PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Tersinggung


__ADS_3

Mau tak mau Cino pun berpikiran demikian. Nami yang malu-malu kini sudah berubah menjadi agresif. Dan hal itu pasti mustahil dilakukan oleh Nami jika tidak disuruh orang. Cino kemudian segera menelepon Ken.


"Em, sebentar ya." Cino pergi sebentar.


Saat melihat Cino pergi, saat itu juga hati Nami mulai merasakan jika sikapnya tidak disukai Cino. Lantas Nami pun akhirnya memutuskan pergi dari tempat itu karena malu. Ia merasa telah merendahkan dirinya sendiri.


Aku tidak bisa. Dia tidak menyukaiku.


Pada akhirnya rasa yang mulai tumbuh itu harus terkikis. Nami tersinggung dengan sikap Cino yang menjauh darinya. Tanpa tahu jika Cino ingin menelepon adiknya. Dan akhirnya kesalahpahaman itu terjadi. Nami ngambek yang sejadi-jadinya.


"Dia ke mana?"


Setelah selesai menelepon Ken, Cino pun segera kembali ke mejanya. Tapi sayang Nami sudah tidak berada di sana. Cino jadi merasa bersalah kepada Nami atas sikapnya. Ia kemudian mencari Nami segera. Tapi sayang, Nami terburu pergi. Mereka akhirnya tidak jadi bicara siang ini.

__ADS_1


Malam harinya...


Nami baru saja pulang dari rumah sakit. Ia lihat sekeliling rumah tidak ada orang. Tak berapa lama sang bibi meneleponnya dan mengabarkan jika akan pulang malam. Bibi Nami bersama Nara sedang menghadiri sebuah acara pesta. Dan mereka baru saja sampai di sana. Tentu saja Nami juga akan sendirian di rumah. Ia pun segera membasuh tubuhnya.


Pekerjaan Nami hari ini di rumah sakit telah selesai. Ia pun pulang dengan perasaan lega. Namun, saat mengingat kejadian tadi siang, hatinya kembali kacau seketika. Nami malu dan juga rendah diri atas sikapnya tadi. Ia merasa telah membuat Cino ketakutan dengan sikapnya.


Selepas mandi, Nami pun segera mengurung dirinya. Ia mengenakan pakaian hangat dan membaringkan tubuhnya. Nami ingin menenangkan pikiran. Tapi tak lama berselang, bel rumahnya berbunyi. Nami pun segera tersadarkan jika ada yang datang. Ia segera keluar kamar lalu beranjak membukakan pintunya. Dan saat pintu terbuka, saat itulah Nami terkejut seketika.


Ternyata Cino lah yang datang ke rumah Nami malam ini. Tampak Cino yang masih mengenakan pakaian kantornya. Pria bertubuh maskulin itu seperti baru pulang dari kantornya.


"Nami, apakah aku mengganggu?" Cino pun seperti ragu untuk menanyakannya. Ia takut Nami marah padanya.


Nami menelan ludahnya. "Em, tidak. Silakan masuk, Kakak." Nami pun mempersilakan Cino untuk masuk.

__ADS_1


Cino tersenyum. Ia merasa senang karena Nami tidak marah padanya. Ia pun lekas masuk lalu duduk di ruang tamu. Nami juga segera membuatkan teh hangat untuk Cino. Nami tahu jika Cino baru saja pulang dari kantornya. Aroma parfum yang bercampur dengan sedikit keringat itu membuktikan jika Cino langsung datang kemari.


"Silakan, Kakak Besar." Nami pun menyediakan secangkir teh hangat untuk Cino.


"Terima kasih." Tanpa malu-malu Cino pun meneguknya.


Pintu rumah dibiarkan terbuka agar tidak ada orang yang berpikiran tidak-tidak. Nami pun duduk di seberang Cino karena ingin menjaga jaraknya. Nami tidak ingin dekat-dekat lagi dengan Cino karena khawatir membuatnya ketakutan. Sedang Cino tampak bertanya-tanya, mengapa Nami malam ini menjauh darinya?


Haruskah aku yang memulainya?


Jantung Cino pun mulai berdebar. Ia belum terbiasa dekat dengan perempuan. Tapi gadis bersweter putih itu seolah memaksanya agar mendekat. Cino pun akhirnya duduk di kursi dekat Nami.


"Nami, maaf atas kejadian tadi." Cino segera mengungkapkan tujuannya datang kemari.

__ADS_1


__ADS_2