PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Lelah


__ADS_3

"Ken punya kenalan pemilik derek mobil. Dia akan mengusahakannya dengan cepat datang kemari." Cino menceritakan.


"Syukurlah." Nami pun mulai tenang mendengarnya.


"Tapi untuk sementara kita cari penginapan terlebih dulu. Ini sudah malam. Tak baik di sini terus-terusan." Cino mengatakan.


Nami mengangguk. Ia tampak setuju.


Kejadian malam ini sungguh tak terduga, tidak hanya bagi Nami tapi juga bagi Cino. Ban mobil Cino tiba-tiba kempes sehingga mobil tidak bisa melaju kembali ke ibu kota. Cino pun menyesal mengapa ia sampai membawa Nami ke pantai malam ini. Ia akhirnya harus bertanggung jawab dengan semua tindakannya. Begitu juga dengan Nami yang ikut terkena getahnya. Ia merasa risau dan gelisah. Apalagi keadaan sepanjang jalan yang mulai sepi.


Lalu apakah mereka bisa kembali dengan cepat ke ibu kota?


Satu jam kemudian...

__ADS_1


Malam semakin larut, udara terasa begitu dingin. Tapi malam ini juga harus membuat Cino dan Nami kelelahan. Tanpak mereka yang berjalan di sepanjang jalanan pantai. Cino harus mencari penginapan untuk beristirahat sejenak.


"Kakak, aku sudah tidak kuat."


Nami yang kelelahan pun merasa tidak sanggup lagi untuk berjalan. Mobil derek yang datang ternyata membawa dua orang kenek sehingga tidak bisa membuat keduanya menumpang. Alhasil mereka menuju ke pantai terdekat untuk mencari penginapan. Tapi sayang, sang gadis sudah kewalahan dan tidak sanggup lagi untuk berjalan.


Astaga ....


Melihat hal itu tentu saja membuat Cino merasa bersalah. Ia kemudian merendahkan tubuhnya lalu berjongkok di depan Nami. Cino meminta Nami untuk segera naik ke punggungnya. Cino akan menggendong Nami.


Cino pun sebenarnya lelah, tapi ia tidak tega melihat Nami kelelahan. Pada akhirnya Nami pun naik ke punggung Cino. Keduanya berjalan bersama untuk menuju ke penginapan terdekat. Alhasil usaha yang mereka lakukan membuahkan hasil. Mereka pun tiba di penginapan yang ada di terdekat pantai. Cino lalu segera menyelesaikan administrasi pembayarannya.


Setengah jam kemudian...

__ADS_1


Malam semakin larut. Keduanya pun sampai di penginapan dengan tubuh yang lelah dan pegal semua. Tampak Nami yang meringis kesakitan karena kakinya kelelahan. Cino pun berusaha melihat kaki Nami yang pegal.


"Tahan sebentar, Nami. Aku akan mencoba mengompresnya.


"Sakit, Kakak." Nami pun mencoba bertahan dari rasa sakitnya.


Nami duduk di pinggir kasur sedang Cino berjongkok di hadapannya sambil mengompres kaki Nami yang sakit. Tempat penginapan yang mereka sewa kebetulan disertai dispenser air dan juga beberapa peralatan makan. Cino jadi mengompres kaki Nami dengan sapu tangan miliknya. Saat itu juga Nami ingin menejrit saja.


"Kakak, sudah! Sakit!"


Air hangat yang dikompres ke kaki Nami itu tentu saja membuat Nami menjerit. Ia habis berjalan kaki dengan jarak yang sudah tidak bisa diperkirakan lagi. Mereka akhirnya mencari penginapan di malam yang selarut ini. Sedang mobil mereka segera dibawa ke bengkel oleh derek mobil kenalan Ken. Dan kini hanya tersisa lelahnya saja. Mereka tak menyangka akan mengalami hal seperti ini.


"Sudah selesai." Akhirnya Cino pun selesai mengobati kaki Nami yang lecet. Ia juga mengoleskan krim pereda sakit di kaki Nami.

__ADS_1


Nami menarik napas dalam-dalam. Ia melihat ke langit-langit kamar dengan perasaan lelah. Sedang Cino beranjak bangun lalu meletakkan obat oles di meja kamar. Ia membuat minuman hangat untuk Nami.


"Kakak, di sini panas sekali." Nami pun mengeluhkan keadaan sekitar yang panas.


__ADS_2