
Jika dia memang pelaku dari kecelakaan Cino, maka aku tidak boleh diam saja. Tapi saat ini aku harus memprioritaskan untuk mencari obatnya. Jadi lebih baik kucari daun obat yang dimaksud. Aku pasti bisa menemukannya.
Nami menyimpan baik-baik perkataan Arya kepadanya. Tapi bukan untuk memikirkan tawaran cinta Arya, melainkan ingin membuktikan apa yang dikatakan Arya tidaklah benar. Nami akan berusaha sekeras mungkin untuk membuat obat penawar bagi penyakit Cino. Ia akan mencari daun obatnya. Ia juga akan meraciknya sendiri agar aman dikonsumsi oleh Cino. Semua ini tak lain karena cinta di hatinya. Nami tidak ingin kehilangan cinta pertamanya.
Satu minggu kemudian...
Satu minggu berlalu dari pertemuan terakhir Cino dan Nami. Tapi selama satu minggu itu juga mereka tidak pernah bertemu. Cino pun mulai merasa rindu saat tidak bertemu kekasihnya. Gadisnya itu hanya sekedar berkirim pesan dan meneleponnya saja.
"Ken, kau sudah pulang dari kampus? Apakah Nami masuk kuliah hari ini?"
Cino sampai-sampai menelepon adiknya untuk mengetahui keadaan Nami di kampus. Yang mana saat ini sudah pukul tiga sore waktu ibu kota dan sekitarnya. Cino pun ingin sekali bertemu dengan Nami. Rasa rindu itu sudah menyelimuti hatinya. Cino rindu kepada Nami.
__ADS_1
"Nami sibuk di laboratoriumnya, Kak. Apakah dia tidak memberi kabar padamu?" Tampak Ken yang menjinjing tas kuliahnya menuju parkiran.
"Aku ingin bertemu dengannya. Sudah satu minggu aku hanya berkirim pesan dan berteleponan saja." Cino mengungkapkan keinginan di hatinya.
"Baiklah. Nanti kutemui dia agar lekas menemuimu. Sekarang aku jalan dulu." Ken pun menutup sambungan teleponnya.
Cino terduduk lemas di sofa keluarga kala Ken tidak bisa menemui Nami secepatnya. Sang ibu pun datang membawakan susu segar untuknya. Cino sudah keluar dari rumah sakit dan menjalani rawat jalan di rumah. Tapi sampai saat ini ia belum kembali ke kantornya. Sang ibu belum mengizinkan Cino untuk kembali bekerja karena khawatir terjadi apa-apa.
"Hm, ya. Sudah lama tidak bertatap muka," tutur Cino kepada ibunya.
"Ini minumlah. Biar lekas sembuh." Sang ibu pun memberikan segelas susu segar kepada Cino.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu." Cino pun segera meneguknya.
"Jika kau serius padanya, kenapa tidak temui dia saja? Ibu akan menyuruh Pak Nardi untuk mengantarkanmu menemuinya." Sang ibu tampak setuju hubungan putranya.
"Apakah ini berarti Ibu tidak keberatan dengan hubungan kami?" tanya Cino memastikan.
Sang ibu menghela napasnya. "Ibu tidak bisa memaksakan kehendak untuk menjodohkanmu dengan wanita lain. Saat ini yang terpenting bagi ibu adalah kesembuhanmu dari penyakit leukimia itu. Ibu tidak ingin berharap terlalu banyak lebih dulu. Jika kau memang menyukainya, ibu akan mendukungnya. Asal pastikan jika perasaan di hatimu itu benar. Dan tidak akan pernah menyesal di hari kemudian," terang ibunya.
Saat itu juga Cino tersenyum. Ia memeluk ibunya. "Aku pikir Ibu seperti ibu-ibu di sinetron yang menginginkan putranya menikah dengan gadis kaya. Tapi ternyata ibu rendah hati dan mau menerima Nami. Cino bangga pada Ibu." Cino pun memuji ibunya.
"Kita sudah kaya raya. Jadi buat apa lagi mengharapkan gadis kaya untuk jadi menantu. Kebanyakan harta malah tidak membuat bahagia karena setiap waktu harus memikirkan bagaimana cara menjaganya. Bukankah begitu?" Sang ibu bertanya.
__ADS_1