
Cino tersenyum kepada ibunya. Ia lalu mencium pipi sang ibu. "Terima kasih, Bu. Terima kasih telah pengertian kepada Cino." Cino pun berterima kasih.
Pada akhirnya ibu Cino tidak dapat berharap banyak sejak sel kanker pada tubuh putranya dinyatakan aktif. Ia membebaskan Cino untuk meraih kebahagiaannya. Dan tidak memberi larangan untuk menjalin hubungan dengan Nami. Karena sang ibu tahu jika menuntut Cino malah hanya akan memperburuk kondisi putranya. Maka dari itu ibu Cino membebaskannya.
Malam harinya...
Jam menunjukkan pukul tujuh waktu ibu kota dan sekitarnya. Cino pun baru sampai di sebuah laboratorium yang bekerja sama dengan pihak kampus. Tampak Cino memasuki kawasan rumah sakit swasta yang megah. Yang mana ia segera pergi ke area laboratoriumnya. Sesampainya di sana ia pun melihat Nami yang sedang sibuk meneliti obatnya.
Cino melihat Nami dari balik jendela kaca yang ada di sana. Ia juga melihat daun sirsak yang begitu banyaknya. Ya, Nami memformulasikan daun sirsak sebagai pengobatan Cino. Yang mana malam ini adalah malam penelitian terakhirnya.
"Sempurna. Hasilnya sungguh luar biasa."
__ADS_1
Tabung-tabung kecil berisi cairan hijau akan ekstrak dari daun sirsak itu menjadi saksi Nami yang bekerja seharian di laboratorium rumah sakit. Pada akhirnya Nami pun tersenyum senang kala berhasil mengekstrak daun sirsak itu. Ia pun melepas kaca mata pelindungnya. Yang mana sesaat kemudian ia melihat Cino sudah menunggunya di depan.
"Sayang?"
Semringahlah raut wajah Nami saat melihat Cino sudah berada di depan ruangannya. Ia pun segera keluar dari laboratorium untuk menemui kekasihnya. Cino sendiri tampak tidak bisa menahan rasa harunya. Saat Nami keluar ruangan, saat itu juga Cino langsung memeluknya. Ia pun tanpa sadar menitikkan air mata.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Ken. Satu minggu ini kau sibuk sampai malam di laboratorium hanya untuk aku. Nami, maafkan aku yang merepotkanmu." Cino pun tak bisa menahan rasa harunya.
Cino mengangguk dalam pelukan. Ia kemudian mencium kening Nami lama sekali. Nami pun menerimanya dengan penuh kerelaan. Laboratorium rumah sakit menjadi saksi sepasang insan yang sedang melepas rindu. Tampak beberapa perawat ada yang melihatnya.
"Em, Sayang." Nami akhirnya tersadar jika masih berada di depan laboratorium rumah sakit.
__ADS_1
Cino melepaskan pelukan. "Ada apa?" tanya Cino kemudian.
"Em, aku sudah berhasil mengekstrak daun sirsaknya. Nanti kau bisa meminumnya mulai esok hari. Tapi jangan mengeluh ya. Rasanya memang pahit, tapi hasilnya sungguh luar biasa. Mau kan mencobanya lebih dulu?" tanya Nami kepada Cino.
Cino mengangguk. Ia pasrah terhadap permintaan Nami.
"Taksiranku jika dikonsumsi rutin, tujuh sampai sembilan bulan sudah bisa sembuh dari penyakit itu. Tentunya tanpa efek samping karena obat ini berasal dari tumbuhan. Semoga saja nanti bisa lebih cepat pulihnya." Nami berharap. Ia tersenyum kepada Cino.
Cino mengangguk. "Aku akan mencobanya. Selama apapun aku akan mencobanya." Cino pun bersemangat untuk sembuh.
Pada akhirnya kekuatan cinta itu membuat Cino semangat terbebas dari leukimia yang dideritanya. Entah bagaimana hasilnya, ia akan mencobanya lebih dulu. Ia tidak ingin mengecewakan Nami yang sudah bersusah payah untuknya. Karena Cino menyayangi Nami. Ia mencintai kekasihnya.
__ADS_1