia bingung harus berbuat apa. Otaknya seperti tidak bisa berpikir saat ini.


"Maaf telah membuatmu ketakutan, Nami." Arya berkata seperti itu. "Aku terpaksa melakukannya. Aku rasa tidak ada jalan lain untuk berdua denganmu," kata Arya lagi.


"Apa maksudmu?!" Nami segera bertanya.


Arya membawakan satu cangkir kopi untuk Nami. "Duduklah bersamaku. Kita bicarakan hal ini dengan santai," pinta Arya lagi.


"Tidak." Nami berkata tegas ke Arya. "Kau sudah menculikku, Kak. Kau bisa dipenjara karena hal ini." Nami memeringatkan Arya.


Arya tersenyum tipis. "Oh, jadi kau ingin melaporkanku?" tanya Arya balik.


Nami terdiam. Ia menelan ludahnya dalam rasa kesal dan juga takut yang bersamaan. Ia ingin melarikan diri dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2