
Pukul sepuluh malam waktu sekitarnya...
Suasana perumahan tampak sepi kala memasuki jam sepuluh malam. Nami pun tampak tertidur pulas di kamarnya. Ia melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Gadis berpiyama winnie the pooh itu tampak memeluk bantal guling dengan motif yang sama. Tak lama seseorang pun datang mengetuk pintu kamarnya.
"Nami, buka pintunya, Nami!"
Ialah Nara yang mengetuk pintu kamar Nami malam ini. Wajahnya terlihat terburu-buru sekali. Ia pun berulang kali mengetuk pintu agar lekas dibukakan. Gadis yang merupakan kekasih dari Cino itu pun mulai tersadarkan.
"Siapa?"
Nami masih memejamkan matanya. Ia pun beranjak bangun sambil mengucek matanya. Ia lekas menuju pintu untuk membukakannya. Pintu pun akhirnya terbuka dan terlihatlah sepupunya yang sudah menunggu. Nami pun segera menanyakannya.
"Nara, ada apa?" tanya Nami sambil menyatukan nyawanya.
"Nami, kau tidak tahu apa yang terjadi pada kakak besar?" tanya Nara kemudian.
__ADS_1
"Kakak besar? Memangnya kenapa?" tanya Nami yang heran.
"Astaga." Nara pun mengusap kepalanya. "Kakak besar dilarikan ke rumah sakit. Dia di IGD sekarang," terang Nara.
"Apa?!!!" Saat itu juga Nami terkejut seketika. Ia tak menyangka jika akan mendengar kabar ini dari Nara.
"Cepat ganti pakaianmu. Kita ke sana sekarang!" Nara meminta.
Nami mengangguk. Ia kemudian segera mengganti pakaiannya. Sedang Nara menunggu di bawah sambil memanaskan mobilnya. Nami pun mengambil dompet beserta ponselnya. Ia lekas pergi menemui Nara untuk ke rumah sakit bersama.
Sayang, apa yang terjadi padamu?
Sesampainya di rumah sakit...
Nami berlari bersama Nara menuju ruang rawat inap Cino. Sesampainya di depan ruang rawat inap pun, para pengunjung rumah sakit sudah tidak diperbolehkan lagi untuk memasuki kamar pasien. Hingga akhirnya Ken keluar dan mempersilakan Nami dan Nara untuk masuk ke dalam. Barulah para penjaga rumah sakit memperbolehkannya.
__ADS_1
Nami pun lekas masuk untuk melihat keadaan Cino. Saat itulah ia tak menyangka jika akan melihat Cino terbaring lemah tak berdaya. Kekasihnya itu harus sampai diinfus dan mendapatkan selang udara. Nami pun jadi bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya. Hingga akhirnya Ken mengajak Nami duduk bersama lalu menceritakannya.
Ken duduk di sofa ruang rawat kakaknya. Begitu juga dengan Nami dan Nara yang ikut duduk di sana. Tampak Ken yang menghela napasnya.
"Kakak ... kakak mengalami kecelakaan." Ken mulai bicara.
"Apa?!" Nami pun terkejut seketika.
"Ayah yang tahu. Ayah yang ditelepon warga yang menolong kakak. Tapi kakak tidak ingin langsung ke rumah sakit. Kakak minta dibawa pulang saja. Jadi dia pun diperiksa di rumah. Tapi saat dokter memeriksanya, dokter bilang kakak harus segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan." Ken menuturkan dengan nada yang sedih.
"Apakah kecelakaannya parah?" tanya Nami segera. Ia tampak amat khawatir.
Ken menggelengkan kepalanya. "Kecelakaannya tidak sampai membuat kakak luka-luka. Hanya memar saja. Tapi karena memar itulah yang membuat kakak harus dibawa ke rumah sakit," tutur Ken lagi.
Nami jadi terheran. "Memangnya?" Nami pun bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kakak ... kakak menderita leukimia," terang Ken yang membuat Nami terdiam seribu bahasa.
Nami terkejut. Matanya terbelalak hebat saat mendengar Ken menceritakan penyakit yang diidap Cino. Detak jantungnya pun tak stabil karena tak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. Hingga akhirnya butiran kristal bening itu keluar dari matanya. Nami menangis dalam diamnya.