PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Sedih


__ADS_3

"Dia ... tidak pernah memberi tahuku." Nami mengatakannya sambil menahan sesak di dada.


"Maafkan aku, Nami. Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Kakak tidak pernah menceritakannya padaku." Ken menjelaskan.


Nara menarik napas dalam-dalam. Ia turut prihatin dengan hal yang menimpa Cino. "Apakah masih ada kemungkinan untuk sembuh?" tanya Nara kepada Ken.


Ken mengembuskan napasnya kuat-kuat di hadapan Nara dan Nami. "Aku tidak tahu, Nara. Tapi semoga saja masih ada harapan untuk sembuh total dari penyap leukimia yang kakak derita." Ken berharap penuh.


Nara mengangguk. Ia mengerti situasi saat ini. Ia pun menoleh ke arah Nami yang menangis tanpa bersuara sama sekali. Nara ikut sedih. Tapi inilah takdir yang harus Cino jalani. Mau tak mau sebagai sepupu ia pun mensupport Nami. Dan sebagai teman Ken, ia bantu menguatkan hati temannya agar Ken tidak ikut sakit. Nara berharap yang terbaik untuk semuanya. Malam ini pun menjadi saksinya yang berdoa.


Esok harinya...


Pagi hari yang cerah telah datang. Suara gemercik air kolam ikan pun terdengar. Ruang rawat Cino berada di ruang rawat VIP sebuah rumah sakit eksklusif. Yang mana dekat dengan kolam ikan yang ada di sana. Nami pun mulai tersadarkan dari tidurnya. Ia lalu lekas membuka matanya.

__ADS_1


Pagi ini Nami memutuskan untuk menemani Cino di rumah sakit. Ken dan Nara pun masih tampak tertidur di sofa ruangan. Sedang kedua orang tua Cino sibuk mencari dokter handal untuk mengobati sakit putranya. Nami duduk di kursi, menemani Cino yang belum terbangun dari tidurnya. Hingga akhirnya tangan Cino mulai bergerak untuk meraih tangan Nami. Cino menyadari kehadiran Nami.


"Sayang." Nami pun berbisik pelan kepada Cino.


"Nami, kau menungguku?" tanya Cino sambil berusaha membuka matanya.


Nami tersenyum. "Sejak malam aku di sini. Bagaimana keadaanmu?" tanya Nami lagi sambil mendekatkan dirinya ke Cino.


Cino membuka matanya perlahan. Ia kemudian menatap langit-langit ruangan. "Nami, maaf aku tidak mengabarimu," katanya kepada Nami.


"Nami." Saat itu juga Cino menahannya. "Di sini saja, temani aku." Cino meminta.


Nami pun tidak jadi beranjak pergi. Ia tetap berada di sisi Cino.

__ADS_1


"Rem mobilku tiba-tiba blong. Aku juga tidak tahu mengapa. Untung saja kemarin tidak dalam kecepatan tinggi. Sehingga luka yang kuterima tidak terlalu parah." Cino mulai menceritakan.


Nami mengangguk. "Yang penting kau selamat. Aku sungguh khawatir," kata Nami lagi.


Cino menoleh ke arah Nami. Ia pun tersenyum lemah kepada kekasihnya. Dari raut wajahnya tidak menginginkan hal ini. Tapi ternyata takdir berkata lain padanya. Cino akhirnya harus dirawat di rumah sakit ini.


"Aku baik-baik saja. Hanya mobilku yang sedikit rusak. Kau jangan khawatir." Cino kemudian memegang pipi Nami.


Nami tersenyum, mengangguk. Ia pun memberatkan kepalanya di tangan Cino. Hingga akhirnya Nami mendekatkan wajahnya ke Cino. Nami mencium pipi Cino.


"Muach! Lekas sembuh ya. Aku akan menemanimu hari ini." Nami pun berjanji.


"Terima kasih, Nami."

__ADS_1


Cino pun meminta Nami untuk memeluknya. Saat itu juga Nami segera memeluk Cino. Cino pun merasa bahagia sekali karena Nami masih berada di sisinya. Ia berharap hal ini bisa terus berlanjut sampai ke depannya. Karena Nami adalah wanita yang berharga untuknya.


__ADS_2