
Beberapa hari kemudian...
Hari ini adalah Hari Minggu. Hari dimana orang-orang libur dari rutinitas hariannya. Yang bekerja di kantor bisa menikmati libur bersama keluarga, yang bersekolah juga bisa bermain game sepuasnya. Mereka menikmati hari ini dengan melakukan aktivitas kesukaannya. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Cino yang masih sibuk dengan banyak laporannya.
Cino duduk di depan meja laptopnya sambil membuat diagram atas laporan yang ia buat. Yang mana hal itu akan ia presentasikan esok hari. Bersama dengan kepala divisi cabang kantornya.
Cino harus membawahi banyak kepala divisi. Semua itu tak lain karena sang ayah ingin segera mewarisi perusahaan kosmetiknya. Sedang Cino masih dalam tahap belajar. Sehingga ia pun lebih sering menghabiskan waktunya di kamar. Berlatih dan terus berlatih agar bisa menjadi pribadi yang mandiri. Sehingga saat jabatan itu diserahkan ia tidak perlu bertanya lagi.
"Hei, Kak! Kau tidak ke mana-mana hari ini?" Kamar Cino yang besar pun menjadi saksi kedatangan adiknya, Ken.
Cino terus mengerjakan tugasnya. "Aku masih sibuk," terang Cino kepada adiknya. Ken pun mengambil kursi lalu duduk di samping kakaknya.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Apakah menunggu usia senja baru berhenti dan baru mencari kekasih?" tanya adiknya dengan berani.
Cino menoleh ke arah adiknya. Pria tampan dengan tinggi 185cm itu tampak menatap tajam sang adik. "Urusi saja urusanmu sendiri." Cino menahan kesalnya.
Ken mengerti. "Baiklah." Ia pun beranjak bangun. "Tapi jangan menyesal jika Nami direbut orang lain. Dia gadis multitalenta yang baik. Maka pastikan kau tidak akan menyayangkan dirimu sendiri saat melihatnya menjalin kasih. Aku sudah berusaha untuk mendekatkan kalian." Ken berjalan keluar kamar kakaknya.
Saat mendengarnya, saat itu juga ada perasaan khawatir menyelimuti hati Cino. Ia pun memberhentikan aktivitasnya sejenak. Ia memikirkan baik-baik perkataan adiknya. Karena jauh di dalam hatinya ia memiliki rasa ketertarikan kepada Nami. Hanya saja ia singkirkan sejenak demi pekerjaannya. Cino masih takut jatuh cinta. Lantas apakah ia akan menemui Nami segera?
Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak tampan saat mengenakan sweater berbahan dasar wol yang tipis. Ialah Cino yang baru saja sampai di kediaman Nara, teman adiknya. Ia pun menanyakan Nami segera.
"Selamat siang, Bibi. Apakah Nami ada di rumah?" tanya Cino kepada ibu Nara.
__ADS_1
Ternyata oh ternyata, Cino kepikiran dengan ucapan adiknya. Ia lantas meninggalkan laporannya lalu pergi ke rumah bibi Nami. Cino ingin mengajak Nami berjalan-jalan hari ini. Namun sayang, Nami ternyata sedang tidak berada di rumah.
"Nami sedang magang di rumah sakit Cempaka. Nak Cino ada keperluan apa? Biar bibi sampaikan." Bibi Nami itu terlihat senang Cino datang ke rumahnya.
"Em, sejak kapan dia magang, Bi? Bisakah bibi beri tahu di bagian mana Nami magang?" tanya Cino lagi.
"Mungkin sudah ada seminggu ini. Dia di bagian farmasi. Apakah bibi perlu meneleponnya? Setahu bibi tak lama lagi dia akan pulang. Hari Minggu biasanya hanya sampai jam sebelas siang," tutur bibi Nami.
"Em, kalau begitu biar Cino saja yang datang ke sana, Bi. Cino akan menjemput Nami sekarang. Cino permisi." Cino pun segera berpamitan.
Pada akhirnya Cino memutuskan untuk menjemput Nami pulang magang dari rumah sakit. Cino segera melajukan mobilnya ke rumah sakit Cempaka, tempat Nami magang di divisi farmasi. Mobil Cino pun melaju ke sana. Tak lain tak bukan untuk menemui Nami seorang.
__ADS_1