
"Ya, aku sudah tau semua tentang apa yang terjadi padamu. Kenapa kau tidak bilang padaku dan membiarkan ini bertahun-tahun lamanya?" tanya Ken kepada kakaknya.
Cino menarik napas panjang. Ia segera menyemprotkan parfum ke tubuhnya. "Aku tidak ingin membuatmu khawatir. Lagipula, aku pikir ayah dan ibu juga sudah menceritakannya padamu." Cino membelakangi Ken.
"Jika kau bilang dari awal, pasti tidak akan seperti ini, Kak!" tegas Ken.
"Itu hanya akan menghabis-habiskan waktuku. Bercerita atau tidak, aku akan tetap mati," ucapnya lirih.
Ken meneteskan air matanya. Ia tidak lagi bisa membendung gemuruh yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
"Selama ini sebagai seorang adik, aku selalu menuntut hakku. Aku hanya ingin dimanja dan diperhatikan. Sejak kecil di saat aku menangis, kau selalu menenangkanku. Kau tidak pernah menolak ajakanku untuk bermain. Kau selalu mengasuhku tanpa peduli dengan aktivitasmu. Tapi sekarang aku seperti tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu. Kau sungguh kejam memperlakukan dirimu sendiri, Kak. Kau terlalu pasrah terhadap nasibmu." Ken berurai air mata.
Saat mendengarnya. Saat itu juga Cino merasa bersalah. Selama ini ia memang menyembunyikan hal itu dari Ken. Ia tidak ingin membuat Ken khawatir.
Cino divonis menderita leukimia atau kanker sel darah putih. Kenyataan pahit itu harus ia terima saat memasuki usia tujuh tahun. Hal itu disadari saat Cino tanpa sengaja tertusuk duri yang menancap di kakinya. Cino pun mengalami waktu penyembuhan luka yang sangat lama. Yang mana ibu Cino segera memeriksakannya. Dan ternyata Cino mengalami leukimia.
Selama ini juga Cino tidak pernah merokok, meminum alkohol, makan makanan pedas atau sesuatu yang dilarang untuk penderita leukimia. Semua itu ia lakukan untuk memperpanjang umurnya. Dan kini sudah dua puluh tiga tahun berlalu dari vonis dokter tersebut. Cino pun belum memeriksakannya kembali. Ia tidak ingin kepikiran atas penyakit yang dideritanya, karena hal itu hanya akan membuat mentalnya turun. Cino juga bersikap seolah-olah tidak mempunyai penyakit apapun pada tubuhnya. Ia mensugesti dirinya.
Cino merasa terharu dengan perkataan adiknya. Ia lalu berjalan mendekati sangat adik. Cino pun menyentuh dahi Ken dengan ujung jari telunjuknya.
__ADS_1
"Sekarang si manja sudah dewasa. Berbahagialah dengan hidupmu, Ken. Tidak perlu mengkhawatirkan aku." Cino tidak ingin sang adik mengkhawatirkannya.
Ken menggelengkan kepalanya. "Aku akan meminta Nami untuk menemuimu. Aku yakin dia pasti bisa membahagiakanmu." Ken berkata. Saat itu juga Cino terbelalak seketika.
"Kau tidak perlu melakukannya, Ken," tutur Cino.
"Kenapa?" tanya Ken.
"Karena aku memang sengaja untuk tidak menemuinya. Aku khawatir kami saling mencinta dan tidak bisa mempertahankan hubungan ini selamanya," jawab Cino yang berusaha tegar menghadapi kenyataan hidupnya.
__ADS_1
Tak dapat Cino pungkiri jika ia mulai menyukai Nami sejak di pesta waktu itu. Hatinya mulai tersentuh dengan keberanian Nami yang mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Terlebih Nami manis dan cantik jelita bak putri raja. Cino menyukainya. Gadis berkulit putih itu memikat hatinya.