
Aku harus menemui Ken secepatnya dan meminta dia untuk menghentikan semuanya. Adikku itu sudah keterlaluan memperlakukan orang. Aku tidak boleh diam saja.
Makan malam...
Waktu makan malam telah tiba. Semua anggota keluarga Chandra sudah menempati posisi duduknya. Tampak Nami yang duduk di antara Ken dan Cino. Sedang tuan rumah bersama sangat istri duduk di hadapan mereka. Sajian yang telah Nami buat pun dihidangkan oleh para pelayan kediaman Chandra. Tampak sang tuan rumah mulai mencicipi masakannya.
Ya Tuhan, semoga saja masakanku sesuai selera tuan besar.
Nami tampak cemas. Ia mengerutkan dahinya. Ia khawatir masakannya tidak enak. Karena bagaimanapun setiap orang mempunyai selera yang berbeda. Nami khawatir masakannya malah mendapat cercaan. Tapi sepertinya sebentar lagi ia akan tahu bagaimana hasil kerjanya.
"Bagaimana, Sayang?" Ibu dari Cino dan Ken itu bertanya kepada suaminya. Tampak sang ayah mulai merasakan masakan Nami. Lalu kemudian...
"Hm, ini ... ini ...." Sang tuan rumah pun membuat jantung Nami berdebar kencang.
__ADS_1
"Kenapa dengan masakannya, Sayang? Apakah tidak enak? " tanya sang istri lagi yang baru mengambil beberapa bagian.
Nami terdiam. Ia tidak berkutik sama sekali kalau mendengar suami-istri itu bercakap-cakap. Sedang Cino dan Ken tampak mulai khawatir sendiri. Keringat dingin pun mulai muncul di dahi Ken. Ia khawatir sang ayah tidak menyukai masakan sepupu temannya.
Chandra, ayah dari Ken itu tampak segera meneguk air minumnya. Ia lalu berkata, "Siapa yang telah memasak ini?" tanyanya segera. Semua pandangan pun tertuju ke arah Nami yang tampak diam saja sedari tadi.
Pria berusia lima puluh lima tahun itu tampak menggelengkan kepalanya. Ia berkata, "Cita rasanya ... luar biasa sekali. Aku baru menemui yang seperti ini," katanya yang sontak membuat Nami bergembira seketika.
Ibu dari Cino dan Ken itu tersenyum. Begitu juga dengan Ken yang bisa bernapas lega. Sedang sang kakak tampak memerhatikan adiknya yang nakal.
Pada akhirnya makan malam ini dimulai dengan suka cita. Masakan Nami pun diterima di rumah keluarga besar. Nami berhasil memukau keluarga Chandra dengan masakan yang telah ia buat. Ia berbakat di segala bidang.
Seusai makan malam, pukul delapan waktu ibu kota dan sekitarnya...
__ADS_1
Setelah makan malam, Nami pun segera berpamitan. Hari semakin larut, Nami juga belum memberi kabar kepada bibinya. Ia jadi ingin cepat-cepat pulang.
"Paman, Bibi, aku pamit." Nami berpamitan kepada kedua orang tua Cino dan Ken.
"Kakakku yang akan mengantarkanmu pulang." Ken pun menyahuti.
"Baiklah. Ayah, Ibu, aku mengantar Nami pulang dulu." Cino pun ikut berpamitan kepada ayah dan ibunya.
Sang ibu mengangguk. Begitu juga dengan ayahnya. Tampaknya kedua orang tua Cino itu sudah setuju dengan Nami. Apalagi Ken yang memang menginginkan kakaknya segera menikah.
Cepatlah menikah, Bodoh. Dia sudah ada di depan matamu. Dia gadis yang baik sepengetahuanku. Maka jangan tunda lagi waktu nikahmu. Aku malu mempunyai seorang kakak perjaka tua. Aku tidak ingin jadi bulan-bulanan orang. Jika kau tidak segera menikah, maka jangan salahkan aku jika melangkahimu. Dasar kakak bodoh!
Ken pun mendengus kesal di dalam hatinya. Ia merasa kebahagiaannya akan ikut terusik bilamana sang kakak belum juga menikah. Karena Ken mempunyai kebahagiaan tersendiri yang harus ia raih. Bukan hanya memikirkan kakaknya saja.
__ADS_1
Lantas malam ini pun menjadi saksi Nami diantar pulang Cino kembali. Ken pun melihat kepergian mereka sampai hilang dari pandangan mata.