
"Nami, kau tau, berapa lama aku harus menunggu agar kita dapat berdua seperti ini?" Arya menanyakannya kepada Nami.
Nami menggelengkan kepalanya, tidak peduli. "Di mana ponselku? Di mana kemejaku?!" tanya Nami. Ia tidak ingin berbasa-basi lagi.
Arya beranjak mendekati Nami. Nami pun memundurkan langkah kakinya ke belakang. Ia ketakutan.
"Jangan mendekat! Kataku jangan mendekat!" pinta Nami ke Arya. Ia terus memundurkan langkah kakinya untuk menghindari Arya.
Arya seolah tidak menggubris perkataan Nami. Ia terus saja maju sampai akhirnya Nami tidak bisa memundurkan langkahnya lagi. Lalu pada akhirnya, Arya mendorong Nami ke dinding kamar. Ia kemudian memegang tangan Nami ke atas. Ia mencengkeramnya dengan kuat. Saat itu juga Nami tidak bisa bergerak.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" Nami panik menyadari keadaan dirinya.
Arya tersenyum tipis. Ia memerhatikan wajah Nami yang cantik. "Pantas Cino menjilat ludahnya sendiri. Dia ternyata jatuh cinta pada sepupu teman adiknya yang cantik seperti ini." Arya pun berkata sendiri.
"Kak Arya, tolong lepaskan aku! Aku tidak akan segan untuk melaporkanmu ke polisi! Lepaskan!" seru Nami sambil memberontak.
__ADS_1
Arya tersenyum. Ia merasa senang dengan pemberontakan yang Nami lakukan. Ia perhatikan apa yang ada di wajah Nami. Bibirnya, kedua bola matanya yang indah, alisnya dan juga pipi tembam yang membuat Arya terpesona. Ditambah lagi kulit Nami yang putih bersih. Arya pun melihat ke bagian dada Nami yang kencang dan terbentuk sempurna. Gairah itu kemudian muncul pada dirinya.
Dia sempurna.
Tanpa Arya sadari, ia memuji Nami di dalam hatinya. Ia pun mulai mengikuti hasrat yang tengah bergejolak. Pelan-pelan ia mendekatkan wajahnya ke Nami. Namun, Nami segera memalingkan pandangannya. Arya pun jadi lebih bersemangat untuk menguncinya.
"Nami, kau begitu menggairahkan."
Arya memegang kedua tangan Nami dengan tangannya. Tangan Nami pun dikunci ke atas sehingga tidak bisa bergerak. Ketiak Nami terlihat jelas dengan bongkahan kenyal yang menggoda pandangan. Arya pun mulai terhanyut hasratnya. Ia kemudian memaksa Nami untuk berciuman dengannya. Jantungnya berdetak keras untuk meraih bibir ranum itu.
Kringgg!!!
Siapa yang menelepon apartemen ini?
Arya mencoba tidak menggubrisnya. Tapi dering telepon itu semakin lama semakin keras. Arya pun kesal lalu segera keluar dari kamar. Nami pun dilepaskannya begitu saja.
__ADS_1
"Halo?"
Arya segera mengangkat telepon itu. Ia pun membatalkan ciumannya yang sedikit lagi bisa terwujudkan.
"Kau di mana? Aku sudah berada di depan apartemenmu," kata suara dari seberang.
Saat itu juga Arya terkejut. "Cino, kau kah itu?" Jantung Arya berdetak kencang tak terkendali.
"Aku ingin main ke sini. Tolong bukakan pintu," pinta seseorang itu lagi.
Seketika itu juga Arya merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Jantungnya berdegup cepat. Mulutnya tidak bisa menjawab. Arya menyadari jika keadaan tidak diinginkannya terjadi.
Apa yang harus kulakukan? Ia pun bertanya-tanya sendiri.
"Hei, cepat bukakan pintu! Lama sekali!" Seseorang itu menggerutu kepadanya.
__ADS_1
Arya memang sengaja tidak mengaktifkan ponselnya sehingga seseorang itu harus menelepon bagian ruang apartemennya. Dan ternyata seseorang itu memang benar adalah Cino yang sedang ingin main ke apartemen Arya malam ini. Sontak Arya jadi bingung sendiri dengan apa yang harus dilakukannya.
"Hei, cepat!" Cino pun masih menunggunya membukakan pintu.