
Cino tampak senang. Ia tidak ingat lagi jika mempunyai penyakit di dalam tubuhnya. Nami pun mulai mengajak Cino kembali menyusuri pantai bersama. Menikmati deru ombak yang berkejaran seraya melangkahkan kaki di atas pepasiran yang indah. Cino pun menggenggam erat tangan Nami. Ia juga membantu membawakan sandal Nami. Cino tampak romantis kepada Nami.
Keadaan sekeliling pantai tampak ramai karena didatangi para pengunjung dari berbagai tempat. Cino kemudian memilih tempat yang tidak terlalu ramai dari para pengunjung. Mereka menuju sebuah kawasan hutan bakau yang ada di sana. Suasana syahdu pun akhirnya mereka dapatkan saat singgah di sana.
Kak Cino mengajak ku ke tempat ini?
Pijakan demi pijakan di atas pasir mereka rasakan. Hingga tiba di sebuah tempat yang teduh lagi rindang. Nami pun meminta Cino memotretnya di sini. Nami berpose tanpa malu di depan Cino. Cino pun tertawa melihat gaya Nami saat berfoto.
"Kita selfie bareng, Kak."
Lantas Nami mengajak Cino untuk berfoto bersama. Foto dengan angle dari sudut atas. Saat itu juga keceriaan terlihat di wajah Cino. Ia seperti sangat menikmati liburan hari ini bersama Nami. Nami pun memegang erat-erat topinya agar tidak terkena embusan angin pantai yang kencang. Mereka bak sepasang kekasih yang tidak akan terpisahkan. Di mana bunga-bunga cinta itu bermekaran.
"Oke. Selesai. " Nami pun melihat hasil jepretan kamera ponselnya.
Slide demi slide ia lihat di depan mata. Dan ternyata hasil fotonya bagus semua. Nami pun menyimpannya sebagai kenang-kenangan liburan bersama Cino. Ia tidak akan melupakannya.
"Nami."
__ADS_1
"Ya?"
Cino kemudian memegang pundak Nami. "Mulai sekarang jangan panggil aku kakak lagi ya, bisa?" tanya Cino kepada Nami.
"Eh?!" Nami pun terkejut dengan permintaan Cino. Bukannya tadi dia bilang--
"Panggil saja aku sayang atau Dear. Bisa, bukan?" pintanya.
"Em ...." Nami pun mencoba memikirkannya.
Nami ragu untuk menjawabnya.
"Kita coba. Pelan-pelan saja," pinta Cino lagi.
Nami akhirnya mengangguk. Saat itu juga Cino senang bukan kepalang. "Terima kasih. Bisa dimulai sekarang kata panggilannya?" pinta Cino segera.
Sontak Nami pun terkejut.
__ADS_1
"Sayang?" Cino mempraktikkannya.
"Sa-sa--"
"Sayang," kata Cino lagi. "Tidak berat, bukan?" Cino berharap Nami mau memenuhi permintaannya.
Entah mengapa Nami tersipu malu sendiri. Ia tidak berani untuk menatap wajah Cino saat ini.
"Baiklah."
Lantas Nami pun mengiyakannya. Seketika itu juga Cino tersenyum ceria. Ia terlihat amat senang karena Nami mau memenuhi permintaannya. Tatapan matanya seperti menyiratkan keinginan yang besar untuk terus disayang Nami.
Cino pun kemudian memegang tangan Nami. Perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah Nami. Nami pun segera tersadar dengan apa yang ingin dilakukan Cino padanya. Ia tampak pasrah jika Cino ingin menciumnya. Dan pada akhirnya pantai pun menjadi saksi ciuman ke dua mereka. Ciuman mesra di saat liburan bersama.
Pukul dua siang...
Ombak-ombak yang berkejaran di pantai menjadi saksi sepasang insan yang bermesraan. Tampak keduanya tengah bersiap-siap pulang, kembali ke ibu kota. Keduanya harus melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan Nami bekerja. Ya, liburan kali ini harus terhenti manakala Nami ditelepon pihak rumah sakit untuk segera mengecek komposisi obat di laboratorium. Cino pun mau tak mau merelakan Nami yang harus bekerja. Cino akan mengantarkan Nami sampai ke rumah sakit.
__ADS_1