PENGANTIN UNTUK KAKAK

PENGANTIN UNTUK KAKAK
Di Belakang


__ADS_3

Sial! Dia ini mengganggu saja!


Ketidakpekaan Arya akhirnya membuat Cino kesal sendiri. Pada akhirnya pembicaraannya bersama Nami harus terhenti. Cino kesal tapi tidak bisa meluapkan kekesalannya. Ia masih menjaga image-nya di hadapan Nami.


Benar kata Nami. Harusnya aku pindah tempat saja tadi.


Cino menyesal karena tidak menuruti perkataan Nami yang ingin pindah restoran. Tapi saat melihat wajah Nami, entah mengapa ia tidak jadi kesal. Wajah Nami yang manis dan imut itu mampu membuat amarah di hati Cino terkikis perlahan. Cino pun jadi menyadari jika ia membutuhkan Nami. Sama seperti bunga membutuhkan hujan.


"Kakak Besar, apakah semalam Nara main ke rumahmu? Dia tidak pulang."


Nami sendiri membuka pembicaraan di tengah suasana yang canggung. Ia tersenyum kepada Cino sambil terus menyantap makanannya. Ia menunggu Cino menjawab pertanyaannya. Ia juga menunggu Cino mengambil keputusan apakah akan segera pulang atau tidak. Cino pun tampak mengerti apa yang Nami maksudkan.


"Setelah makan kita langsung pulang saja ya."

__ADS_1


Pada akhirnya Cino pun mengajak Nami pulang. Pembicaraan kali ini harus tertunda karena Arya datang. Arya pun tampak menyadari keadaan. Tapi entah mengapa ia tidak peduli. Mereka pun akhirnya berbincang sampai dirasa kenyang. Barulah Cino mengantarkan Nami pulang.


Esok harinya...


Cuaca tampak terik hari ini. Di kampus Nami pun terlihat beberapa mahasiswa sudah keluar dari kelasnya. Mereka telah mengakhiri jam mata kuliah ke duanya. Begitu juga dengan Nami yang baru saja beranjak dari kelasnya. Tapi tiba-tiba dering ponsel menyadarkannya.


"Siapa ya?"


Tanpa sepengetahuan Cino, Arya mencari tahu tentang Nami. Ia pun kini menunggu Nami di parkiran kampusnya. Arya ingin menemui Nami hari ini. Ia bahkan sudah mengetahui nomor ponsel Nami. Tidak seperti Cino yang belum mengetahuinya. Entah dapat dari mana informasi tentang Nami itu, Arya segera menelepon Nami saat tiba di kampusnya. Dan kini Arya menunggu Nami datang menghampirinya.


Mereka baru saja mengakhiri sambungan teleponnya. Tampak Nami yang heran sendiri saat ada seorang pria mengaku bernama Arya yang ingin bertemu dengannya. Nami yang kebetulan sudah mengakhiri jam kuliahnya itupun lekas menuju parkiran kampus. Ia ingin membuktikan sendiri siapa yang meneleponnya. Dan saat sampai di sana, saat itu juga Nami terbelalak seketika.


Ternyata benar.

__ADS_1


Hatinya diselimuti tanda tanya besar saat melihat Arya tengah menunggunya di depan mobil. Nami pun segera menghampiri Arya sambil menggandeng tasnya. Ia juga terlihat mendekap beberapa buku di dada. Nami menghampiri Arya yang telah menunggunya.


"Kak Arya?"


Sontak Arya pun menyadari kehadiran Nami. Ia tersenyum lalu menyapa Nami.


"Halo, Nami. Kudengar kau sedang magang di salah satu rumah sakit. Bolehkah aku mengantarkanmu ke sana?" tutur Arya terus terang.


Saat mendengarnya, saat itu juga Nami semakin heran dengan Arya. Mengapa Arya bisa mengetahui nomor ponselnga? Dan mengapa Arya bisa tahu jika Nami sedang magang di rumah sakit? Apakah Nara yang memberitahukannya?


"Em ...." Nami pun jadi bingung sendiri.


Arya dan Nami sempat berbincang sebentar di restoran. Dan ternyata perbincangan yang sebentar itu membuat Arya tertarik untuk mendekati Nami. Arya seperti tidak mengindahkan Cino yang datang terlebih dulu. Ia seperti tak peduli akan perasaan temannya. Arya bak pria yang tak peka.

__ADS_1


__ADS_2